Orang yang tidak berbai’at kepada Jama’ah Daulah mereka hukumi Murtad

Duniaekspress.com. (17/11/2019). Syaikh Abu Firas As-Suri Hafizhahullah –Saat wawancara dengan wartawan Bilal Abdul Karim- “Para anggota jama’ah daulah –Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, dan saya berharap semoga Allah menunjuki mereka kepada kebenaran- membunuh dengan dasar yang masih syubhat (tidak jelas), dengan mengira bahwa fulan telah murtad. Engkau akan mendapati seorang muslim yang berpuasa, melaksanakan sholat dan jihad di jalan Allah, hanya lantaran ia tidak berbai’at kepada mereka, ia dihukumi murtad.

Saat Abu Bakar r.a. menjabat sebagai khilafah, ada beberapa orang yang tidak berbai’at kepadanya. Saad bin Ubadah r.a. adalah shahabat senoir yang tidak berbai’at kepadanya, dan Abu Bakar r.a. tidak memerintah untuk membunuhnya. Di sana masih banyak lagi shahabat-shahabat yang tidak berbai’at kepada khulafa’ ar-Rasyidin dan mereka tidak dibunuh.

Ya, hukuman pidana (hudud) adalah rahmat. Ketika kita memotong tangan pencuri, kita memotongnya bukan karena dendam, namun untuk mencegahnya dari mencuri kembali, dan menjadi pelajaran bagi yang lain. Ketika seorang penzina laki-laki atau perempuan dirajam maka hal itu sebagai bentuk kasih sayang buat masyarakat, supaya kekejian itu tidak menyebar.

Namun, syari’at minta segala sesuatu harus ada dasarnya. Syari’at meminta dalam pembuktian tuduhan berzina, harus ada empat orang saksi. Bukan hanya sekadar pengakuan dari satu orang, bahwa fulan atau fulannah telah berzina kemudan di rajam.

Sekarang ini muncul fatwa baru dari “Daulah ISIS” bahwa seluruh istri Mujahidin adalah pezina. Berarti kita harus merajam mereka semua. Apakah hal ini dikatakan oleh seseorang yang berakal, terlebih ia adalah orang yang mengaku Islam?.

Perkaranya sama sekali bukan seperti itu. Lalu, mengapa kita memperlebar ruang penerapan hudud (hukum pidana), melebihi aturan Islam yang komprehensif dan lengkap.

Allah memerintahkan untuk bersifat kasih sayang, namun mereka tidak kasih sayang. Allah melarang mengambil cukai, namun mereka mengambil cukai. Allah melarang membegal, namun mereka melakukan begal. Allah memerintahkan supaya tidak membunuh kecuali yang berhak, namun mereka membunuh orang yang statusnya masih syubhat. Allah memerintah supaya tidak menakuti kaum muslimin, namun mereka menakutinya. Di sana banyak sekali perkara agama yang mereka lupakan. Agama bukanlah tambalan, bukan sekedar mengambil dari agama yang sesuai dengan hawa nafsu saja. Dien ini adalah menaati Allah ta’ala dalam semua perintah-Nya.”

Bersambung …

 

Baca juga, APAKAH PEMBAI’ATAN ABU BAKAR AL-BAGHDADI SEBAGAI KHILAFAH ADALAH SAH DAN WAJIB BERBAI’AT KEPADANYA ?