Duniaekspress.com, 31 Juli 2020.  Sebagian tokoh ulama yang menisbatkan diri sebagai kelompok salafi mengatakan bahwa setiap orang yang memberontak kepada penguasa muslim adalah khawarij, meskipun penguasa tersebut bersifat lalim dan melakukan dosa besar. Dalil yang digunakan adalah beberapa qaul ulama salaf seperti di bawah ini:

Imam as-Syahrastani mendefinisikan  Khawarij sebagai berikut:

كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يسمى خارجياً، سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على التابعين لهم بإحسان والأئمة في كل زمان

“Setiap orang yang keluar menentang pemimpin yang sah yang telah diputuskan oleh masyarakat disebut sebagai Khawarij,  baik penentangan itu terjadi di masa sahabat terhadap para Khulafaur Rasyidin atau terjadi setelah mereka terhadap para tabiin yang baik dan para pemimpin di setiap zaman”. (as-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, juz I, halaman 113).

Al-Imam al-Barbahari berkata dalam Syarhus Sunnah: “Setiap orang yang memberontak kepada imam (pemerintah) kaum Muslimin adalah Khawarij, dan berarti dia telah memecah belah kesatuan kaum Muslimin dan menentang Sunnah, serta matinya seperti mati Jahiliyyah.” (kitab Syarhus Sunnah hal. 76, no. 33 oleh al Imam al Barbahari, tahqiq Syaikh Abu Yasir Khalid ar-Raddadi, cet. II, th. 1418 H.)

Sementara itu dari kelompok takfiri, seperti kelompok daulah (IS) tidak mengingkari hal tersebut, sama-sama memahami bahwa khawarij definisinya adalah yang keluar dari imam atau amir kaum muslimin, hanya saja yang dipertanyakan adalah kepada siapa kelompok mereka memberontak? mereka merasa bahwa yang mereka lawan adalah pemerintah kafir yang tidak memegakkan hukum islam, dan pemimpinnya pun adalah thaghut meskipun masih sholat dan zakat. dan tidak mungkin sejarahnya kelompok khawarij itu menegakkan syari’at Alloh.

Makna Khawarij yang Lebih Lengkap

Mari kita dudukkan masalah ini pada tempatnya. Kita mulai dari defenisi khawarij menurut ulama salaf selain yang di atas yang memuat adanya kelompok khawarij kontemporer (masa kini), yaitu selain yang hanya menyebut keluar dari kepemimpinan Ali ra :

Ibnu Hazm berkata “Dan siapa yang setuju dengan Khawarij berupa ingkar terhadap tahkim, mengkafirkan para pelaku dosa besar, keluar dari imam yang juur (lalim), menganggap pelaku dosa besar kekal di neraka, dan menganggap Imamah (kempemimpinan) itu boleh untuk selain Quraisy maka dia adalah Khawarij” (Abu Muhammad bin Hazm ad-Dzahiri, Al-Faslu fil Milal wal Ahwa wan Nihal, (Mesir, Maktabah al-Khaanaji), Juz. 2 Hal.113)

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Mereka adalah kaum Mubtadiun dinamakan dengan itu karena keluarnya mereka dari agama dan dari para orang-orang terbaik kaum muslimin” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, (Matba’ah as-Salafiyah, cet: 2, 1310 H), Juz.2 Hal.283)

Dari defenisi ini dapat disimpulkan bahwa khawarij bukan hanya sekedar keluar atau memberontak kepada penguasa baik secara kekuatan maupun ucapan, tetapi  juga mengkafirkan pelaku dosa besar (atau bisa juga sesuatu perbuatan yang dianggap syirik padahal bukan), dan juga mencakup keluarnya mereka dari jama’ah terbaik kaum muslimin.

