DUNIAEKSPRESS.COM (30/11/2019)- Aparat Irak menembak mati 40 demonstran dalam unjuk rasa yang berujung kerusuhan sepanjang Kamis (28/11) malam sampai Jumat (29/11) dini hari. Demonstran membakar gedung konsulat Iran di Najaf.

Seperti dilansir Associated Press, lima orang penduduk dilaporkan tewas ditembak dan 32 lainnya terluka dalam kerusuhan di Najaf. Aparat keamanan menggunakan peluru tajam untuk membubarkan massa dan menghentikan upaya pembakaran sebuah masjid.

Sedangkan di Ibu Kota Baghdad, empat demonstran meninggal ditembak aparat keamanan ketika hendak melintasi Jembatan Ahrar menuju Zona Hijau, kawasan pusat gedung pemerintahan. Sedangkan sisa korban tewas ditembak polisi atau tentara di sejumlah tempat berbeda.

Massa demonstran juga menduduki wilayah Jumhuriya dan Sinak yang menjadi pintu masuk ke kawasan kompleks pemerintahan. Sampai saat ini sudah 350 orang meninggal dan 15 ribu lainnya luka-luka akibat ditembak dan mengalami kekerasan oleh aparat dengan peluru tajam dalam kerusuhan di seantero Irak.

Baca Juga:

INI CARA KREATIF REMAJA AMERIKA SADARKAN DUNIA TENTANG UIGHUR

ISRAEL TAHAN JENAZAH PALESTINA

Pemerintah Iran mengecam aksi pembakaran gedung konsulat mereka di Najaf. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, mendesak pemerintah Irak bertindak tegas terkait insiden itu.

Kementerian Luar Negeri Irak menyatakan insiden itu terjadi karena ada provokator yang menyusup ke massa demonstran.

Sentimen anti-Iran di antara masyarakat Irak semakin kuat dalam gejolak politik kali ini. Apalagi pada 1980-an kedua negara terlibat perang besar.

Aksi unjuk rasa besar-besaran merebak di seluruh Irak sejak 1 Oktober. Mereka menuntut langkah konkret pemerintah untuk menekan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, dan memberantas korupsi.

Menurut Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Irak adalah penghasil minyak bumi kedua terbesar di dunia. Namun, berdasarkan telaah lembaga non-pemerintah Transparency International, mereka menempati urutan ke-12 negara terkorup di dunia.

Iran saat ini mendukung rezim pemerintah Irak yang dianggap korup. [CNN]