KRITIK TERHADAP ASPEK RILISAN MEDIA JIHAD bagian 2

Tulisan ini adalah sambungan dari bagian 1: KRITIK TERHADAP MEDIA JIHAD bagian 1

Berikut ini adalah potongan tulisan syaikh Usamah bin Ladin tentang nasihat beliau atas aspek rilisan media (kami tidak menampilkan aspek asykari nya). Tulisan ini ada di dalam risalah ke 19 letters from abbottabad, yaitu dokumen-dokumen yang disita tentara navy seal saat penggerebekan persembunyian beliau pada 2 Mei 2011 yang qadarullah menyebabkan beliau syahid (insyaAllah). SOCOM kemudian merilis dokumen-dokumen ini dan dibenarkan oleh komandan dan ulama Al-Qaeda, Syaikh Abu Yahya al-Libi.

Dalam rilisan ini kami melihat beberapa aspek yang sering dilanggar oleh media-media yang mengklaim sebagai sayap jihad, atau media-media kelompok yang menisbatkan diri sebagai kelompok jihad yang juga berhubungan dengan manhaj kelompok tersebut. Beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut:

  • Tidak memperhatikan opini umat agar dapat diterima oleh umat islam, seperti tampilan penyembelihan-penyembelihan, eksekusi-eksekusi yang bar-bar seperti pembakaran hidup-hidup atau eksekusi dengan cara penenggelaman yang mana menimbulkan rasa jijik umat dan kesan buruk bahwa mujahidin adalah kaum haus darah
  • Tidak mengkaji setiap rilisan, yaitu melalui pertimbangan-pertimbangan dan editorial sebelum dirilis
  • Menargetkan pemboman pada mesjid-mesjid dan pasar-pasar, meskipun yang disasar adalah tokoh kafir (masalah tatarrus)
  • Tidak fokus pada masalah yang lebih utama, seperti masalah palestina dan lain-lain, yang memberi kesan bahwa mujahidin tidak peduli atas perkara-perkara penting umat islam, tidak memiliki empati terhadap masalah umat ini, sehingga hilangnya dukungan umat islam terhadap gerakan jihad.
  • Tidak memperhatikan opini umum umat islam, lebih senang berada dalam lingkaran eksklusif atau terasing.

Berikut ini surat beliau:

………….

Adapun mengenai aspek rilisan media, saya katakan:

Di antara persoalan yang penting adalah hendaknya sebagian dari perhatian kalian haruslah difokuskan kepada rilisan-rilisan mujahidin.  Kalian berikan mereka nasehat  dan arahan supaya menghindari beberapa kesalahan yang terkadang dapat berdampak buruk kepada pemikiran dan akhlaq generasi muda yang sebagian besar cara berfikir mereka mengikuti rilisan mujahidin dan para pendukungnya. Dan tidak samar lagi bagi kalian bahwa hal itu dapat menimbulkan bahaya besar, dan dapat menghilangkan kesempatan yang besar untuk memberikan pendidikan yang benar dan arahan yang lurus kepada jutaan pemuda yang mau mendengarkan apa yang dikatakan mujahidin dalam ceramah-ceramah, film-film dan buku-buku mereka.

Atas dasar itu: saya berharap kalian menyiapkan sebuah buku panduan yang memuat pedoman umum yang hendaknya dijadikan pijakan rilisan-rilisan mujahidin. Terutama adalah ditekankan masalah kaidah-kaidah dan adab-adab syar’i, seperti haramnya darah dan kehormatan kaum muslimin, serta pentingnya berkomitmen dengan hadits Nabi SAW:

ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان و لا الفاحش و لا البذي

Orang beriman itu bukannlah orang yang suka mencaci, melaknat, berbuat keji dan hina. (HR. Al Bukhari).

Setelah panduan itu dibuat baru kita bermusyawarah kembali, lalu panduan tersebut dikirimkan keseluruh wilayah bersamaan dengan pengiriman strategi umum untuk program militer. Juga diberitahukan kepada mereka yang di wilayah tentang panitia yang tengah kita bentuk — saya telah mengirimkan susunan panitia tersebut kepada Syaikh Sa’id rahimahullah — yang memiliki wewenang untuk mengkaji dan mengurungkan rilisan apapun yang dipandang keluar dari strategi umum yang telah kita usahakan secara sungguh-sungguh agar sesuai dengan rambu-rambu syari’at, yang dengan ijin Allah akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi Islam dan kaum muslimin

