Hukum Sholat dalam kondisi menggunakan masker (penutup wajah)

Duniaekpsress.com.(04/05/2020).  Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, pasca pandemi corona ada sebagian masjid di zona hijau yang masih menyelenggarakan sholat jamaah dengan protokol yang dianjurkan pemerintah, seperti menggunakan masker, sosial distancing shaff serta mencuci tangan dan anjuran-anjuran lainnya. Nah pada kondisi seperti ini bagaimana hukum sholat menggunakan masker (penutup mulut dan hidung) mengingat adanya larangan dari Nabi untuk sholat menggunakan penutup muka?

Jawaban:

Penanya yang dirahmati Allah SWT, memang ada riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang melarang seseorang untuk sholat menggunakan penutup muka (اللثام) hadits tersebut berbunyi:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن السدل في الصلاة و أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ

Artinya, “Rasulullah SAW melarang sadl [1] dan menutup mukanya saat sholat.

Pertama, hadits ini oleh sebagian ulama hadits dianggap dhoif, sebagaimana Imam Ahmad ketika mengomentari hadits ini beliau berkata:

حديث أبي هريرة في السَّدل ليس هو صحيح الإسناد

 Artinya, “Hadits riwayat Abu Hurairah tentang larangan sadl di dalam sholat (termasuk menutup muka) bukanlah hadits yang shohih secara sanad (jalur periwayatan).” (Al-Muqorror ala Abwabil Muharror)

Masalah sanad yang ada pada hadits ini disebutkan juga oleh Ibnul Mundzir di dalam Al-Awsath 5/41 dan An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ 3/184.

Meskipun demikian para ulama berpendapat bahwa menutup muka (baca;menggunakan masker) saat sholat adalah makruh.  Sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:

ويكره أن يصلي الرجل متلثما أي مغطيا فاه بيده أو غيرها ويكره أن يضع يده على فمه في الصلاة إلا إذا تثاءب فإن السنة وضع اليد على فيه

Artinya, “Dimakruhkan seseorang menggunakan litsam (penutup mulut dan hidung) atau menutup mulutnya dengan tangannya atau selainnya sebagaimana dimakruhkan pula baginya meletakkan tangannya di mulut saat sholat kecuali dia menguap karena sunnahnya (ketika menguap) meletakkan tangan pada mulut.” (Al-Majmu 3/184)

Ibnul Mundzir di dalam Al-Awsath setelah meriwayatkan hadits Abu Hurairoh di atas mengatakan bahwa hukum menutup muka saat sholat adalah makruh dan beliau menyatakan bahwa ini adalah pendapat para sahabat dan ulama tabi’i seperti, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Atho bin ABi Rabah, Said bin Musayab , An-Nakho’i , Salim Bin Abdillah, Asy-Sya’bi, Hammad bin Abi Sulaiman, Malik, Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. (Al-Awasth 3/451)

Sebagian ulama mengatakan bahwa sisi kemakruhannya karena ini adalah adab ketika bermunajat kepada Allah.

Akan tetapi yang perlu menjadi catatan adalah kemakruhan ini berlaku apabila tidak ada hajat untuk menggunakan penutup muka. Jika ada hajat maka kemakruhannya menjadi hilang. Sebagaimana yang disampaikan oleh An-Nawawi di atas, bahwa jika dia perlu menutup mulutnya karena menguap maka hal itu diperbolehkan.

Ibnu Abdir Barr Al-Maliki berkata:

أجمعوا على أن على المرأة أن تكشف وجهها في الصلاة والإحرام، ولأن ستر الوجه يخل بمباشرة المصلي بالجبهة والأنف ويغطي الفم، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم الرجل عنه، فإن كان لحاجة كحضور أجانب فلا كراهة، *وكذلك الرجل تزول الكراهة في حقه إذا احتاج إلى ذلك*

Artinya, “Para ulama sepakat bahwa wajib bagi perempuan membuka wajahnya di dalam sholat dan ihram, karena menutup wajah membuat orang yang sholat tidak menempelkan kening dan hidung (ke tempat sujud) dan menutup mulut dan Nabi SAW melarang laki-laki untuk melakukan hal tersebut (menutup muka). Namun apabila ada hajat seperti adanya laki-laki yang bukan mahrom, maka tidak makruh. Begitu juga laki-laki, kemakruhan itu hilang jika ada hajat yang menuntut.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah 41/135)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata:

ويستثنى منه ما إذا تثاءب وغطى فمه ليكظم التثاؤب فهذا لا بأس به، أما بدون سبب فإنه يكره، فإن كان حوله رائحة كريهة تؤذيه في الصلاة، واحتاج إلى اللثام فهذا جائز؛ لأنه للحاجة، وكذلك لو كان به زكام، وصار معه حساسية إذا لم يتلثم، فهذه أيضاً حاجة تبيح أن يتلثم.

Artinya, “Dan dikecualikan jika seseorang menguap dan dia menutup mulutnya untuk menahannya, maka ini tidak mengapa adapun jika dilakuakan (menutup wajah dilakukan) tanpa sebab maka hukumnya makruh. Jika di sekitarnya ada bau yang mengganggu sholat dan dia membutuhkan penutup muka maka diperbolehkan. Karena ada ada hajat untuk itu. Begitu juga jika dia pilek dan sensitif jika tidak menutup muka, ini juga hajat yang membolehkan seseorang menutup muka dalam sholat.” (Asy-Syarhul Mumti’ 2/193)

Kebolehan menggunakan penutup muka saat sholat ketika ada hajat untuk itu juga difatwakan oleh syaikh Sholih Al-Munajjid, Syaikh Sa’ad Al-Khotslandan yang lainnya.

Kesimpulan

Hukum asal menggunakan penutup muka (masker) saat sholat adalah makruh. Namun kemakruhan tersebut bisa hilang jika ada kondisi yang menghajatkan untuk menggunakan masker seperti menguap atau adanya bau yang mengganggu.

Virus Corona seperti yang sudah kita ketahui telah berdampak kepada kehidupan kita hari ini. Bahkan sampai menggugurkan hal-hal yang wajib menurut para ulama seperti sholat Jumat dan sholat Jamaah.

Atas dasar itu virus Corona lebih kuat dari sekedar menguap dan bau yang tidak sedap dalam mengugurkan kemakruhan sholat menggunakan penutup muka. Wallahu a’lamu bissowab

Sumber : Alqayim.org

 

baca juga, HUKUM, WAKTU DAN TATACARA SHOLAT GERHANA