Abu Bakar Al-Baghdadi memperluas pengaruhnya dengan menggunakan kekuatan senjata, kemudian dengan kenaifan orang-orang yang tertipu

Baca sebelumnya, BEBERAPA KESALAHAN SYAR’I DALAM MENDEKLARASIKAN KHILAFAH DAULAH ISLAMIYAH (ISIS)

Duniaekspress.com. (18/10/2019). Syaikh Abdul Mundzir Asy-Syinqithi berkata, “Beginilah keadaanya, sesungguhnya Daulah Abu Bakar Al-Baghdadi dengan segala aibnya, terlihat besar dimata orang-orang polos. ‘Orang yang kerdil akan terlihat besar di mata orang kerdil pula, orang besar menjadi kecil di mata orang besar’

Sesungguhnya Abu Bakar Al-Baghdadi tidak pernah berhasil memperluas pengaruhnya melainkan dengan menggunakan kekuatan senjata, dan dengan kenaifan orang-orang yang tertipu yang mengira bahwa setiap yang putih adalah sepotong lemak (gaji), dan setiap yang merah adalah sepotong daging. Sangat sulit bagi mereka untuk menerima, bahwa Daulah yang mereka pertaruhkan nyawa mereka dengan hijrah kepadanya, ternyata bukanlah Daulah Islamiyah sebagaimana yang mereka impikan. Itu berarti kemenangan yang dahulu mereka sangka telah terjadi ternyata hanyalah ilusi belaka.

Tsa’lab pernah ditanya tentang makna hawa (nafsu), lantas ia berkata, “Mata menjadi buta untuk bisa melihat keburukan-keburukannya, dan telinga menjadi tuli untuk mendengar celaan(kritikan)”.

Kemudian ia berkata, “Saya mendustakan mata saya dalam melihat, padahal mata itu selalu jujur dan saya memperdengarkan telinga saya terhadapmu untuk mendengar (kebaikan) yang sebenarnya tidak ada.”

Anehnya, kebanyakan pasukan dan simpatisan Daulah Abu Bakar Al-Baghdadi tidak berpegang pada Daulah mereka karena takjub kepada Abu Bakar Al-Baghdadi dan politiknya. Mereka hanya bercita-cita agar Daulah mereka benar-benar menjadi daulah Islamiyah.

Beginilah lisan hal mereka mengatakan : “Berharaplah, Jika ia (daulah) menjadi haq itulah sebaik-baik harapan. Jika (daulah) tidak (menjadi sesuatu harapan) maka setidaknya kita pernah hidup di dalamnya dalam waktu yang penuh kebahagiaan”.

Sebagaimana orang yang sedang tenggelam, ia berpegangan pada sehelai rumput agar selamat. Begitu pula para pencari daulah islamiyah. Mereka bergantung pada Daulah Abu Bakar Al-Baghdadi, berada dalam intinya atau pinggirannya. Supaya tidak melewatkan kesempatan sedikit pun untuk mewujudkan daulah mereka.  Seakan-akan yang paling penting bagi mereka adalah mewujudkan sebuah wadah dengan nama “Daulah Islamiyah” tanpa melihat keadaan dan sifat sebenarnya.

Mereka adalah para pemuda yang telah meninggalkan keluarganya dan tanah air mereka untuk berjuang di jalan Allah dan menjaga kehormatan kaum Muslimin. Tetapi hari ini yang mereka lindungi dan mereka jaga tiada lain hanyalah politik Abu Bakar Al-Baghdadi. Bahkan mereka rela memerangi kaum Muslimin demi mewujudkan kepentingan politik ini. Oleh karena itu, Daulah hari ini tidak lebih hanya sebagai gelanggang pembantaian bagi para pemuda itu.”

 

Bersambung ….

 

Baca juga, JUBIR ISIS (AL-ADNANI) MEMBATASI ISLAM DAN WALA’ IMAN DALAM LINGKUP YANG SANGAT SEMPIT