DUNIAEKSPRESS.COM (22/7/2020)- Ada perbedaan di antara para ulama dalam menghukumi shalat jumat yang bertepatan dengan Ĩdul Adha dan Ĩdul Fitri. Jumhur ulama menetapkan kewajiban shalat jumat. Abu Hanifah berpendapat bahwa kewajiban shalat jum’at tidak gugur baik bagi penduduk kota maupun penduduk pedalaman nomaden. Namun Syafi’ĩyyah mengecualikan bagi Bawãdĩ atau orang-orang pedalaman dan masyarakat nomaden, mereka diberikan uzur untuk tidak jum’atan. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Hanãbilah berpandangan bahwa kewajiban shalat jumat gugur baik atas penduduk kota maupun penduduk pedalaman.

Menurut Muhammad Nuaim Muhammad Hãní Sã’í dalam Mausu’ah Masãilil Jumhúr fíl Fiqhil Islãmí jumhur ulama berpandangan jika shalat jum’at dan shalat Ĩd bertepatan dalam satu waktu, berkumpul pada hari jum’at maka kewajiban shalat jum’at gugur atas penduduk desa -pedalaman- jika mereka sudah shalat Ĩd dan tidak makruh untuk meninggalkan shalat jum’at. Namun shalat jum’at tetap wajib atas penduduk pemukiman, mereka harus melaksanakan shalat jum’at walaupun mereka sudah melaksanakan shalat Ĩd. Ini adalah pendapatnya Utsmãn bin ‘Affãn dan Umar bin Abdul Azíz.

‘Athã’ bin Abi Rabbãh berpendapat jika mereka sudah melaksanakan shalat Ĩd maka mereka tidak wajib shalat jumat di hari jum’at dan bahkan tidak wajib shalat zuhur; tidak kedua-duanya kecuali shalat ashar saja; baik penduduk desa maupun penduduk pemukiman. Ini juga pendapatnya Asy-Sya’bí, An-Nakha’í dan Al-Auza’í. Ibnul Munzír berkata, kami meriwayatkan seperti ini pula dari Ali bin Abi Thãlib dan Ibnuz Zubair.

Baca Juga:

KEUTAMAAN SEPULUH HARI BULAN DZUL HIJJAH

Imam Ahmad berpendapat kewajiban shalat jum’at gugur atas penduduk desa dan penduduk di pemukiman, mereka wajib shalat zuhur. Ada perbedaan pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad tentang kewajiban shalat jum’at bagi imam. -Berbeda dengan Imam Ahmad- Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kewajiban shalat jum’at tidak gugur baik atas penduduk pedalaman maupun para pemukim.

Di antara dalil yang dijadikan pijakan oleh jumhur ulama adalah firman Allah Ta’ãlã:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Q.S. Al-Jumu’ah/63: 9).

Jumhur ulama berpijak dengan keumuman ayat dia atas. Selain ayat di atas, dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at adalah keumuman lafal hadis yang diriwayatkan dari Abul Ja’dĩ Adh-Dhamrĩ, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.” (HR. Abû Dãwud No. 1052).

Al-Hãfizh Abû Thãhir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan, artinya dapat dijadikan argumentasi. Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib. Selain itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan dari Thãriq bin Syihãb:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: (1) budak, (2) wanita, (3) anak kecil, dan (4) orang yang sakit.” (HR. Abû Dãwud No. 1067). Al-Hãfizh Abû Thãhir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih.

Karena shalat Jum’at dan shalat Ĩd adalah dua shalat yang sama-sama wajib, maka shalat Jum’at dan shalat Ĩd tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zuhur dan shalat Ĩd.

Baca Juga:

ARAB SAUDI TELAH MENETAPKAN IDUL ADHA BERTEPATAN PADA HARI JUM’AT 31 JULI 2020

Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah:

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsmãn bin ‘Affãn dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat Ĩd sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia.

Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari Ĩd). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari no. 5572)

Selain itu, perhatikan hadis berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “Sabbihisma Robbikal A’la” dan “Hal Ataka Haditsul Ghasiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari Ĩd bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim no. 878).

Sedangkan dasar ulama Hanabilah adalah hadis yag diriwayatkan dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syãmí, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyãn dan ia bertanya pada Zaid bin Arqam:

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ

“Apakah kamu pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan dua Ĩd (hari Idul Fitri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.” (HR. Abu Daud no. 1070, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1310. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan).

Selain itu ada atsar yang diriwayatkan dari seorang tabi’in bernama ‘Atha’ bin Abi Rabbah, ia berkata:

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ.

“Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di pagi hari. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az- Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini shahih). Jika sahabat mengatakan ashabas sunnah (menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah pandangan para ulama seputar hukum dan kewajiban shalat jumat yang bertepatan dengan shalat Ĩd. Silahkan dipilih pendapat para ulama tadi dan kuatkan salah satu pendapat mereka tanpa merendahkan pendapat yang lain. Mudah-mudahan kita dapat memaklumi hasil ijtihad dan metode ijtihad mereka. Amin

Penulis: M Reza Prima