Kondisi mujahidin sebelum Deklarasi Khilafah lebih baik daripada setelah Deklarasi

Baca sebelumnya, PERDAGANGAN ABU BAKAR AL-BAGHDADI DENGAN SLOGAN DAULAH ISLAMIYAH

Duniaekspress.com. (23/10/2019). Syaikh Abul Mundzir As-Syanqithi berkata, “Merupakan hak kita untuk bertanya ; Apa yang telah berubah dari keadaan kaum Muslimin, setelah jama’ah daulah (ISIS) melakukan lompatan-lompatan fenomenal yang membangkitkan semangat para pengikut dan simpatisannya ?

Sungguh, jama’ah daulah (ISIS) sangat fokus pada pencitraan mereka, dan berusaha merealisasikannya dengan cara yang justru melemahkan tujuan aslinya dan menjadikannya semakin jauh dari sebelumnya.

Contoh dari hal ini adalah : Pengumuman “At-Tamaddud” (perluasan wilayah) oleh Abu Bakar Al-Baghdadi, yang diserukan dengan dalih persatuan seluruh Mujahidin di Syam dan Iraq.

Tapi walhasil, langkah ini malah menyulut perpecahan Mujahidin dan menyebabkan terjadinya peperangan diantara mereka. Sungguh, keadaan Mujahidin sebelum pengumuman “At-Tamaddud” oleh Abu Bakar Al-Baghdadi jauh lebih baik dibandingkan setelah pengumuman.

Abu Bakar Al-Baghdadi sama sekali tidak mengevaluasi kekeliruannya yang sudah terjadi. Dia malah semakin menjadi-jadi, dengan mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang khilafah yang bertujuan untuk menyatukan kaum Muslimin. Tetapi kenyataannya, pengumuman khilafah Abu Bakar Al-Baghdadi malah menjadi sebab utama terpecahnya barisan Mujahidin di timur dan barat, dan keadaan Mujahidin sebelum pengumuman khilafah Abu Bakar Al-Baghdadi jauh lebih baik daripada setelah pengumuman ini.

Bai’at yang diserukan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi pada zahirnya adalah seruan untuk kesatuan dan taat kepada Ulim Amri (pemimpin). Tapi pada kenyataannya bai’at ini adalah seruan kepada Mujahidin untuk membatalkan bai’at mereka dan menyeru mereka untuk bermaksyiat pada amir-amir mereka, yang telah lebih dahulu mereka bai’at!

Dalam pernyataanya yang terakhir, Abu Bakar Al-Baghdadi tidak lupa memberikan ucapan selamat kepada para pengikutnya di Afghanistan, Yaman, dan Maghrib Islami (Maroko), yang telah memisahkan diri mereka dari amir-amir (pemimpin) mereka dan mengumumkan bergabung dengannya, bahkan Abu Bakar Al-Baghdadi meminta mereka agar lebih banyak lagi yang membatalkan bai’atnya kepada amir-amirnya.

Tapi mata Abu Bakar Al-baghdadi tertutup untuk melihat Mujahidin Somalia dan jihad mereka dalam memerangi pasukan salib. Hal ini karena mereka tidak mau membai’at Abu Bakar Al-Baghdadi.

Sesungguhnya Daulah Abu Bakar Al-Baghdadi tidak menuntut bai’at yang syar’i, yang mereka tuntut hanyalah ketundukan kepada mereka dengan menggunakan topeng bai’at yang syar’i.

Oleh karena itu, ia mengambil bai’at dengan berbagai bentuk paksaan, tanpa melihat alasan orang yang tidak mau berbai’at.

Inilah cara yang dipakai oleh raja-raja yang berkuasa dengan kudeta (Mutaghallib) dalam mengambil bai’at, yaitu menyumpah manusia untuk ber-iltizam pada bai’at itu dengan sumpah yang memberatkan, seperti : thalaq, pembebasan budak, haji dengan berjalan, bahkan kepada orang yang dilehernya sudah ada bai’at kepada yang lainnya.”

Bersambung …

 

Baca juga, KHILAFAH ADALAH AJARAN ISLAM