Duniaekspress.com, 27/7/20. Terlihat fenomena-fenomena dimana media-media yang mengaku sebagai sayap-sayap jihad telah menodai kebersihan akhlaq Islam. Hal ini sangat vulgar dan paling banyak terlihat pada tampilan-tampilan media ISIS /daesh /IS yang mengaku sebagai pengemban jihad sejati,- yang mana sudah menjadi sifat mereka- tidak mendengar nasihat dari syuyukh mujahidin, hanya mengaku-ngaku saja mewarisi jihad mereka. Diantara masalah tersebut misalnya adalah :

  • mengutamakan memperbanyak seluas-luasnya media jihad, seperti jamur, tanpa melihat kualitas yang disampaikan.
  • Bahasa yang sangat buruk, cacian, makian, vonis-vonis kafir kepada kaum muslimin bahkan mujahidin.
  • Fanatik terhadap kelompoknya, mengecilkan kelompok jihad lain bahkan mengkafirkannya, seolah-olah jihad hanya milik kelompoknya saja.
  • Tidak adil, ujub dan sombong, melebih-lebihkan.
  • Menampilkan kekerasan yang tak perlu, sehingga menampilkan momok, wajah yang buruk terhadap jihad ini.
  • Tidak jujur, menjadi sarang penyebaran hoaks, atau dusta dan kebohongan.
  • Fokus kepada hal-hal yang tidak penting dan tidak maslahat, atau lebih besar mudhoratnya.

 

Nasehat dari Komandan Jihad, Syaikh Athiyatullah al-Liby Tentang Media

Kepada para aktivis media, secara umum ‘Athiyatullah al-Liby memberikan nasehat:  “Selain nasehat untuk bertaqwa kepada Allah SWT, bersabar dan terus bersabar, tegus pendirian, ikhlas beramal untuk Allah dan merasa dalam pengawasan Allah selalu baik ketika ada orang maupun ketika sendirian, dan hendaknya mereka menyadari bahwa mereka tengah dalam jihad yang sebenarnya sehingga mereka harus mengingat selalu kewajiban untuk ikhlas dan terikat dengan syari’at Allah dalam setiap usaha mereka, selain itu semua, saya nasehatkan selalu tentang sesuatu yang saya pandang penting kepada orang yang posisinya seperti mereka, yaitu agar berpegang teguh dengan prinsip sebaik-baik amalan itu adalah yang paling kontiniu meskipun sedikit. Karena amalan yang mengandung berkah – lantaran keseriusan, keikhlasan dan kebaikan pelakunya – yang dilakukan secara kontiniu dan berkesinambungan adalah lebih baik daripada sikap tamak untuk memperluas dan memperbanyak program dan kegiatan. Yang demikian itu mungkin akan membuahkan sebuah lompatan sehingga kita menjadi senang. Bahkan terkadang menghasilkan sebuah gengsi sesaat namun kemudian akan terputus dan kita diberangus, gagal dan runtuh semuanya. Semoga Allah tidak mentaqdirkannya.

Inilah yang selalu saya nasehatkan kepada para ikhwah.

Ini berarti hendaknya janganlah mereka itu memperluas bidang garapan melebihi kemampuan dan jangkauannya. Dan janganlah mereka meremehkan masalah kepercayaan dan rekomendasi bagi siapa saja yang hendak mereka jalin kerjasama dengannya dan yang hendak bergabung dalam barisan mereka. Dan hendaknya yang menjadi titik berat dalam program mereka selalu adalah kualitas dan mutu, bukan kuantitas, besar dan luas program.

Kemudian saya juga nasehatkan kepada mereka supaya mereka memiliki piagam program yang tertulis dan selaras dengan syari’at, yang memiliki spesifikasi sebagai berikut: menanamkan loyalitas kepada Allah SWT dan agama-Nya, membuang sikap fanatik kelompok yang tercela yang berupa fanatik kepada individu dan nama-nama – selain nama-nama yang diperintahkan Allah untuk berkumpul di dalamnya, seperti Islam, iman dan taqwa -, menanamkan prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, kebaikan, rendah diri, akhlaq-akhlaq mulia dan menjunjung tinggi perbuatan-perbuatan yang baik.

Intinya adalah hendaknya piagam tersebut hendaknya berfungsi sebagai kaidah umum yang harus dipatuhi dan sebagai adab yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang bergabung dalam program tersebut, terutama karena para ikhwah tersebut bekerja pada apa yang dikenal sebagai dunia maya, di mana mereka berhubungan dari jarak jauh yang kebanyakan – mungkin – tidak saling kenal.

Selain itu, hendaknya generasi yang datang setelah generasi ini berjalan di atas ketentuan-ketentuan ini, melengkapinya dan meningkatkan kebijakan dan pengalamannya serta menutup celah-celah yang nampak, sehingga program itu senantiasa mengalami perbaikan dan penuh dengan kelebihan.

Tentunya semua itu dijalankan dalam bingkai syari’at, dalam artian, jangan sampai keluar satu jaripun dari syari’at.

Namun dalam waktu yang sama jangan sampai mempersempit hal-hal yang memang longgar. Wallahul muwaffiq.