Di dalam kitab al-Fiqhu ala al-Madzahib al-Arba’ah disebutkan bahwa para ulama (empat imam madzhab) berkata “apabila ada sekelompok golongan yang mempunyai ideologi bid’ah Khawarij yang mengkafirkan para pelaku dosa besar, mencela para pemimpin, dan tidak ikut hadir bersama mereka di dalam shalat Jum’at dan Jamaah. Maka mereka dibiarkan dan kami tidak mengkafirkan serta memerangi mereka, selama tidak keluar dari ketaatan kepada imam dan tidak memerangi seseorangpun” (Al-Fiqhu ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, Juz.5 Hal.368-369).

Dari defenisi di atas maka khawarij tidak mesti memberontak dengan senjata, tetapi bisa berupa ucapan (celaan), atau mumfarid dari sholat berjama’ah, dan dengan ciri pengkafiran.

Fenomena Abu Maryam al-mukhlif dan Syukri Mustofa

Jika ciri utama kelompok khawarij itu harus memberontak /melawan penguasa yang lurus, maka kelompok Abu Maryam al-Mukhlif dan kelompok Sukri Mustofa (jama’ah takfir wal hijrah) tentu tidak masuk ke dalam kelompok khawarij. Karena keduanya tidak memberontak kepada amirul mukminin, atau penguasa Islam yang menegakkan hukum Alloh. Padahal kedua kelompok tersebut adalah dua dari beberapa kelompok yang sudah mahsyur (terkenal) sebagai kelompok khawarij abad ini.

Syaikh ‘Athiyatullah al-Liby dalam “jawaabu su’al fie jihad daf’i” membahas aqidah dan manhaj Abu Maryam al-Mukhlif yang sesat ini, silahkan klik di sini >> ADAKAH KESAMAAN FAHAM GHULUW(EKSTREM) JAMA’AH ABU MARYAM AL MUKHLIF DENGAN JAMA’AHNYA ABU BAKAR AL-BAGHDADI(ISIS/IS) DALAM MENGKAFIRKAN MASAL KAUM MUSLIMIN DI LUAR KELOMPOKNYA ?

 

Defenisi Bughot

Ternyata kelompok yang memberontak terhadap penguasa muslim yang adil dan lurus bukan hanya khawarij, tetapi ada juga yang disebut dengan Bughot.

Bughot berasal dari akar kata bagha, yang berarti “melampaui batas”. Bughot dilarang menurut fiqih dan pelakunya harus diperangi. Motivasinya bisa karena menuntut hak, ambisi jabatan, ambisi dunia, kepentingan kelompok, kesalahpahaman atas sebuah persoalan, dan lain-lain (At Tasyri’ Al Jina’i. Abdul Qadir Audah. II/673. Muassasah Risalah). Tentunya tidak masuk dalam defenisi ini yaitu kelompok atau orang yang melawan karena kezaliman seperti yang dilakukan Husein bin Ali, Penduduk Madinah dalam perang Harrah, dan mereka yang melawan Hajjaj bin Yusuf.

Kalimat bughot ada di dalam Al-qur’an :

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian (baghat) terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat: 9)

Istilah Syar’i

  • Bughot adalah mereka orang-orang yang keluar dari imam yang sah, tanpa hak (dibenarkan). (Dr. Sa’di Abu Habib, al-Qaamus al-Fiqhi Lughotan wa Istilahan, Damaskus, Daar al-Fikri, Cet: 2, 1408 H/1988 M, Juz.1 Hal.40)
  • Mereka adalah orang-orang yang menampakkan diri bahwasanya mereka adalah orang-orang yang benar dan imam adalah seorang yang salah, kemudian mereka memeranginya atau berkeinginan untuk memeranginya dan mereka mempunyai pasukan dan kekuatan. (al-Husain as-Shan’ani) (Dr. Sa’di Abu Habib, al-Qaamus al-Fiqhi Lughotan wa Istilahan, Damaskus, Daar al-Fikri, Cet: 2, 1408 H/1988 M, Juz.1 Hal.40)
  • Ibnu Qudamah berkata “kaum dari ahlul haq, mereka keluar dari imam, serta ingin menggulingkan kepemimpinannya disebabkan ta’wil yang diperbolehkan serta mereka mempunyai kekuatan, yang di dalam meredekan aksi mereka dibutuhkan pasukan, maka mereka itulah kelompok Bughot.” (Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni, Beirut, Daar al-Fikri 1405 H,Juz.10 Hal.46)

=======================

Apakah Khawarij Menegakkan Hukum Allah?

