DUNIAEKSPRESS.COM (12/11/2019)- Ankara mengatakan pada hari Senin (11/11) bahwa mereka telah mendeportasi dua tawanan dari anggota ISIS, seorang Jerman dan seorang Amerika, memulai sebuah program untuk memulangkan para tahanan yang telah menyebabkan gesekan dengan sekutu NATO-nya sejak melancarkan serangan di Suriah utara.

Ankara mengatakan telah menangkap 287 gerilyawan di timur laut Suriah dan sudah menahan ratusan tersangka Negara Islam lainnya. Ia menuduh negara-negara Eropa terlalu lambat untuk mengambil kembali warga negara yang bepergian untuk berperang di Timur Tengah.

Sekutu khawatir bahwa gerilyawan ISIS dapat melarikan diri sebagai akibat serangan Turki terhadap milisi Kurdi Suriah yang telah menahan ribuan pejuang kelompok itu dan puluhan ribu anggota keluarga mereka.

Baca Juga:

PENDIRI WHITE HELMETS MENINGGAL DI ISTAMBUL

LAWAN ISLAMOPHOBIA, RIBUAN ORANG TURUN KEJALAN DI PRANCIS

Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan pekan lalu Turki akan mulai mengirim militan ISIS asing kembali ke negara asal mereka mulai hari Senin, bahkan jika negara-negara asal para pejuang telah mencabut kewarganegaraan mereka.

Juru bicara kementerian Ismail Catakli mengatakan satu orang Amerika dan satu orang Jerman dideportasi pada Senin. Dia tidak menyebutkan secara spesifik ke mana mereka dikirim, meskipun Turki telah berulang kali mengatakan para tahanan akan dikirim ke negara asal mereka.

23 lainnya yang akan dideportasi dalam beberapa hari mendatang semuanya berasal dari Eropa, termasuk orang Denmark yang diperkirakan akan dikirim ke luar negeri pada hari Senin, serta dua warga negara Irlandia, sembilan warga Jerman lainnya dan 11 warga negara Prancis.

“Upaya untuk mengidentifikasi kewarganegaraan pejuang asing yang ditangkap di Suriah telah selesai, dengan interogasi mereka selesai 90% dan negara-negara terkait diberitahu,” kata Catakli, menurut kantor berita pemerintah Anadolu. [reuters]