Di antara poin-poin penting yang hendaknya ditonjolkan dalam piagam media dan dalam karakternya adalah:

  • Adab-adab yang tinggi, rendah diri dan menjauhi dari perasaan ujub (membanggakan diri) dan ghurur (tertipu dengan kehebatan diri sendiri)
  • Seiring dengan itu: kuat dalam menyampaikan kebenaran dan jelas dalam manhaj.
  • Jujur dalam segala pengertiannya, terkecuali pada persoalan yang memang harus dikecualikan, sementara pengecualian itu harus dibatasi sesuai dengan batasannya. Yang saya maksud di sini adalah berbohong dalam peperangan. Akan tetapi hendaklah secara umum dan yang paling mendominasi adalah kejujuran. Saya katakan kejujuran dalam segala artinya, karena kejujuran itu memiliki dua arti. Yaitu kejujuran yang berarti menyampaikan berita sesuai dengan faktanya, yang mana ini adalah arti yang dikenal secara syar’i, yaitu yang kebalikannya adalah dusta. Yang kedua adalah arti secara balaghah yang menjadi ciri kalimat-kalimat dalam sya’ir dan prosa. Kajian masalah ini panjang, yang intinya adalah komitmen dengan ketentuan-ketentuan balaghah yang mengatakan setiap ucapan itu ada tempatnya. Di sini fungsinya adalah menjauhi sikap melebih-lebihkan dan membesar-besarkan, yang mana apabila sikap ini sering dilakukan akan melemahkan kepercayaan dan akan memberikan kesan tidak detil, kecuali pada kondisi khusus yang menuntut. Seperti ketika menjauhkan atau menakut-nakuti dan mengancam orang yang memang harus dibegitukan, bukan memang sikap tersebut – melebih-lebihkan dan membesar-besarkan – merupakan prosedur baku untuk membuktikan kebenaran.
  • Yang berkaitan dengan hal ini adalah: seimbang dalam berbicara, antara berbicara dengan akal yang berdasarkan alasan dan bukti-bukti syar’i dan logika, dan antara berbicara dengan hati (perasaan) dengan perkataan yang lembut, sastra yang berkesan, memahami kapan suatu perkara itu lebih didahulukan dan dijadikan konsentrasi pembicaraan, dan kapan perkara yang lain lebih didahulukan dan lebih difokuskan.
  • Menanamkan prinsip bekerja untuk Islam dan kaum muslimin bukan untuk jamaah semata, akan tetapi semua jamaah, nama dan lembaga yang bekerja di dalamnya dan beramal dalam bingkai struktur organisasinya, semua itu hanyalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang diperintahkan oleh syari’at.
  • Menanamkan pola pikir yang lebih mengedepankan substansi daripada istilah. Ini merupakan titik mendasar dalam misi yang diemban oleh media tarbiyah dan dakwah. Karena media itu pada hakekatnya bagi kita adalah identik dengan dakwah.

Wallahul muwaffiq.

Adapun apakah sebaiknya semua lembaga media bergabung di bawah bendera GIMF atau lebih baik masing-masing bekerja sendiri-sendiri?

Menurut pendapat saya pada periode ini lebih baik masing-masing lembaga media yang bermacam-macam ini bekerja sendiri-sendiri, sampai Allah memberikan suatu kondisi yang lebih baik dan membukakan peluang dari sisi-Nya, dan Allah adalah Maha Pembuka dan Maha Mengetahui.

Artinya pada kondisi yang ada saat ini sebaiknya adalah seperti ini.

Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya semua kelompok media tersebut tidak bersatu dalam satu wadah, karena hal itu akan memancing serangan musuh dalam kadar yang sangat besar, semoga Allah melindungi kita dari segala kejahatan orang yang jahat.

Keberadaan masing-masing kelompok media pada kelompoknya sendiri-sendiri ini akan memberikan jaminan katika ada sebagian kelompok media mendapatkan serangan maka tidak semua kelompok media terkena serangan tersebut, sehingga akan tetap ada kelompok yang dapat bekerja di bidang ini dan melanjutkan jalan perjuangan.

Dan selama dalam periode ini yang paling dituntut dari masing-masing kelompok media jihad adalah hendaknya mereka saling bekerja sama, menguatkan, mendukung, menyokong, melengkapi, dan saling berkoordinasi dan bertukar kemampuan, pengalaman dan saran.

Karena kita ini adalah saling bersaudara yang saling mencintai dan saling berwala’. Kita bekerja untuk satu misi yang sama, di bawah satu bendera yang sama, dan untuk satu tujuan yang sama. Kita bekerja untuk mendapatkan ridla Allah, mengibarkan panji-Nya, menegakkan hukum-Nya dan hidup di bawah naungan hukim-Nya. Kita tidaklah sama dengan orang-orang yang bekerja untuk kepentingan dunia yang fana. Orang-orang yang mencari materi murahan, yang tamak untuk menjadi orang yang unggul, ekseklusif, tenar, labih daripada yang lain dan berbangga-banggaan dengan hal-hal yang remeh…!

Tidak …!

Kita adalah orang-orang yang mencari akhirat.

Orang yang bekerja untuk agama.

Orang yang ikhlas dan beramal hanya untuk Allah dan mencari kesuksesan di sisi-Nya.

Ini jelas berbeda…!

Wallahul muwaffiq wa la haula wa la quwwata illa billah.

Al Liqa’ Al Maftuh hal. 225-227

 

(Bersambung…..)

Baca juga, HAKIKAT SIFAT TANDZHIM DAULAH ISIS DAN AQIDAHNYA