Militer Penjajah Perancis Kesulitan dalam memburu Jihadis di Mali

Duniaekspress.com. (27/11/2019). – Mali – Militer penjajah Prancis dan negara 5 negara Sahel (G5) menggelar operasi militer menargetkan kelompok jihadis (mujahidin) di hutan Tofa Gala di Burkina Faso, yang berdampingan dengan wilayah Mali. Hutan ini di luar kendali pemerintah dan menjadi tempat persembunyian aman bagi para jihadis.

Seperti dilaporkan, pasukan penjajah Perancis bergerak maju di satu sisi rawa, dan militer Burkina Faso di sisi lain. Tujuan mereka adalah untuk mengontrol area yang tidak bisa dijamah oleh militer sejak setahun lalu itu.

Operasi ini bagian dari kampanye militer penjajah Perancis (militer Barkhan) dengan pasukan negara G5; Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania, dan Niger. Operasi gabungan darat pertama lintas batas itu diberi sandi Bourgou 4.

Kolonel Perancis Thibaut Lemerl mengungkapkan bahwa kawasan hutan Tofa Gala sangat sempurna bagi kelompok “ekstrem” untuk bersembunyi dan mengelola logistik.

Pasukan gabungan yang berjumlah puluhan ribu itu dipaksa bermain seperti “kucing dan tikus” di hutan ini. Para jihadis bergerak cepat dan mampu “menghilang” di gurun. Bahkan, pasukan berpatroli berjam-jam tanpa menemukan apapun.

“Kami tahu mereka ada di sini. Kami mencari mereka dan kami tidak dapat menemukan mereka. Ini adalah perang yang mustahil,” kata seorang perwira dengan memegang senjatanya kepada media.

Terkadang pasukan berjalan berjam-jam tanpa menemukan apa pun. Baru-baru ini ditemukan dua orang pengendara sepeda motor dan kami masih ragu apakah mereka anggota kelompok jihadis.

“Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Mereka mungkin ada di sini karena mereka mungkin baru saja pergi,” kata perwira penjajah Perancis yang mengaku bernama Julian itu.

Seorang perwira penjajah Perancis lainnya menjelaskan, peralatan militer Perancis di satu sisi menjadi titik lemah. Pasukan harus berkonvoi untuk mencapai titik target yang jauh. Hal itu memudahkan “militan” berpindah dengan cepat.

Di sisi lain, pasukan G5 lebih mobile. Mereka bergerak cepat dengan mengendari sepeda motor, namun mereka mendapat risiko paling tinggi.

“Wajar jika militer penjajah Perancis tidak menemukan apa pun ketika mereka tiba,” katanya, seraya menambahkan bahwa sepeda motor membuat para jihadis “lebih mobile.”

Penjajah Perancis menempatkan sekitar 4.500 tentara di kawasan itu, sementara negara G5mengerahkan sekitar 5.000 tentara, dengan kondisi kekurangan dana, pelatihan, dan peralatan.

Kelompok-kelompok jihadis yang berafiliasi dengan Organisasi Al-Qaidah dan Daesh (ISIS) beberapa bulan terakhir menggencarkan serangan terhadap militer. Bahkan, serangan beberapa pekan lalu yang menewaskan puluhan tentara Mali membuat publik ragu tentang kemampuan militer. (RR).

Sumber : AFP

 

Baca juga, PENJAJAH PERANCIS DAN BONEKANYA MILITER MALI MELUNCURKAN KOMPANYE MILITER YANG MENARGETKAN JIHADIS