Penghapusan ahlul halli wal aqdi dalam tubuh ummat ini oleh daulah (ISIS)

Baca sebelumnya, CARA YANG DIGUNAKAN ADNANI (JUBIR DAULAH ISIS) DALAM MENDEKLARASIKAN KHILAFAH

Duniaekspress.com. (1/11/2019). Syaikh Abul Hasan Rasyid bin Muhammad Al-Bulaidi berkata, “Jika dikatakan Imamah (kepemimpinan) itu sah hanya dengan segilintir orang ahlul ahli wal aqdi, karena susah mengumpulkan mereka semua atau sebagian besar dari mereka untuk bermusyawarah, maka kami katakan, manakala suatu halangan itu tidak dapat diselesaikan, hilang pula hukumnya, sedang komunikasi itu mudah. Maka salahlah orang yang menyangka bahwa usulan (Abu Muhammaad Al-Adnani) –jubir resmi daulah Islamiyah Iraq wa Syam- dengan menyebut seorang khilafah dalam ceramahnya dianggap sebagai musyarawah. Perkara yang menyangkut orang banyak tidak dapat diselesaikan dengan cara begini. Bahkan ia mengakui bahwa dalam mendeklarasikan khilafah itu mereka tidak bermusyawarah, serta memandang aneh musyawarah dari orang yang menuntut musyawarah itu.

Setelah mendapat penjelasan dan melihat tindakan saudara-saudara “Daulah Islam (ISISI)” serta ceramah dari jubir resminya, saya tidak mengerti dari fiqih mana mereka membangun keputusan itu, lalu dengan cara apa pemilihan khilafah dilakukan?

Taruhlah kita katakan dengan menggunakan cara ikhtiyar (pemilihan) nyatanya saudara kita, “Daulah Islamiyah” melalui lisan jubir resminya mengakui bahwa mereka belum bermusyawarah dengan seorang pun di luar dengan anggota daulah. Mari kita fahami konteks kalimat, yaitu perkataanya (abu Muhammad Al-Adnani) berkata, “Dan katakan pada mereka : siapa yang akan kita ajak bermusyawarah?”, menunjukan bahwa ia me-nafi-kan musyawarah itu dengan disengaja, lain halnya ketika ia berkata, ‘perkara ini lebih mendesak jika harus melakukan itu’.

Tindakan ini menafikan ahlul halli wal aqdi dalam tubuh ummat. Yang sebenarnya kami berharap agar diupayakan dan diatur dengan dien. Sama halnya ia tidak menganggap (mengabaikan) pendapat ummat dalam menentukan waktu yang tepat untuk deklarasi khilafah dan siapa yang ditunjuk sebagai khilafah. Hal itu melukai ummat dan pembesar-pembesarnya, serta menggambarkan cara pemaksaan dan penimdasan. Saya yakin bahwa kita tidak berselisih akan wajibnya persatuan. Sungguh, keberkahan itu ada pada kesatuan pendapat bukan pada perbedaan dan perselisihan, yang telah kita paparkan saat membahas tentang, para da’i dan ulama adalah mutiara fiqih dan beberapa nasehat bagi orang yang menghendaki petunjuk.”

Bersambung …

 

Baca juga, ABU BAKAR AL-BAGHDADI ADALAH ORANG PERTAMA YANG BERUSAHA MENCURI PROYEK-PROYEK JIHAD DAN MEMANFAATKANNYA UNTUK KEPENTINGAN DIRINYA