DUNIAEKSPRESS.COM (21/11/2019)- Terkait penutupan kantor berita dan berbagai kantor instansi Palestina di Al-Quds, gerakan Perlawanan Islam Hamas menegaskan bahwa harus lepas dari perjanjian dan koordinasi keamanan dengan penjajah Israel, serta membebaskan tangan rakyat Palestina untuk mempertahankan tanahnya, menjadi satu-satunya opsi dan pilihan yang mampu mengekang laju permukiman ilegal Israel dan agresinya pada rakyat Palestina.

Hamas menilai penutupan institusi-institusi Palestina di al-Quds oleh otoritas penjajah Israel Rabu (20/11), merupakan bagian dari kampanye yang diusung pemerintah Netanyahu. Ini adalah yang terbesar sejak 15 tahun untuk menghancurkan rumah-rumah warga di al-Quds dan memburu lembaga-lembaga Palestina yang memberikan layanan kepada rakyat Palestina di kota al-Quds.

Hamas menyatakan bahwa penjajah Israel terus melanjutkan kejahatannya dalam melakukan yahudisasi kota al-Quds dengan mengakhiri eksistensi resmi Palestina, di tengah-tengah sikap diam membisu dunia Arab dan Islam terhadap apa yang terjadi di al-Quds khususnya dan di Palestina secara umum.

Berita terkait:

ISRAEL SERBU DAN TUTUP KANTOR TV PALESTINA

Hamas menyerukan untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina di al-Quds dan keteguhan mereka menghadapi upaya penjajah Israel untuk mengubah identitas Arab-Islam kota suci al-Quds. Hamas menyerukan penolakan identitas Israel di al-Quds atau berurusan dengan lembaga pendidikan yang dijalankan oleh pemerintah kota penjajah Israel.

Gerakan Hamas menilai bahwa kebijakan pencaplokan dan ekspansi yang dilakukan pemerintah penjajah Israel di al-Quds dan Tepi Barat, bahkan hingga Lembah Yordan, menunjukkan bahwa penjajah Israel terus memaksakan fakta di lapangan. Juga membuktikan bahwa proses kompromi polisik yang masih ditaati oleh Otoritas Palestina sudah tidak ada lagi wujudnya.

Baca juga:

SERIKAT GURU KANADA TOLAK LARANGAN PEMAKAIAN SIMBOL AGAMA

Pasukan pendudukan penjajah Israel pada Rabu (20/11/2019) menutup tiga kantor institusi resmi Palestina di kota al-Quds dan melarang aktivitas di dalamnya selama 6 bulan.

Menurut sumber-sumber lokal, pasukan penjajah Israel menutup kantor Direktorat Pendidikan Palestina, dua kantor pelayanan media Palestina, Sekolah Panti Asuhan Islam dan pusat kesehatan Arab di al-Quds.

Sumber: Pusat Informasi Palestina