AKAN MUNCUL KEMBALI KEKHALIFAHAN DI ATAS MANHAJ KENABIAN SEBELUM IMAM MAHDI, BENARKAH? Bagian 2

Artikel ini adalah lanjutan dari bagian 1:

akan muncul kembali kekhilafahan di atas manhaj kenabian sebelum imam mahdi benarkah? bagian 1

duniaekspress.com, 18/7/2020,

DASAR YANG MENGATAKAN TIDAK AKAN MUNCUL KEMBALI KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWAH 

Hadis-hadis yang mengabarkan adanya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah setelah mulkan jabbariyan tidak pernah diriwayatkan oleh Bukhari maupun Muslim (sebagai sumber hadis-hadis shahih), adanya diriwayatkan oleh Ahmad yang sanadnya lemah. Sedangkan hadis-hadis shahih, baik riwayat Bukhari atau Muslim atau lainnya yang berisi hal yang senada hanya berhenti sampai mulkan jabbariyan, atau mulkan saja tanpa menyertakan adanya kekhilafahan rasyidah atau kekhilafahan ‘ala minhajin nubuwwah di akhirnya. Sementara ada hadis shahih bahkan membatasi kekhalifahan hanya 30 tahun, setelah itu sistem kerajaan (mulkan):

عن سفينة مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك))

Artinya, “Dari Safinah, mantan budak Rasul berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Khilafah pada umatku selama 30 tahun, kemudian setelah itu sistem kerajaan.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani)

Berikut tinjauan tentang lemahnya hadis yang mengabarkan adanya kekhalifahan setelah mulkan:

حدثنا سليمان بن دوود الطيالسي حدّثني داود بن إبراهيم الواسطي حدثني حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير قال : كنا قعدوا في المسجد مع رسول الله ﷺ وكان بشير رجلا يكف حديثه فجاء أبوثعلبة الخشني فقال : يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله ﷺ  في الأمراء، فقال حذيفة : أنا أحفظ خطبته فجلس أبو ثعلبة فقال حذيفة : قال رسول الله ﷺ : ” تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة. ثم سكت

“Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang didasarkan jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyan), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”

(Dikeluarkan oleh: Imam Ahmad no.18319)

Dan pada riwayat ini susunan sanadnya adalah: dari Sulaiman bin Daud Thoyalusy, dari Daud bin Ibrohim Al-Wasithi, dari Habib bin Salim, dari Nu’man bin Basyir, dari Khudzaifah r.a, dari Nabi saw.

Permasalahan utamanya ada di rowi Habib bin Salim, Imam  Al-Bukhory menilainya dloif dengan  perkataannya: “Fihi Nadzor” (Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 5 hal.374-375 cet. Muassasatu Ar-Risalah)

Perkataan “Fihi Nadzor” ini dinilai oleh para ulama rowinya lemah sekali. Imam Ad-Dzahaby mengomentari:

قوله: فيه نظر، وفي حديثه نظر، لا يقوله البخاري إلا فيمن يتهمه غالبا

“Perkataan dia (Imam Bukhari) : “fihi nazhar” (dia perlu dipertimbangkan), dan “fii hadiitsihi nazhar” (haditsnya perlu dipertimbangkan), tidaklah diucapkan oleh Imam Bukhari kecuali mengenai orang-orang yang dia tuduh [tidak kredibel] pada galibnya.” (Imam Adz Dzahabi, MizanuI I’tidal, 1/3-4).

Walau Bukhori pernah menshahihkan hadis yang dirowikan oleh Habib bin Salim bukan berarti beliau dianggap tsiqah, tetapi lebih dikarenakan didukung hadis-hadis senada dari jalur-jalur lain yang shohih.

Perowi lainnya, Daud bin Ibrohim Al-Wasithi juga bermasalah, dalam Silsilah Dha’ifah disebutkan oleh Syekh al-Albani bahwa Dawud ini bermasalah (fihi layyin) dan cacat (fahuwa al-‘illat).

