DUNIAEKSPRESS.COM (23/10/2019)- Sejumlah wanita Palestina kepung penyeberangan Erez yang dikendalikan Israel di Jalur Gaza, pada Selasa pagi (22/10) untuk menyerukan diakhirinya blokade.

Diorganisir oleh Komite Tinggi untuk the Great Return March, demonstrasi tersebut menyoroti penderitaan para wanita di Jalur Gaza sebagai akibat dari pengepungan Israel selama 12 tahun yang berlangsung di Gaza.

Huda Hassan, seorang lulusan universitas dan aktivis mengatakan: “Sekitar 17.000 hingga 18.000 mahasiswa lulus setiap tahun yang belum dapat menemukan pekerjaan. “Bahkan sektor industri dan produksi, yang dulu menawarkan lebih dari 120.000 peluang kerja, sekarang tidak menawarkan lebih dari 7.000 peluang,” tambahnya.

Sektor konstruksi secara praktis mandek karena ketidakmampuan untuk mengimpor peralatan yang diperlukan. Konstruksi digunakan untuk menawarkan sekitar 70.000 peluang kerja.

Baca Juga:

AGEN ASING SIKSA PARA TAHANAN HAMAS DI PENJARA SAUDI

Sementara itu Perwakilan komite, Iktimal Hamad, mengatakan Wanita Palestina adalah korban utama pengepungan Gaza. Dia adalah ibu, istri, anak perempuan, guru, murid, dokter dan pasien. Dia menderita semua aspek blokade ilegal.

“Dia adalah seorang istri bagi suami yang terbunuh dan seorang ibu bagi putra yang terbunuh. Namun dia, dirinya sendiri, adalah target yang sah bagi tentara Israel, namun kami terus memprotes dan berbicara untuk hak-hak kami,” ujar Hamad

Ibu dari Mohammad Mohaysin yang berusia sembilan bulan, yang dilarang oleh Israel untuk menemani bayinya yang sakit dalam perjalanannya ke Tepi Barat yang diduduki untuk mengakses perawatan, menjelaskan kepahitannya karena dilarang menemani sang bayi.

“Saya bukan satu-satunya wanita yang dicegah untuk tidak menemani bayi saya, ada lebih banyak lagi. Namun saya beruntung karena anak saya memiliki kesempatan untuk bepergian dan mendapatkan perawatan, ada ribuan anak yang dicegah untuk bepergian dan puluhan anak meninggal ketika menunggu izin Israel untuk melakukan perjalanan melalui persimpangan ini,” ungkapnya.

Mohammad saat ini menerima perawatan di kota Hebron, Tepi Barat, tempat Palestina Envar Irfaiyye merawatnya sejak 8 Oktober.

“Ibunya memanggil saya dengan video talk lalu kami bicara. Mereka menjadi sangat bahagia ketika mereka melihatnya, semua kerabatnya hadir selama percakapan untuk melihatnya,” kata Envar.

Para pengunjuk rasa menyerukan kepada komunitas internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia untuk membela hak-hak Palestina dan mengakhiri pengepungan Gaza yang tidak adil.