DUNIAEKSPRESS.COM (9/10/2019)- Menteri Pendidikan Mesir mengumumkan dalam konferensi pers yang digelar Senin (7/10), bahwa pemerintah Mesir telah memecat lebih dari 1.000 guru karena diduga berafiliasi dengan organisasi teror, .

Mengutip dari Middle East Monitor Tarek Shawki mengatakan bahwa para guru dipecat karena hubungan mereka dengan Ikhwanul Muslimin dan ia bersumpah untuk menyelidiki para guru yang tidak layak bekerja dan ia berjanji untuk membersihkan sekolah-sekolah Mesir dari ide-ide yang merusak dan pandangan yang secara politis ekstrem.

Al-Masry Al-Youm melaporkan bahwa beberapa telah dijatuhi hukuman mati sementara yang lain adalah “buron” di luar Mesir.

Baca Juga:

DERITA MUSLIMAH UIGHUR DIPERKOSA SAMPAI DIPAKSA ABORSI

SEKOLAH ISLAM AKAN SEGERA DIBUKA DI BOSTON

Media Al-Ahram yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa Shawki akan mengumumkan kriteria baru untuk menunjuk guru hari ini dan bahwa ia akan meluncurkan portal elektronik untuk orang-orang yang melamar pekerjaan di sekolah.

Pemerintah akan mempekerjakan 120.000 guru untuk menebus kekurangan di sekolah-sekolah negeri.

Otoritas Mesir menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris pada tahun 2013 dan sejak itu setiap penentang pemerintah dan warga negara lainnya dituduh memiliki atau mendanai kelompok itu, bahkan jika mereka tidak aktif secara politik.

Sejumlah orang telah ditangkap dan dituduh menjadi anggota Ikhwan meskipun mereka berasal dari partai yang kritis terhadap kelompok tersebut. Ziad Al-Alimi, mantan anggota parlemen untuk Partai Sosial Demokrat Mesir, ditangkap sebagai bagian dari kasus Alliance of Hope pada bulan Juni namun Al-Alimi adalah pengkritik organisasi yang blak-blakan.

Sejumlah pemimpin puncak aliansi itu berada di penjara dan dijatuhi hukuman mati atas berbagai tuduhan, termasuk kegiatan teror.

Tahun lalu Human Rights Watch mengkritik pihak berwenang Mesir karena menggunakan kontraterorisme dan hukum darurat negara untuk “mengadili secara tidak adil” para pendukung aksi damai.

Pengusiran massal para guru datang dengan latar belakang gelombang protes yang telah terjadi di seluruh negeri sejak 20 September, menyerukan presiden untuk mundur di tengah tuduhan korupsi dan salah penanganan ekonomi.

Dalam seminggu setelah demonstrasi dimulai, hampir 2.000 orang ditangkap, termasuk politisi, pengacara, aktivis, dan mantan tahanan.

Para pengamat telah menunjukkan bahwa cara pemerintah Sisi bereaksi terhadap protes membuktikan bahwa ia terguncang ke inti oleh ancaman terhadap pemerintahannya.