Kemudian diminta kepada seluruh amir wilayah agar berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengendalikan program militer secara cermat dan tidak terlalu longgar dalam masalah tatarrus. Karena beberapa amaliyat yang dilakukan mujahidin yang dalam amaliyat tersebut ada kaum muslimin yang menjadi korban, itu masih memungkinkan untuk dicapai target serangannya dengan tanpa harus mengenai kaum muslimin. Hal itu dapat dilakukan dengan menambah sedikit kerja keras dan kehati-hatian. Demikian juga ada sebagian amaliyat yang seharusnya dibatalkan lantaran adanya kemungkinan jatuhnya masyarakat sipil menjadi korban tanpa ada kepentingan yang mendesak. Misalnya adalah amaliyat-amaliyat yang menargetkan beberapa pentolan kafir pada saat mereka melakukan kunjungan di tempat-tempat umum yang di sana terdapat kaum muslimin awam, padahal masih memungkinkan untuk diserang dengan di tempat yang jauh dari kaum muslimin.

Terjadinya kesalahan-kesalahan semacam ini adalah masalah besar karena tidak samar lagi bagi kalian betapa diharamkannya darah orang Islam, belum lagi kerugian yang berdampak kepada jihad lantaran menjauhnya masyarakat umum dari mujahidin akibat semua itu. Oleh karena itu semua ikhwah di wilayah wajib menyampaikan permintaan maaf dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Lalu harus ditanyai orang yang melakukan kesalahan lantaran beberapa keteledoran yang menyebabkan kesalahan itu terjadi dan apa saja prosedur yang ditempuh agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang lagi.

Khusus mengenai kesalahan yang bersifat manusiawi, yang terjadi di luar kehendak manusia sebagaimana yang sering terjadi dalam perang, maka harus disampaikan permintaan maaf dan pernyataan bertanggung jawab, serta penjelasan mengenai sisi-sisi kesalahannya. Dan terkadang yang menjadi korban secara tidak sengaja itu adalah orang-orang fasik. Yang seperti ini hendaknya jangan disinggung tentang kefasikan mereka, karena pada saat itu keluarga mereka lagi tengah berduka, sementara musuh sangat antusias dalam menunjukkan bahwa kita ini adalah orang-orang yang tidak peduli dengan mereka.

Dan jika terjadi keteledoran yang dilakukan oleh para para ikhwah di wilayah dalam persoalan ini, maka kita harus bertanggung jawab dan menyampaikan permintaan maaf atas apa yang terjadi.

Selain itu harus ditekankan kepada semua ikhwah mujahidin atas pentingnya sikap yang, jujur, menepati perjanjian dan menjauhi pengkhianatan.

Juga harus diminta kepada para amir wilayah agar menugaskan seorang ikhwah di antara mereka yang memiliki kemampuan untuk memantau bagian media mereka dari semua sisi yang telah kita sebutkan di atas. Yaitu dari sisi syar’i, dan dari sisi memperhatikan opini umat Islam secara umum yang tidak bertentangan dengan syari’at.

Kepada ikhwah yang ditunjuk itu sendiri juga harus diminta untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dirinya pada semua bidang yang berkaitan dengan tugasnya, termasuk di dalamnya adalah membaca buku-buku tentang berinteraksi dengan orang lain. Karena kedepannya dia akan memiliki jangkauan interaksi yang luas bersama para ikhwah lainnya. Juga membaca buku-buku yang menjadi referensi dalam bidang publikasi media, supaya rilisan-rilisan mujahidin itu memiliki daya saing yang baik dan dapat menarik masyarakat. Karena yang menjadi misi utama dari rilisan-rilisan tersebut di antaranya adalah menyebarkan kesadaran di tengah-tengah umat Islam untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan penguasa.

Dia sendiri sesuai dengan perannya harus berusaha memperbaiki kemampuan para ikhwah yang terlibat dalam bagian media, juga hendaknya memberikan nasehat yang bersifat umum kepada orang-orang yang mengeluarkan penjelasan, ceramah, buku dan makalah, serta orang-orang yang memberikan komentar dalam film-film jihad supaya mereka semua dapat membantunya dalam membuat media jihad di wilayahnya bisa lebih objektif dan dapat diterima oleh umat.

