DUNIAEKSPRESS.COM (16/10/2019)- Puluhan orang tewas mengenaskan dalam kerusuhan Wamena. Pria dan wanita dewasa merenggang nyawa tanpa dosa. Bahkan anak kecil yang tak mampu melawan pun jadi korban kejahatan dan kebiadaban. Tak seorang pun menyebut peristiwa itu dengan sebagai tindakan teror yang dilakukan teroris. Seolah-olah kata teroris hanya boleh disematkan kepada muslim saja.

Sebutan ‘kera’ kepada suku papua dianggap rasis, sedangkan pembunuhan mereka kepada anak bangsa ini dari suku lain tidak dianggap dosa. Bahkan seolah dihalalkan. Dibolehkan. Seolah pembantaian mereka seperti sajen yang dikorbankan untuk kemarahan papua. Mereka dikorbankan untuk memenuhi rasa amarah papua.

Ada apa dengan papua? Siapa yang bermain dengan kasus papua? Siapa yang mengontrol konflik-konflik di papua. Tidak mungkin ada gelombang protes terorganisir kecuali ada yang mengorganisir. Tidak mungkin hal itu terjadi alami. Sedangkan gerakan separtis papua adalah gerakan yang dibina dan didanai negera-negara tetangga yang tak tahu adab bertetangga.

Amerika adalah Penjahat Itu

Sudah maklum dan rahasia umum kalau Amerika adalah negara paling berhasyrat mengontrol dunia dan mengeruk kekayaan berbagai negara guna dibawa ke negerinya. Masuknya papua ke dalam NKRI bukan tanpa persetujuan Amerika. Papua dulu bernama IRIAN yang artinya Ikut Republik Indonesia Anti Netherland.

Baca juga:

DOKTER ISRAEL TERLIBAT PENYIKSAAN TAHANAN PALESTINA

Dahulu. Ketika Soekarno menjadi presiden dengan brilian dia melihat ekspansi komunisme Soviet dan China ke Asia Tenggara. Soekarno langsung berangkat menemui presiden Amerika ketika itu, Kennedy. Dalam pertemuan diplomatik itu, Soekarno berhasil menyakinkan Amerika untuk mendukung Resolusi PBB setuju Indonesia mengambil papua.

Lalu bergeraklah militer Indonesia pada operasi perebutan IRIAN barat dan sukses pada operasi trikora dan dwikora untuk mengambil papua. Tentu persetujuan Amerika Indonesia ambil Papua tersebut tidak murah, Amerika minta ‘jatah’ emasnya papua sampai habis untuk amerika. Soekarnosetuju namun hanya grassberg, sedangkan eastberg, oksibil dan tambang lainnya tidak. Dan perjanjian itu disepakati aset grassberg tersebut sampai 2045 dalam catatan federal reserve sebagai underlaying dollar.

Gilanya. Pada tahun 2017 awal tahun ada manuver politik, indonesia ambil 51% “katanya” untuk kedaulatan. Namun hal itu dipahami lain oleh Amerika. Alarm Amerika, Red Alert, menyala. Indonesia masuk nation threat US atas tindakannya ini. Senator Mc Cain menegur langsung dengan surat dan mengatakan indonesia nakal. Mc Cain adalah senoatr Arizona, tempat Freeport Mc Morran. Indonesia telah dianggap menggangu pendapatan negara bagian Arizona. Padahal deal operation IRIAN jelas sebagai pegangan Amerika ambil emas grasberg. Maka. Apakah adakah kaitannya dengan operasi intelijen yang mungkin dilaksanakan di papua untuk membangun instabiltas di papua?

Betul, Sejak pertengahan 2017 Amerika gerah dan mulailah instabilitas papua meningkat. Amerika-kah yang bergerak atau memang konflik lokal tak ada unsur asing? Bahkan ketika bulan Desember tanggal 2, bendera bintang kejora gerakan papua merdeka banyak berkibar di berbagai negara. Siapa yang mainkan? Lalu, Penembakan dan pembunuahan pekerja BUMN dengan menggunakan senjata “baru”, siapa yang sokong? Ini belum pernah dituntaskan kepolisian. Kenapa, takut?

Perlu dicatat, kabut asap di Kalimantan dan Sumatra aja adalah kerjaan manusia. Begitu pula teriak referendum masyarakat papua pasti kerjaan orang-orang tertentu dan pasti ada yang ngajari? Kekerasan ini pasti ada hubungannya dengan Indopasific USA vs OBOR China.

Ingat. Referendum Timor Timur lahir dari pancingan konflik horizontal lalu tetiba PBB datang dengan pasukan Unimed-nya dan sejurus kemudian Referendum diadakan, lepas Timor Timor. [ ]