Syekh al-Ajurri berkata:

لم يختلف العلماء قديماً وحديثاً أن الخوارج قوم سوء، عصاة لله –عز وجل- ولرسوله -صلى الله عليه وسلّم-، وإن صلّوا وصاموا، واجتهدوا في العبادة، فليس ذلك بنافع لهم، وإن أظهروا الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وليس ذلك بنافع لهم؛ لأنهم قوم يتأولون القرآن على ما يهوون، ويموّهون على المسلمين . ..ثُمَّ إِنَّهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ خَرَجُوا مِنْ بُلْدَانٍ شَتَّى، وَاجْتَمَعُوا وَأَظْهَرُوا الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ، حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ، فَقَتَلُوا عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَقَدِ اجْتَهَدَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ كَانَ بِالْمَدِينَةِ فِي أَنْ لَا يُقْتَلَ عُثْمَانُ، فَمَا أَطَاقُوا عَلَى ذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Para ulama klasik dan kontemporer tak berbeda pendapat bahwa Khawarij adalah kaum yang buruk yang bermaksiat kepada Allah. Meskipun mereka menampakkan amar ma’ruf nahi munkar  tetaplah tak berguna sebab mereka mengartikan al-Qur’an sesuai selera mereka dan memburukkan citra kaum Muslimin. …  Kemudian setelah itu, para Khawarij keluar dari berbagai negeri dan berkumpul menampakkan amar ma’ruf nahi munkar  hingga mereka tiba di Madinah kemudian membunuh Utsman bin Affan ra. Para sahabat Rasulullah ﷺ yang ada di Madinah berusaha agar Utsman tak dibunuh, tapi mereka tak berhasil”. (al-Ajurri, asy-Syarî’ah, I: 327).

Dari itu kelompok khawarij bukan kelompok yang mencampakkan hukum-hukum Islam, tetapi mereka menegakkannya tetapi dengan cara yang berlebihan (ghuluw), keghuluwan mereka misalnya:

Khawarij Azariqah  Dalam hal fikih, mereka mengingkari hukum rajam dan memperbolehkan mengingkari amanat. Selain itu mereka memotong tangan pencuri tanpa peduli seberapa kecil barang yang dicurinya sebab mereka tak memberlakukan batas minimal pencurian (Abdul Qahiral-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 62-64).

Dalam satu kesempatan perkumpulan mereka, tokoh khawarij, Zaid bin Hishn at-Thai berkhutbah menasehatkan mereka, dengan membaca beberapa firman Allah, diantaranya, firman Allah,

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” (QS. Shad: 26).

Lalu firman Allah,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. al-Maidah: 44).

Kemudian firman Allah,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. al-Maidah: 45)

dan firman Allah,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Maidah: 47)

Lalu dia melanjutkan khutbahnya, “Saya bersaksi bahwa para ahli kiblat (kaum muslimin) telah mengikuti hawa nafsu, membuang hukum Allah, dan berbuat dzalim dalam ucapan dan perbuatan”.

Hingga salah satu diantara mereka menangis, dan memotivasi orang disekitarnya untuk memberontak Ali dan para sahabat. Dia mengatakan,

اضربوا وجوههم وجباههم بالسيوف حتى يطاع الرحمن الرحيم، فإن أنتم ظفرتم وأطيع الله كما أردتم أثابكم ثواب المطيعين له العاملين بأمره

Sabet wajah dan jidat mereka dengan pedang, agar Dzat yang Maha ar-Rahman ar-Rahim kembali ditaati. Apabila kalian menang, dan aku mentaati Allah sebagaimana yang kalian inginkan, Allah akan memberikan pahala kepada kalian seperti pahala orang yang taat kepada-Nya, mengamalkan perintah-Nya.!!?

