DUNIAEKPRESS.COM (21/7/2020)- Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Inggris mengungkapkan, Sebanyak 14.423 orang dipastikan telah disiksa sampai mati sejak dimulainya perang saudara di Suriah pada tahun 2011. Lebih dari 98 persen korban terbunuh oleh rezim Presiden Bashar Al-Assad.

Menurut Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia, semua pihak utama dalam konflik Suriah bersalah atas penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia. Namun, rezim Assad sejauh ini adalah pelakunya yang terburuk, menewaskan setidaknya 14.249 orang melalui penggunaan penyiksaan yang luas.

Baca Juga:

PENUHI MASKER, CHINA PEKERJAKAN PAKSA MUSLIM UIGHUR

SENGAJA APPLE DAN GOOGLE HAPUS PALESTINA DARI PETA?

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi bertanggung jawab atas 52 kematian akibat penyiksaan, sementara oposisi resmi atau Tentara Nasional Suriah (SNA) bertanggung jawab atas 43; kelompok teroris Daesh bertanggung jawab atas pembunuhan 32 orang dengan penyiksaan, dan kelompok-kelompok oposisi Islam seperti Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) bertanggung jawab atas 26 orang yang terbunuh dengan cara ini. 21 orang yang tersisa dibunuh oleh pihak lain.

Termasuk dalam jumlah ini adalah 64 wanita dan 179 anak-anak, hampir semuanya disiksa dan dibunuh oleh dinas keamanan rezim.

“Rezim Suriah menerapkan penyiksaan untuk membalas dendam pada oposisi,” kata organisasi itu dalam sebuah laporan bulan lalu. Mereka mencatat 72 metode penyiksaan fisik, psikologis dan seksual yang digunakan oleh rezim terhadap mereka yang ditahan.

Saat ditahan, mereka yang ditahan oleh rezim menderita kondisi sanitasi yang buruk, dengan sebagian besar kompleks penjara menampung 50 orang di sel-sel yang rata-rata hanya 24 meter persegi.

Menurut sumber-sumber oposisi, setidaknya 500.000 orang saat ini ditahan di jaringan penjara rezim. Banyak yang telah menghilang secara paksa dan keluarga mereka tidak mengetahui keberadaan atau kondisi mereka.