Duniaekspress.com, 16 Oktober 2019. Turki segera menggelar serangan ofensif ke wilayah Kurdi di Suriah bagian utara dan timur dengan kode operasi  mata air perdamaian, melewati perbatasan Turki-Kurdi setelah Amerika menarik mundur kekuatannya dari wilayah tersebut. Amerika yang sebelumnya berkoalisi dengan SDF (kurdi) dalam memerangi IS /ISIS, menyatakan tidak berminat menggelar kekuatan militernya di wilayah tersebut setelah wilayah IS /ISIS berhasil direbut. Kesempatan ini digunakan oleh Turki didukung oleh FSA pro Turki untuk menduduki wilayah Kurdi di perbatasan negara tersebut dengan alasan bahwa kekuatan YPG yang sekarang menjelma menjadi SDF di Suriah kerap mengganggu keamanan perbatasan Turki. Turki menganggap YPG sebagai organisasi teroris, demikian juga dengan Uni Eropa menganggap organisasi tersebut sebagai kelompok teroris.

Serangan yang dimulai pada 9 Oktober 2019 mulanya ditujukan untuk menguasai zona perbatasan sejauh 30 Km, dengan tujuan membuat “zona aman”, selain membentengi negaranya dari serangan teroris komunis juga menyediakan lahan bagi pengungsi Suriah. Dalam beberapa hari Turki berhasil menguasai  41 kota, diantaranya Tal Abyad, Suluk, dan Ras al Ayn serta memblokir jalan raya M4. Meskipun beberapa berita mengatakan bahwa SDF dapat merebut kembali Ras al Ayn, namun pinggiran kota itu praktis dikuasai koalisi Turki.

Amerika melalui Donald Trump pada senin (14/10) menyerukan sangsi boikot atas agresi Turki ini, namun Erdogan menegaskan bahwa tak ada yang dapat mencegah kekuatan Turki untuk menghancurkan kekuatan teroris ini, dan negaranya tidak khawatir atas sangsi tersebut.

Beberapa jam setelah amerika memutuskan menarik pasukannya, SDF segera melakukan pembicaraan dengan bashar assad untuk mencegah agresi militer Turki. Kekuatan rezim segera menyambut SDF karena memiliki ambisi untuk menguasai kembali kantung-kantung produksi minyak selain ambisi untuk merebut kembali Afrin dari turki.

Pasukan rezim di wilayah Kurdi, setengah hati

Angkatan bersenjata rezim assad yang didukung rusia memasuki wilayah-wilayah Kurdi untuk memperkuat SDF dari terjangan pasukan Turki yang didukung FSA. Namun bantuan ini bersifat setengah hati dikarenakan kurang tegasnya Rusia sebagai penolong utama, dan kekhawatiran rezim akan perang terbuka yang lebih besar terhadap Turki. Contohnya kemarin, sumber SOHR menyebutkan bahwa di desa Hoshan, 2 km dari kota Ayn al Issa, pedesaan Raqqah, pasukan FSA memasuki wilayah itu dan terjadi bentrokan sengit terhadap pasukan SDF yang didukung rezim, namun segera pasukan rezim menarik diri di tengah pertempuran. Perjanjian dengan rezim sebenarnya merugikan SDF karena pihak rezim tidak mengakui adanya pemerintahan otonomi oleh SDF.

(RF dari berbagai sumber)

Baca juga,

OPERASI MILITER DI SURIAH, ERDOGAN: KAMI TAK KHAWATIR SANKSI