Hukum orang yang berbai’at kepada Abu Bakar Al-Baghdadi kemudian terbunuh, sedangkan ia pernah berjihad

Duniaekspress.com. (03/12/2019). Syaikh Dr. Hani As Siba’i Hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya siapa saja di bawah otoritas Abu Bakar Al-Baghdadi, ia adalah khariji (khawarij), meskipun ia pernah berjihad! Apakah semua orang yang pernah melakukan jihad itu maksum (terjaga) dari cela khawarij, dalam hadist shahih disebutkan, “Sesungguhnya hati anak-anak Adam semuanya di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman bagai satu hati, Dia membolak-balikannya sesuai kehendak-Nya”.

Jika telah diketahui bahwa si Fulan pernah berjihad lalu terbunuh bersama jama’ah Abu Bakar Al-Baghdadi, apa manfaat jihadnya, jika ia berbai’at kepada jama’ah yang menyimpang secara aqidah ! Kisah Al-‘Abbas r.a. Paman Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wassalam, ketika tertawan pada perang Badar. Nabi Shallallahu’alaihi wassalam tidak menerima pernyataan masuk Islamnya secara sembunyi-sembunyi, dan berangkat secara terpaksa bersama kaum Quraisy! Beliau Shallallahu’alaihi wassalam bersabda kepada ‘Abbas, ‘Allah lebih tahu akan keislamanmu, jika kamu seperti yang kamu katakan maka Allah akan mengganjarmu, adapun dhahir (yang tampak) kamu sebagaimana yang tampak bagi kami, maka tebuslah dirimu’.

Beginilah, Kami hanya bisa menilai dari zhahir-nya bahwa si fulan berada di barisan jama’ah Khariji (Khawarij) yang telah menumpahkan darah maksum (terjaga) dengan keislamannya. Oleh karenanya, kami menghukumi keadaan akhirnya, bukan dengan masa lalunya ketika berjihad! Berdasarkan saksi mata dan bukti menguatkan, bahwa orang ini telah berbai’at kepada Abu Bakar Al-Baghdadi, dan bergabung dengan jama’ah daulah, maka ia bagian dari mereka serta diperlakukan seperti mereka.

Berapa banyak orang yang dulu kita mengiranya sebagai orang baik, di antara mereka ada yang menyimpang menjadi Ghulat Murji’ah (Murji’ah ekstrim), di antara mereka ada yang tertimpa penyakit Demokrasi. Dan saya tidak pernah mengetahui seorang pun dari kalangan orang-orang baik dan dikenal, bergabung dengan jama’ah Abu Bakar Al-Baghdadi dan kekhilafahan mereka yang bathil! Jika saja ada seseorang yang memiliki pengalaman dalam jihad, lalu bergabung dengan mereka dan berbai’at kepada mereka, maka ia bagian dari mereka. Ia telah berwali kepada mereka, menolong dan membantu bid’ah, mereka dalam mengkafirkan dan menumpahkan darah kaum muslimin, terkhusus Mujahidin dan para komanadannya mereka. Hanya dengan takwil yang kaku, serta kaidah-kaidah dan ketetapan-ketetapan yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal itu!

Jika ada yang terbunuh, dari siapa saja yang telah tergabung dengan jama’ah Abu Bakar Al-Baghdadi dalam suatu peperangan, maka kami tidak menganggapnya syahid! Kami belum pernah mendapati seorang salaf berbelas kasih kepada Khawarij dan ahlul bid’ah. Kami juga belum pernah mendapati mereka mengatakan bahwa mereka syuhada (mati syahid), meskipun terbunuh dengan pedang-pedang orang kafir asli seperti Romawi dan Atheis. Ungkapan paling baik buat mereka yang terbunuh adalah Ia telah kembali kepada Robb-Nya! Maka meneliti keadaan seseorang atau orang-orang yang berapiliasi kepada tanzhim daulah tidak memberikan pengaruh pada sifat yang telah melekat pada daulah Abu Bakar Al-Baghdadi. Bahwa daulah itu adalah daulah khawarij yang lalim.

Siapa saja yang berbai’at kepada mereka, maka ia Khariji (khawarij) meskipun memiliki pengalaman berjihad atau diantara orang-orang baik yang bertaqwa. Karena, Khawarij pada masa Islam yang silam adalah para ‘abid (ahli ibadah), membaca Al-Qur’an, memperbanyak sholat dan puasa. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu’alaihi wassalam, ‘Sholat kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan sholat mereka, dan begitu juga puasa kalian jika dibandingkan dengan puasa mereka, serta amalan kalian dibandingkan dengan amalan mereka.’ (al-Hadist).

Meskipun begitu, mereka telah meninggalkan Islam, sebagaimana anak panah yang melesat dari busurnya. Maka pengalaman berjihad hanya bermanfaat ketika ia tetap istiqomah saat tergelincir ke dalam perangkap dan tersandung, atau tertuduh tanpa bukti. Di sini baru kita katakan dengan baik bahwa ia berhak menyandang pengalaman jihad itu. Namun, jika ia bergabung dan berbai’at dengan Abu Bakar Al-baghdadi dan pasukannya, yang memiliki dokrin takfir (mengkafirkan) dan tafjir (menuduh fajir), juga menumpahkan darah yang maksum (terjaga) karena keislamannya, lalu ia mati atau terbunuh bersama jama’ah Abu Bakar Al-Baghdadi (ISIS) maka ia disebut Khariji. Kita tidak meenganggapnya syahid.

Perkaranya kita serahkan kepada Robb-nya ini, menurut pendapat yang tidak mengkafirkan khawarij karena menganggap mereka masih memegang ushul Islam, akan tetapi mereka termasuk ahlul bid’ah dan fasik. Adapun bagi siapa yang mengambil pendapat Imam Al-Bukhari dan sebagian ahlul hadist dalam mengkafirkan khawarij maka perkaranya berbeda lagi.”

(Makalah : hukmu man baya’a Al-Baghdadi faqutila wa kanat lahu sabiqotul jihad)

Bersambung …

Baca juga, JAMA’AH DAULAH (ISIS) MEMBATASI SEMUA LINGKUP ISLAM DENGAN PEMBUNUHAN