Tentara Prancis kembali tewas di Mali dalam menghadapi Mujahidin bersenjata

Duniaekspress.com. (03/05/2020). – Paris — Kepresidenan Prancis pada Sabtu (02/05/2020) mengumumkan kematian kembali tentara Prancis yang bertugas dalam operasi Barkhane di Mali. Tentara itu tewas akibat luka yang dideritanya pada tanggal 23 April selama operasi “menghadapi kelompok-kelompok mujahidin bersenjata” di Mali.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Brigadir Dmitro Martininyuk terluka akibat serangan peledak improvisasi. Ia memuji “keberanian tentara Prancis yang bekerja di (wilayah) Sahel Afrika. ”

Dalam pernyataan terpisah, Kepala Staf Angkatan Darat Prancis menjelaskan bahwa sebuah truk tangki milik pasukan Barkhan yang dikerahkan di wilayah Sahel, terkena bom rakitan pada 23 April. Akibatnya, pengemudi dan rekannya terluka.

Kedua tentara itu akhirnya dievakuasi ke Prancis pada 24 April untuk perawatan. Dmitro Martiniyuk, satu dari dua tentara itu, akhirnya meninggal pada 1 Mei di Rumah Sakit Militer Percy di Clamart. Sementara kondisi rekannya stabil dan hidupnya tidak dalam bahaya.

Kematian Martininyuk ini menambah panjang daftar tentara Prancis yang tewas di Mali. Sejak mengintervensi negara itu pada 2013 silam, senyak 42 personel militer Prancis tewas di wilayah Sahel. Data ini berdasarkan perhitungan yang dilakukan melalui pemantauan angka-angka yang diterbitkan oleh Staf Umum MiliterTentaraPr.

Angkatan Darat Prancis mengatakan Martininyuk, yang lahir di Volochesk, Ukraina, berusia 29 tahun dan bekerja seumur hidupnya di batalion kavaleri asing pertama di Karpiany, selatan Marseille.

Pada September 2015, ia bergabung dengan Legiun Asing, di mana ia bertugas sebagai pilot, artileri, dan penembak jitu di kendaraan lapis baja. Setelah misi di Djibouti pada 2017, ia bekerja sebagai komandan kendaraan lapis baja ringan di Mali, di mana ia juga menjabat sebagai pengemudi untuk kendaraan berat.

Dia lajang dan tidak punya anak.

Dalam beberapa pekan terakhir, tentara Prancis telah meningkatkan operasi di wilayah Sahel, antara Niger dan Mali. Prancis mengklaim “puluhan” jihadis telah “dinetralkan” sejak awal tahun ini.

Pasukan Barkhan meningkat dari 4.500 menjadi 5.100. Paris berharap untuk mengacaukan keseimbangan kekuasaan di wilayah di mana para jihadis telah meningkatkan serangan mereka dalam beberapa bulan terakhir.

Penambahan pasukan Paris itu di saat merebaknya sentiman anti-Prancis. Warga Mali menganggap, kehadiran tentara Prancis sebagai penjajah yang semakin memperburuk situasi di negara mereka. (RR).

Sumber: APF

 

Baca juga, MILITER PENJAJAH PERANCIS KESULITAN DALAM MEMBURU JIHADIS DI MALI