Daulah (ISIS) tidak dipandu oleh ahlul halli wal aqdi dari ummat ini dalam tindakannya

Baca sebelumnya, PENGHAPUSAN AHLUL HALLI WAL AQDI DALAM TUBUH UMMAT INI OLEH DAULAH (ISIS)

Duniaekspress.com. (02/11/2019). Syaikh Abul Hasan Rasyid bin Muhammad Al-Bulaidi berkata, “Fakta menunjukan bahwa “Daulah Islamiyah (ISIS)” tidak dipandu oleh ahlul halli wal aqdi dari ummat ini dalam tindakan-tindakannya. Kita telah mengetahui perkataan Ibnu Taimiyah, ‘Seorang raja tidak bisa menjadi raja hanya dengan kesepakatan satu, dua, atau empat orang saja, melainkan kesepakatan mereka harus dibarengi dengan kesepakatan yang lain.’

Apabila kita mengalah terhadap mereka soal keabsahan orang-orang yang berada di wilayah seorang Imam dalam melakukan akad khilafah, yang merupakan pendapat Al-Mawardi yang menganggap kekhususan kelayakan seseorang dalam mengangkat Khilafah itu adalah kekhususan yang didasarkan pada ‘urf (kebiasaan) dan bukan pada syari’at, maka kami katakan, bersamaan dengan meluasnya negara kaum Muslimin dan perbedaan ‘urf mereka, maka ‘urf-urf mana yang dipakai oleh daulah ISIS, dalam menentukan deklarasi Khilafah, serta siapa yang mempercayakan urusan yang mulia ini kepada mereka?

Jika kami katakan bahwa pelantikan itu dilakukan dengan jalan pemaksaan dan penaklukan, sebagaimana yang dinukil (Jubir resmi daulah ISIS) dari Imam Ahmad Rahimahullah dalam riwayat Abdus bin Malik al-Athor beliau berkata, ‘Barangsiapa memenangkan atas mereka denga pedang, sehingga menjadi khilafah dan dinamai dengan Amirul mukminin. Maka tidak dihalalkan bagi seorang pun yang beriman kepada Allah untuk bermalam, sedang ia tidak menganggapnya sebagai seorang Imam apakah orang itu baik atau fajir’.

Kami Jawab, Pertama : Apakah kalian menghendaki khilafah syuro yang berdasarkan manhaj Nabi, ataukah kerajaan otoriter yang menggigit?

Kedua : Sesungguhnya fakta lapangan menunjukan keterbatasan kekuasaan “Daulah” dan “Khilafah” yang telah di deklarasikan, maka tidak ada alasan untuk pemaksaan sebagaimana yang disampaikan oleh jubir resmi. Telah diketahui bahwa bai’at orang yang berkuasa (dengan jalan paksa), pada hakikatnya perampasan hak Khilafah, bukan merupakan manhaj khilafah rasyidah. Sedangkan pendapat yang mengatakan (wajibnya) bai’at kepada orang yang mengambil kekuasaan dengan jalan paksa adalah darurat, maka hal itu adalah pengecualian dari kaidah umum, dengan tujuan membendung akan munculnya perpecahan ditubuh kaum Muslimin.”

Bersambung …

 

Baca juga, DAULAH (ISIS) SLOGAN-SLOGAN