Dan ikhwah itu sendiri hendaknya menduduki jabatan sebagai penanggung jawab media sebagaimana yang berlaku di semua wilayah sekarang, atau bisa juga membuat satu job baru – direktur umum untuk semua bidang media – untuk di setiap wilayah sehingga semua rilisan tidak dipublikasikan kecuali setelah dikaji, yang termasuk di dalamnya adalah ceramah para qiyadah. Ikhwah ini sendiri memiliki hak untuk membekukan rilisan apapun yang padanya terdapat kata-kata yang dipandang keluar dari strategi umum, baik ditinjau dari materinya maupun dari waktu publikasinya. Lalu dilakukanlah dialog dan pemberitahuan kepada pihak yang hendak mempublikasikannya bahwa rilisan tersebut bertentangan dengan strategi umum, dan memalingkan pandangan umat dari misi terbesar mujahidin, seperti masalah Palestina, serta membantu musuh dalam memperburuk citra mujahidin. Karena pada tahap ini sangatlah besar kekhawatiran kita dari dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perilaku dan kata-kata sebagian mujahidin terhadap mujahidin sendiri.

Di antara contohnya adalah pada saat kaum muslimin awam berada pada puncak simpati mereka kepada Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) yang tengah menuju Gazza untuk membuka blokade dan mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk keluarga kita di sana, yang kemudian terjadi penghadangan yang dilakukan oleh Yahudi dengan kekuatan senjata serta pembunuhan terhadap beberapa orang yang ada dalam rombongan tersebut. Peristiwa itu mendorong Turki untuk campur tangan sehingga membuat kasus Freedom Flotilla tersebut sangat ramai di media yang kemudian para petinggi negara-negara barat terpaksa angkat bicara mengenai kasus tersebut dan mengkritik Israel. Pada saat seperti itu dipublikasikan di sebuah situs internet sebuah ceramah wakil Abu Bashir di Yaman, yakni saudara kita Sa’id Asy Syihri, di mana di antara yang nampak menonjol di media adalah apa yang dia katakan tentang penangkapan seorang akhwat di negeri dua tanah suci dan permintaannya kepada para mujahidin di sana agar melakukan amaliyat penculikan terhadap orang-orang Barat dan para pemimpin dari keluarga kerajaan Saudi dan para aparat keamanan seniornya untuk membebaskan akhwat tersebut.

rilisan

Kapal Mavi Marmara misi kemanusian Gaza Freedom Flotilla, 10 aktivis kemanusiaan tewas akibat serbuan israel terhadap kapal bantuan kemanusiaan tersebut

Setelah dipublikasikannya ceramah tersebut stasiun TV Al ‘Arabia memanfaatkannya secara besar-besaran dan fokus, serta menjadikannya sebagai berita pertama di setiap siaran beritanya, lalu mengundang laki-laki dan pemuda dari kalangan awam di jalan-jalan, menurut pengakuannya, juga sejumlah ulama’ su’ dan petinggi pemerintah, yang tentunya tidak diragukan lagi bahwa sebagian mereka adalah orang-orang yang diterima oleh sebagian orang yang tidak memahami jati diri mereka, untuk memberikan komentar terhadap rekaman ceramah tersebut lalu mereka menyampaikan baik secara terang-terangan maupun sindiran sesuai dengan kadarnya masing-masing, bahwa mujahidin itu tidak memiliki kepedulian sama sekali tentang kasus Palestina dan blokade yang di alami saudara-saudara kita di Gazza. Akan tetapi yang menjadi kepentingan mereka itu hanyalah membunuh, membuat kerusakan dan bermusuhan dengan aparat keamanan, bukan dengan penjajah Yahudi.

Memang tidak diragukan bahwa perilisan ceramah semacam ini adalah karena adanya dorongan emosi untuk membela darah dan kehormatan kaum muslimin, dan emosi yang dilakukan saudara kita ini adalah emosi yang terpuji yang akan mendapatkan pahala. Akan tetapi hal ini tidaklah tepat dengan situasi. Di mana pada saat 1,5 juta kaum muslimin diblokade, yang setengah lebih dari jumlah tersebut adalah wanita dan anak-anak. Sementara kaum muslimin yang tengah ditawan Yahudi lebih dari 10 ribu dimana banyak di antaranya adalah akhwat dan anak-anak. Ini adalah situasi yang sangat memprihatinkan ini. Keluarnya ceramah pada situasi seperti ini tentu bertentangan dengan strategi kita dalam memfokuskan diri kepada musuh terbesar, dan menyamarkan perhatian kita terhadap kasus-kasus mendasar yang menjadi alasan kenapa kita memulai jihad, serta mengisyratkan kepada masyarakat bahwa kita ini tengah berperang dan bermusuhan dengan pemerintah dalam rangka membalas dendam untuk ikhwan-ikhwan kita yang mereka bunuh dan mereka tawan, jauh dari kasus yang tengah dihadapi dan diderita umat Islam padahal untuk itulah para ikhwah kita harus mengalami pembunuhan dan penangkapan. Hal ini juga memberikan cap buat kita bahwa kita itu orang-orang yang fanatik dengan daerah atau kelompok atau keduanya. Karena mereka mendengar bahwa saudara kita ini berbicara tentang seorang akhwat Jazirah Arab dan anggota organisasi Al Qaeda, dan mereka tidak mendengar saudara kita ini berbicara tentang akhwat-akhwat kita di Palestina. Tentu saja hal ini adalah tidak sesuai dengan hakekat kita dan strategi umum kita, juga akan melemahkan posisi kita sebagai organisasi internasional yang berjihad untuk memerdekakan Palestina dan seluruh negeri kaum muslimin, dan untuk menegakkan khilafah Islamiyah yang berhukum dengan syari’at Allah.

