DUNIAEKSPRESS.COM (4/11/2019)- Konvoi tentara Amerika Serikat (AS) ditembaki kelompok pejuang Suriah pro-Turki di dekat kota Tell Tamer, Suriah timur laut pada hari Ahad (3/11). Rombongan pasukan Washington itu diserang saat mereka hengkang menuju Irak.

Militer Amerika memberi tahu militer Rusia perihal serangan itu. Serangan pejuang Suriah pro-Turki memicu balasan, namun tak ada korban jiwa.

“Melalui garis dekonfliksi (kami menerima) informasi bahwa pasukan Amerika bergerak di jalan M4 menuju perbatasan Irak, 6 kilometer barat Tell Tamer, mendapat tembakan dari wilayah yang dikuasai oleh militan pro-Turki dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA),” kata Kepala Pusat Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah, Mayor Jenderal Yuri Borenkov, seperti dikutip Sputniknews, Senin (4/11/2019).

Baca Juga:

ISIS SINAI NYATAKAN KESETIAANYA KEPADA PEMIMPIN BARU

BOM MOBIL HANTAM SEBUAH PASAR DI TEL ABYAD

Kantor berita negara Suriah, SANA, sebelumnya mem-posting video yang menunjukkan konvoi militer Amerika Serikat bergerak menuju perbatasan Irak.

Pertukaran tembakan terjadi di tengah penarikan pasukan Amerika dari Suriah timur laut, di mana pasukan Amerika telah bertempur bersama milisi Kurdi melawan Islamic State of Iraq and Levant/Syria (ISIL atau ISIS).

Penarikan pasukan atas perintah Presiden AS Donald Trump itu dikecam keras sejumlah pihak, termasuk para politisi dalam negeri Amerika, karena dianggap sebagai lampu hijau dari Trump untuk Turki melakukan invasi terhadap pasukan Kurdi Suriah yang selama ini dianggap Ankara sebagai kelompok teroris.

Sejak penarikan pasukan itu diumumkan, tidak semua tentara AS di Suriah berkemas dan hengkang ke Irak seperti konvoi yang terjadi pada hari Minggu. Beberapa dari mereka telah dikerahkan di tempat lain di Suriah dengan alasan menjaga ladang minyak agar tetap dimiliki Kurdi.

Presiden Trump menjelaskan kepada wartawannya soal alasannya untuk mempertahankan beberapa pasukan Amerika di Suriah. “Saya suka minyak! Kami menjaga minyaknya,” kata Trump pada akhir pekan lalu.

Kontak tembak pada hari Ahad (3/11) belum diakui atau pun dibantah oleh oleh Washington. [Sind]