Apakah sholat Idul Adha bisa menggugurkan sholat Jum’at ?

 Duniaekspress.com. (30/07/2020). – Hari raya Idul Adha 1441 H bertepatan dengan hari Jumat, apakah sholat Idul Adha bisa menggugurkan sholat Jumat? Kajian ini akan dilandaskan kepada Mazhab Syafi’i, mengingat Indonesia adalah negeri dengan mayoritas bermazhab Syafi’i.

Hukum sholat Idul Adha di dalam mazhab adalah sunnah muakkadah. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi Muhammad SAW kepada seorang Badui yang datang kepada beliau menanyakan kewajiban agama. Nabi menjawab sholat lima waktu sehari semalam, kemudian Badui tersebut bertanya:

هل عليَّ غيرهنَّ؟ قال: لا، إلا أن تطوع

Artinya, “Apakah ada kewajiban sholat lain bagiku? Nabi SAW menjawab, “Tidak kecuali sholat tatahawwu’ (sunnah).” (HR Muslim).

Sedangkan sholat Jum’at hukumnya adalah Fardhu Ain bagi mereka yang terpenuhi syarat wajibnya, lantas bagaimana mungkin sesuatu yang sunnah bisa menggantikan yang wajib.

Hukum asalnya seperti di atas, akan tetapi ada sebuah atsar dari Utsman yang secara jelas memberikan uzur kepada penduduk desa (pedalaman) untuk boleh meninggalkan sholat Jum’at dan perkataan Utsman ini tidak ada para sahabat yang menyelisihinya. Ustman –radhiyallahu anhu- berkata :

أَيُّهَا النَّاسُ قَدِ اجْتَمَعَ عِيْدَانِ فِيْ يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَنَا الْجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَنْصَرِفْ

Artinya, “Wahai manusia telah berkumpul dua hari raya pada hari kalian ini, barangsiapa dari penduduk desa (pedalaman) yang ingin sholat Jum’at bersama kami, maka sholatlah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan pergi.”

Maksud penduduk desa (Ahlul ‘Aliyah) di dalam perkataan Utsman di atas adalah  desa (pedalaman) yang berada di timur Madinah dan penduduk desa yang sampai kepada mereka azan dan wajib bagi mereka mendatangi Jum’at. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/491)

Imam Syafi’i di dalam Al-Umm berkata:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ صَلَّى الْإِمَامُ الْعِيدَ حِينَ تَحِلُّ الصَّلَاةُ ثُمَّ أَذِنَ لِمَنْ حَضَرَهُ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْمِصْرِ فِي أَنْ يَنْصَرِفُوا إنْ شَاءُوا إلَى أَهْلِيهِمْ، وَلَا يَعُودُونَ إلَى الْجُمُعَةِ وَالِاخْتِيَارُ لَهُمْ أَنْ يُقِيمُوا حَتَّى يَجْمَعُوا أَوْ يَعُودُوا بَعْدَ انْصِرَافِهِمْ إنْ قَدَرُوا حَتَّى يَجْمَعُوا وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا حَرَجَ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

 Artinya, “Jika hari Idul fitri bertepatan dengan hari Jumat, maka Imam sholat Id ketika telah masuk waktunya. Kemudian setelah sholat, imam mengizinkan kepada selain penduduk kota untuk pulang ke keluarga mereka jika mereka berkenan dan tidak kembali lagi untuk sholat Jum’at. Dan mereka juga boleh memilih tetap tinggal hingga datang waktu sholat Jum’at atau kembali lagi untuk sholat Jum’at jika mereka mampu setelah mereka pulang, namun jika mereka tidak mampu maka tidak masalah insya Allah.” (Al-Umm 1/274)

Imam An-Nawawi menjelaskan alasan kebolehan mereka meninggalkan Jum’at adalah karena adanya masyaqqoh (Kesulitan) jika mereka harus pulang pergi ke desa dan dengan adanya masyaqqoh maka kewajiban sholat Jum’at gugur bagi mereka. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/491)

Lebih lanjut Imam Syafi’i berkata:

وَلَا يَجُوزُ هَذَا لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْمِصْرِ أَنْ يُدْعَوْا أَنْ يَجْمَعُوا إلَّا مِنْ عُذْرٍ يَجُوزُ لَهُمْ بِهِ تَرْكُ الْجُمُعَةِ، وَإِنْ كَانَ يَوْمَ عِيدٍ وَهَكَذَا إنْ كَانَ يَوْمَ الْأَضْحَى

Artinya, “Tidak diperkenankan bagi seorangpun yang tinggal di kota untuk meninggalkan sholat Jum’at kecuali dirinya memiliki uzur yang membolehkan mereka meninggalkan Jum’at, meskipun hari itu hari id dan begitu juga dengan Idul Adha.” (Al-Umm 1/274)

Lantas bagaimana dengan pendapat yang menyatakan bahwa kewajiban sholat Jum’at gugur?

Itu adalah pendapat Hanabilah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni:

وإن اتفق عيد في يوم جمعة سقط حضور الجمعة عمن صلى العيد إلا الإمام فإنها لا تسقط عنه

Artinya, “Jika bertepatan Id dengan hari Jum’at, maka kewajiban menghadiri sholat Jum’at gugur bagi yang telah sholat Id, kecuali bagi imam kewajiban tidak gugur baginya.” (Al-Mughni 2/212).

Salah satu dalil yang dijadikan sandaran oleh Hanabilah adalah hadits dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

Artinya, “Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang ingin, maka id mencukupkannya dari Jum’at. Dan sesungguhnya kami (akan) melakukan sholat Jum’at.”  (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Namun hadits ini oleh Imam An-Nawawi dikatakan lemah dan keumuman yang ada pada dalil ini dan yang semisal oleh Syafi’iyah ditakwilkan (Ditakhshish dengan hadits Utsman), Imam An-Nawawi berkata :

واحتج أصحابنا بحديث عثمان وتأولوا الباقي علي أهل القرى لكن قول ابن عباس من السنة مرفوع وتأويله أضعف

Artinya, “Para ulama Syafi’iyah berhujjah dengan hadits Utsman dan menakwilkan hadits-hadits yang lain kepada mereka yang tinggal di desa, akan tetapi perkataan Ibnu Abbas “ini bagian sunnah” hukumnya marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi) dan takwil terhadap riwayat ini lemah.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/492)

Kesimpulan

Di dalam mazhab Syafi’i jika terkumpul antara hari Idul Adha dan hari Jum’at, maka sholat Jum’at tidak gugur secara mutlak. Akan tetapi diberikan keringanan Ahlul ‘Aliyah (Mereka yang tinggal di pedalaman) untuk tidak sholat Jum’at, hal ini karena memberatkan bagi mereka bolak-balik ke kota untuk melaksanakan sholat Idul Adha dan Jum’at.

Secara realitas hari ini, sangat jarang ditemukan orang pedalaman yang kesulitan bolak balik ke kota untuk sholat Idul Adha dan sholat Jum’at, hal ini karena di desa-desa dan pedalaman juga diadakan sholat Idul Adha dan sholat Jum’at, sehingga masyaqqoh bolak-balik ke kota tidak terwujud. Wallahu a’lamu bissowab. (AB).

Penulis : Miftahul Ihsan

sumber : kiblat.net

 

Baca juga, MUI BOLEHKAN SHALAT IDUL ADHA DI WILAYAH YANG SUDAH TERKENDALI