—-

Dari khutbah tokoh khawarij, Zaid bin Hishn at-Thai ini menunjukkan bahwa kelompok khawarij menganggap bahwa kaum muslimin di luar kelompok mereka tidak menegakkan, atau mencampakkan hukum-hukum Islam.

===============

Status Khawarij Diperselisihkan

Para Fuqoha berbeda pendapat di dalam memvonis kafir orang-orang Khawarij, ada dua pendapat yang masyhur dalam hal ini

  • Jumhur Fuqaha dan ahlu Hadis menghukumi mereka sebagaimana kelompok Bughot, dan kalangan Malikiyah berpendapat mereka mendapatkan Istitabah jika bertaubat, dan tetap diperangi jika tidak bertaubat untuk mencegah kerusakan yang mereka timbulkan bukan karena kekafirannya.
  • Sebagian ahli hadis menganggap Khawarij adalah kelompok murtad, dan riwayat ini terdapat dikalangan Hanabilah. Dalil yang digunakan pendapat ini adalah Hadis yang diriwayatkan sahabat Abu Said r.a bahwasanya beliau mendengar Rasulullah saw bersabda;

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يَنْظُرُ فِي النَّصْلِ فَلَا يَرَى شَيْئًا وَيَنْظُرُ فِي الْقِدْحِ فَلَا يَرَى شَيْئًا وَيَنْظُرُ فِي الرِّيشِ فَلَا يَرَى شَيْئًا وَيَتَمَارَى فِي الْفُوقِ

Akan ada suatu kaum yang berada ditengah-tengah kalian, dan kalian akan meremehkan shalat kalian bila melihat shalat mereka, begitu juga dengan shaum kalian jika melihat shaum mereka, serta amal kalian jika melihat amal mereka. Akan tetapi, mereka membaca Al Qur`an, namun bacaan mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan, mereka keluar dari Din, sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Ia melihat pada ujung panahnya, namun ia tidak mendapatkan sesuatu, kemudian melihat pada lubangnya, juga tak menemukan sesuatu, lalu ia melihat pada bulunya juga tidak melihat sesuatu. Ia pun saling berselisih akan ujung panahnya”. (HR. Bukhari & Malik)

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda beliau namun lemah pemahaman (kurang kekayaan intelektual). Mereka berbicara dengan ucapan manusia terbaik (mengambilnya dari Al Qur’an) namun mereka keluar dari agama bagaikan anak panah melesat keluar dari target buruan yang sudah dikenainya. Iman mereka tidak sampai ke tenggorokan mereka. Maka dimana saja kalian menjumpai mereka, bunuhllah mereka karena pembunuhan atas mereka adalah pahala di hari qiyamat bagi siapa yang membunuhnya“. (HR. Bukhari)

Amanullah Muhammad Shadiq di dalam Tesisnya menyebutkan, imam Syaukani di dalam kitab Nailul Authar berkata “Ulama yang secara Sharih mengkafirkan Khawarij adalah al-Qhadi Abu Bakar bin al-Arobi di dalam kitab Syarh Tirmidzi, yang mana beliau berkata; “Yang benar mereka adalah orang kafir, sebagaimana sabda Rasululllah saw يمرقون من الدين juga sabdanya لأقتلنهم قتل عاد

Ibnu Qudamah berkata “Dan yang benar Insya Allah diperbolehkan memerangi kelompok Khawarij terlebih dahulu  dan mempersiapkan kekuatan untuk melukai mereka, hal ini sebagaimana perintah Nabi saw untuk memerangi mereka dan adanya janji pahala bagi siapa yang memerangi mereka.” (Al-Mughni, Juz.10 Hal.46)