Kesalahan semacam ini juga telah terjadi sebelumnya di dalam pernyataan para ikhwah Yaman yang menyatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebuah amaliyat besar yang dilakukan oleh Umar Al Faruq fakkallahu asrah. Di dalam pernyataan tersebut para ikhwah mengatakan bahwa amaliyat tersebut dilakukan sebagai balasan atas bombardir yang dilakukan oleh Amerika di provinsi Mahfad. Mengaitkan amaliyat yang sangat besar semacam ini dengan selain kasus Palistina sungguh akan menutupi sebagian sikap yang nampak lainnya yaitu bahwa para ikhwah Yaman tersebut tengah melakukan perjuangan terhadap kasus Palestina. Ditambah lagi dengan kesibukan harian para ikhwah dalam perang melawan pemerintah Yaman dan fokus para ikhwah terhadap para penguasa penting di Semenanjung Arabia di dalam ceramah-ceramah mereka yang menyedot perhatian masyarakat bahwa musuh utama dan terbesar mujahidin di Semenanjung Arabia itu adalah penguasa Yaman dan penguasa negeri Dua Tanah Suci (Saudi).

Kesalahan ini juga terulang dalam komentara para ikhwah atas amaliyat yang dilakukan saudara kita Humam Al Balawi rahimahullah, di mana para ikhwah mengatakan bahwa amaliyat ini merupakan pembalasan atas terbunuhnya Mahsud rahimahullah, padahal semestinya yang paling utama dibicarakan adalah masalah Palestina.

Dan di antara yang dapat membatu kita dalam persoalan ini adalah hendaknya persepsi global dan strategi umum itu jelas di benak kita supaya kita dapat menghindari kesalahan atau menghindari sikap yang terlalu asyik dan terlalu berlebihan dengan sesuatu melebihi apa yang lebih prioritas dan lebih penting.

Yang menjadi prioritas dalam program dakwah adalah menjelaskan pengertian dan konsekuensi-konsekuensi kalimat Tauhid, serta mengingatkan orang agar tidak terjerumus dalam perkara-perkara yang membatalkannya. Juga memompa semangat umat Islam untuk berjihad melawan aliansi Salibis-Zionis.

Sedangkan prioritas dalam program militer adalah fokus dan memberikan porsi yang paling besar kepada gembong kekafiran internasional. Adapun fokus kepada orang-orang murtad dan banyak bernicara tentang mereka yang tidak dipahami oleh mayoritas umat, yang kemudian umat tidak meresponnya namun justru banyak di antara mereka yang menjauh dan menjadikan kita berjalan di sebuah lingkungan yang tidak dapat melindungi gerakan jihad, dan selanjutnya lingkungan tersebut tidak akan memberikan bantuan kepada kita untuk keberlangsungan dan kesinambungan jihad. Saya juga berpendapat hendaknya dikaji ulang tentang mempublikasikan pembunuhan terhadap orang-orang murtad yang bekerja sama dengan Amerika atau dengan pemerintah murtad dalam memusuhi kaum muslimin.

Setelah para ikhwah di semua wilayah berkomitmen dengan apa yang dijelaskan dalam buku panduan tersebut, alangkah baiknya jika antum dan Syaikh Abu Yahya Al Libi menulis beberapa makalah nasehat untuk para aktifis media jihad secara umum termasuk di antaranya adalah para penulis yang membela mujahidin di situs-situs internet. Karena Syaikh Yunus telah menulis surat kepada saya mengenai pentingnya membuat sebuah buku panduan yang mennjelaskan sikap kita dalam masalah takfir yang tidak terkontrol dengan kaedah-kaedah syar’i. Lalu saya menulus surat balasan kepadanya bahsa saya akan mengirimkan kepadamu apa yang telah dia kirimkan kepadakku. Dan surat tersebut saya lampirkan di akhir surat. Dan saya meminta kepadanya agar terus mengirimkan catatan-catatannya kepadamu supaya engkau yang menulisnya dengan gaya bahasamu, menimbang karena musuh bisa saja mengenali jati dirinya melalui para tawanan yang mereka kenal gaya bahasanya setelah mereka mengkaji makalah-makalahnya di situs internet.