Perowi selanjutnya, Sulaiman bin Daud Thoyalusi juga memiliki masalah, Imam Ibrohim bin Said Al-Jauhary berkata:
أخطأ أبو داود الطيالسي في ألف حديث
(Abu Daud At-Thoyalisi keliru pada 1000 hadits).

  • Hadis-hadis pembanding lainnya yang tidak menyertakan adanya kekhilafahan setelah mulkan justru shahih

Sementara itu hadis-hadis yang senada dengan hadis di atas tanpa menyertakan kalimat akan adanya kekhilafahan justru bersanad shahih, contohnya:

حدّثنا محمّد بن جعفر بن أعين : ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا زيد بن الحباب : ثنا العلاء بن المنهال الغنوي : حدّثني مهنّد القيسي –كان ثفة- عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب عن حذيفة بن اليمان قال : قال رسول الله ﷺ: إنكم في نبوة ورحمة،   و ستكون خلافة ورحمة، ثم يكون كذا وكذا، ثم يكون ملوكا عضوضا، يشربون الخمور، ويلبسون الحرير، وفي ذلك ينصرون إلى أن تقوم الساعة.

“Kalian hari ini ada dalam (masa) kenabian dan rahmat, kemudian (setelahnya masa) Kekholifahan (khulafau Rosyidin) dan rahmat. Kemudian (setelahnya) begini dan begitu,.. Kemudian (setelahnya) kerajaan-kerajaan yang keji, mereka minum minuman Khomr dan memakai pakaian sutera,….”.

(H.R.At-Thobroni; Mu’jam Ausath no.6581 Juz 6 hal.345 cet. Darul Haromain)

“Hudzaifah berkata: Wahai manusia, tidakkah kalian bertanya kepadaku? Sesungguhnya manusia waktu itu bertanya kepada Rasul saw tentang kebaikan, dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan. Sesungguhnya Allah swt mengutus nabinya saw untuk menyeru orang-orang dari kekufuran kepada keimanan. Dan dari kesesatan kepada petunjuk. Maka terkabullah orang yang memohon dan hiduplah dalam kebenaran yang sebelumnya mati.  Dan matilah kebatilan yang sebelumnya hidup. Kemudian lenyaplah kenabian (diikuti) era kekhilafahan atas manhaj kenabian. Kemudian setelah itu muncullah kerajaan yang menggigit (dzolim)……”
(H.R.Abu Na’im; Hilyatul Auliya. Juz 1 hal.274-275; Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.  H.R. Imam Ahmad)

Hadis ini juga shahih, dan hanya sampai mulkan ‘Adhuudhan.

 

KEGHULUWAN (BERLEBIH-LEBIHAN) DALAM MASALAH KHILAFAH

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada gerakan pengusung khilafah, namun akhir-akhir kami melihat muncul pemahaman yang mengusung khilafah sebagai jargonnya justru terjebak dalam permasalahan ghuluw. Kekhilafahan yang semestinya menjadi pemersatu umat justru menyebabkan penghalang bagi persatuan, karena adanya egoisme dan kesalahpahaman dalam mendudukkan masalah kekhilafahan, bahkan sebagian mereka membuat khilafah menjadi momok bagi umat yang menyebabkan lahirnya respon balik yang negatif terhadap isu khilafah itu sendiri. Keghuluwan tersebut antara lain:

  • Mendeklarasikan khilafah tanpa musyawarah kaum muslimin.