Status Bughot

Jumhur Ulama telah sepakat bahwa bahwa Bughot merupakan golongan orang-orang yang beriman. Hal ini berdasarkan firman Allah swt.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil”. (QS. Al-Hujurat: 9)

Al-Umrani berkata “Sesunguhnya Bughot tidak keluar dari keimanan, karena Allah telah menamai mereka dengan orang-orang mukmin di saat mereka melakukan Bughot” (Muhammad bin Musa bin Imran al-Umrani, al-Bayan, (Beirut, Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 1423 H/2002 M), Juz. 12 Hal.8)  Dikalangan Hanabilah Ibnu Qudamah (Al-Mughni, Juz.10 Hal.46)  dan Abu Naja al-Hijawi (al-Iqna, Juz.4 Hal.293) mengatakan bahwa Bughot adalah dari golongan ahlul haq.

Ibnu Taimiyah berkata;

وَأَمَّا أَهْلُ الْبَغْيِ الْمُجَرِّدِ فَلَا يَكْفُرُونَ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الدِّينِ ؛ فَإِنَّ الْقُرْآنَ قَدْ نَصَّ عَلَى إيمَانِهِمْ وَإِخْوَتِهِمْ مَعَ وُجُودِ الِاقْتِتَالِ وَالْبَغْيِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Adapun Bughot maka tidak dikafirkan berdasarkan kesepakatan para imam agama (ulama), karena al-Quran telah menetapkan keimanan dan persaudaraan atas mereka, walaupun terdapat saling perang dan permusuhan” (Majmu’ al-Fatawa, Juz.35 Hal.57)

Kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanafiyah berpendapat orang-orang Bughot disholatkan jika tidak ada sekelompok orang (Bughot) yang menshalatinya, akan tetapi jika ada yang mensholati mereka  maka kaum muslimin tidak mensholati mereka. Sedangkan Khawarij menurut Jumhur ulama tidak di shalati, hal ini sebagaimana perkataan imam Ahmad “Ahlu Bid’ah jika mereka sakit, maka jangan kamu menjenguk mereka dan jika mati maka jangan kamu menshalati mereka”. imam Malik berkata “Tidak di shalati orang-orang Ibadhiyah, Qodariyah dan seluruh ahlu Ahwa’ dan tidak pula di iringi jenazah mereka serta tidak pula dijenguk orang yang sakit diantara mereka”. (Al-Mughni, Juz.10 Hal.64)

KESIMPULAN : 

  1. Pemberontakan kepada penguasa Islam yang disepakati kaum muslimin yang adil dan lurus bisa terkategori bughot, bisa juga khawarij. Secara latar belakang, bedanya jika bughot itu didasari motivasi menuntut hak, jabatan, salah tafsir, dsb, sedangkan khawarij didasarkan kepada pengkafiran yang tidak semestinya. Sementara pemberontakan kepada penguasa yang zalim, apalagi sudah jatuh pada kufur bawahan justru adalah ahlu Haq, bukan bughot maupun khawarij.
  2. Ciri utama khawarij bukanlah memberontak kepada penguasa (amir) islam yang adil, tetapi dari sikap mengkafirkan kaum muslimin, karena kelompok-kelompok ghulat takfiri /khawarij modern seperti Abu Maryam al-Mukhlif dan Syukri Mustofa tidak memberontak kepada amirul mu’minin.
  3. Khawarij adalah kelompok yang menegakkan syari’at (hukum-hukum) Alloh namun dengan cara yang ghuluw (berlebih-lebihan), bukan kelompok yang mencampakkan hukum-hukum Alloh seperti kaum sekuler.
  4. Bughot statusnya masih diperlakukan sebagai muslim, sementara khawarij, ulama berbeda pendapat apakah masih muslim atau sudah kategori murtad.

Wallohu a’lam bis showaab.

(Abu Usamah)

Baca juga, KRITIK TERHADAP MEDIA JIHAD bagian 1