Sebelum saya akhiri pembicaraan mengenai aspek rilisan media, saya katakan:

Kita ini perlu untuk membaca untuk memberikan nasehat dan kritik membangun terhadap semua strategi dan rilisan kita, baik di pusat maupun di wilayah. Yang secara internal bisa dengan cara menugaskan dua ikhwah untuk konsentrasi pada tugas ini. Sedangkan secara eksternal bisa dengan cara mengirimkannya kepada seorang penuntut ilmu yang dapat dipercaya dan amanah dengan menggunakan cara-cara yang aman. Engkau beritahukan kepadanya bahwa kita ini tengah berada pada tahapan baru yakni tahapan revisi dan mengembangkan. Maka kami ingin dilakukan kajian dalam rangka memberikan masukan dan pengembangan untuk semua strategi dan rilisan kita baik di tingkat pusat maupun di tingkat wilayah. Kita revisi kesalahan-kesalahan kita dan kita kembangkan program jihad kita dengan usulan-usulan dan pendapat-pendapat, terutama mengenai cara berkomunikasi dengan masyarakat baik dari sisi materi maupun tampilan.

Dengan mengjaga agar semua itu tetap dirahasiakan dan tidak dipublikasikan, wallahul muwaffiq.

Catatan penting: setelah engkau menyampaikan pendapat dan usulanmu kepadaku, dan setelah kita bermusyawarah, maka apa yang telah kita tetapkan hendaknya kita kirim kepada para amir wilayah dan kita minta membalas apa yang akan kita kirimkan kepada mereka tersebut.

Karena saya berniat untuk mempublikasikan sebuah penjelasan yang di dalamnya saya akan jelaskan bahwa kita tengah memulai sebuah tahap baru untuk merevisi sebagian apa yang terlanjur kita lakukan, yang dengan penejlasan tersebut dengan ijin Allah kita akan dapat mendapatkan kembali kepercayaan sebagian besar umat yang telah hilang kepercayaan mereka kepada mujahidin, dan kita ingin memiliki jalur komunikasi antara mujahidin dengan umat mereka.

Dan sebelum kita sampaikan hal ini kepada masyarakat dan kita yakinkan mereka, maka semua ikhwah baik di pusat maupun di wilayah haruslah telah memahami, bahkan telah mematuhi dan mempraktekkannya di lapangan sehingga apa yang kita katakan tersebut tidak bertentangan dengan beberapa tindakan kita. Dan sebagai langkah awal hendaknya semua ikhwah yang terlibat dalam media Al Qaedah pusat agar komitmen menjauhi apa saja yang dapat menimbulkan dampak negatif pada pandangan umat terhadap mujahidin, dan agar bersungguh-sungguh melakukan segala sesuatu yang dapat mendekatkan mujahidin dengan umat mereka. Dalam masalah ini di antara prinsip-prinsipnya adalah memperhatikan opini umum atau kondisi umum sesuai dengan kaedah-kaedah syari’at Islam. Ini adalah perkara yang sangat penting sekali yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

لو لا أن قومك حديث عهد بجاهلية لهدمت الكعبة لها بابان

Kalau bukan karena kaummu baru saja keluar dari masa jahiliyah pasti akan aku hancurkan Ka’bah dan pasti aku buat dia memiliki dua pintu. (HR. At Tirmidzi)

Dan sesungguhnya di antara perkara yang mendominasi opini umum itu adalah menjauhi kekerasan dan cenderung kepada kelembutan dan objektif dan tidak menyukai pengulangan-pengulangan dalam pembicaraan kecuali ketika ada kebutuhan yang mendesak. Dari sini maka kita harus berusaha memperluas dan menambah wawasan dalam pemahaman realita dan kasus-kasus baru supaya pembicaraan kita menyentuh masyarakat umum dan perhatian mereka, sambil memperbaiki persoalan-persoalan aqidah yang penting.

 

(RF)

Baca juga, KRITIK TERHADAP MEDIA JIHAD bagian 1

INDIA LARANG MUSLIM KASHMIR SHALAT IEDUL ADHA