Beberapa kelompok pada hari ini mendeklarasikan khilafah secara sepihak, baik yang dikenal di mancanegara seperti kelompok ISIS, maupun hanya dikenal di kalangan lokal seperti khilmus. Kesemuanya dideklarasikan tanpa musyawarah dari berbagai perwakilan kaum muslimin dunia. Kelompok ISIS misalnya berkilah bahwa deklarasi mereka telah dimusyawarahkan oleh sebagian kelompok jihad di Irak, yang mana menurut kami belum mewakili umat Islam di dunia, setidak-tidaknya seharusnya ada perwakilan dari berbagai gerakan Islam yang besar-besar di dunia. Padahal dalam hadis shohih:  “Barangsiapa membai’at seseorang tanpa melalui musyawarah dengan kaum muslimin, niscaya orang tersebut tidak boleh dibaiat dan begitu juga orang yang membaiat dirinya, karena ia telah mempertaruhkan keduanya untuk dibunuh. (HR Bukhori). Masalah ini sudah kami bahas dalam artikel sebelumnya (bagian 1)

  • Menganggap orang yang tidak meyakini adanya kekhalifahan di atas minhajin nubuwah dalam waktu mendatang sama dengan menolak dalil wajib bersatunya kaum muslimin.

Sesungguhnya perkara ini adalah dua perkara yang terpisah. Mereka-mereka ini biasanya mencampurkan dalil-dalil seperti dalil wajib bersatunya kaum muslimin ditafsirkan sebagai kewajiban menegakkan khilafah. Seperti yang telah kita bahas di muka, ketidak yakinan akan munculnya kekhilafahan sebelum turunnya Imam Mahdi memiliki landasan dalil yang kuat. Orang yang ghuluw dalam hal ini bahkan menganggap yang bertentangan dengan keyakinan adanya khilafah ini bisa terjerumus dalam kekafiran. Padahal mereka-mereka yang dituduhkan ini justru bersifat hati-hati, jangan sampai membuat khilafah yang melanggar syarat-syarat sesuai syar’i. ISI (Islamic State of Irak) misalnya, underbownya Alqaeda, sebelum berubah menjadi ISIS, ketika menguasai sebagian besar Irak saat itu tidak pernah buru-buru mendeklarasikan dirinya menjadi khilafah, mereka hanya mendeklarasikan sebuah daulah. Demikian juga Thaliban saat ini, setelah memiliki sebagian besar wilayah di Afghanistan tidak semerta merta mendeklarasikan khilafah. Ini didasarkan bahwa kekhilafahan itu bukan hal sembarangan dan seenaknya didirikan tanpa syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya. Kekhilafahan sepihak ISIS /IS menjadi contoh buruk keterburu-buruan dalam mendeklarasikan khilafah.

  • Solusi semua permasalahan umat adalah khilafah

Ini juga merupakan keghuluwan lain, tanpa khilafah seolah-olah daulah atau kelompok Islam tersebut belum melaksanakan Islam secara kaaffah (menyeluruh), yang seolah-olah menempatkan khilafah sebagai rukun Islam atau rukun Iman tambahan. Mereka ini juga mencampurkan dalil-dalil kewajiban bersatunya kaum muslimin dengan dalil khilafah. Akibat dari hal ini bahkan muncul istilah khilafahisme dari pihak yang berlawanan, yang mana menjadi semakin ngawur.

  • Merinci Khilafah sebagai Sebuah Sistem yang Baku

Sebenarnya tidak ada sistem baku bagaimana khilafah tersebut, sebagian ulama salaf menganggap sebagian amir kedinastian Mu’awwiyah atau Abbasyah sebagai kekhalifahan rasyidah kaum muslimin, yang mana bentuk pemerintahannya adalah kerajaan (mulk), demikian juga dalam penunjukkan kepemimpinan, bahkan di masa khulafaur rasyidin memiliki cara penunjukan amirul mu’minin yang berbeda-beda. Yang sama adalah bahwa pemimpin itu disepakati kaum muslimin, menolong Dien Islam ini baik mempertahankan ataupun meluaskannya, dan keadilan dirasakan oleh kaum muslimin. Namun muncul akhir-akhir ini paham yang membuat batasan, sistem, bagaimana kekhilafahan itu semestinya.

Wallohu a’lam bis showaab.

(Abu Usamah)