DUNIAEKSPRESS.COM (17/10/2019)- Arab Saudi telah menangkap aktivis muda Abdul Aziz Al-Audah atas sebuah tweet yang mendukung perjuangan Palestina, Abdullah Al-Audah, putra dari pengkhotbah terkemuka Salman Al-Audah, mengungkapkannya pada hari Senin (14/10).

“Keluarga itu dikejutkan oleh penahanan Abdul-Aziz Al-Audah atas tweet yang mendukung perjuangan Palestina,” tweet Abdullah, seperti yang dikutip MEMO, Rabu (16/10/2019).

“Penahanan ini mengungkap niat jahat sehubungan dengan aksi penahanan dan penindasan di Arab Saudi. Bahkan tweet mendukung Palestina dan mempertahankannya [menjadi ilegal].” tambah Abdullah.

Baca Juga:

OPERASI MATA AIR PERDAMAIAN OLEH TURKI DAN KOALISINYA, SDF SEGERA MINTA BANTUAN REZIM

OPERASI MILITER DI SURIAH, ERDOGAN: KAMI TAK KHAWATIR SANKSI

Pengguna Twitter di Arab Saudi menunjukkan dukungan mereka untuk Abdul-Aziz dan menyebabkan namanya menjadi tren di kerajaan.

“Aktivis #Saudi Abdul Aziz al-Odah baru-baru ini ditangkap oleh otoritas Saudi karena mentwet dalam mendukung #Palestine,” kata Shujaat Ali Quadri dalam akun twitternya.

“Blogger Saudi, Mohammed Saud, yang mengunjungi para pejabat Israel baru-baru ini, terus tweet untuk mendukung Israel dan menyerukan normalisasi,” tambanya.

Aktivis oposisi Omar Al-Zahrani menyerukan agar para aktivis di kerajaan itu tidak men-tweet tentang masalah-masalah publik, mendukung perjuangan Palestina atau mengkritik pengadilan kerajaan, Turki Al-Sheikh dan Saud Al-Qahtani karena takut dikirim ke penjara.

Negara-negara Arab, kecuali Yordania dan Mesir, tidak secara resmi mengakui Negara Israel dan secara terbuka mengutuk pendudukan Israel atas wilayah Palestina sejak negara itu dibentuk pada tahun 1948. Namun, selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi banyak kunjungan rahasia ke Israel oleh para pemimpin seperti Pangeran Mahkota Saudi Mohamed Bin Salman dan setiap tahun konsep normalisasi hubungan dengan Israel menjadi lebih berani dan lebih tegas.

Pada bulan Juli, para menteri luar negeri Israel dan Bahrain mengadakan pertemuan publik di AS, menandai insiden pertama yang secara terbuka terjadi antara negara Teluk dan Israel.