DUNIAEKSPRESS.COM (1/8/2020)- Irak telah mengirim bala bantuan ke perbatasannya dengan Suriah dan negara-negara perbatasan lainnya setelah dua perwira senior tentara tewas dalam serangan oleh ISIS di provinsi barat Anbar.

Brigadir Jenderal Ahmed Al-Lami, komandan Brigade ke-29 Angkatan Darat, dan seorang letnan terbunuh dalam serangan Daesh pada hari Selasa (28/7/2020).

Juru bicara militer Irak, Yahya Rasool mengatakan, sehari hari setelah serangan itu, bala bantuan militer dikirim ke perbatasan dengan Suriah dan negara-negara tetangga bersamaan dengan peluncuran operasi militer oleh tentara Irak untuk mencegah teroris menyusup ke perbatasan.

Dalam wawancara dengan stasiun TV lokal, Rasool menambahkan bahwa pasukan yang mengamankan perbatasan berasal dari tentara Irak dan Penjaga Perbatasan serta Pasukan Mobilisasi Populer.

Dia menambahkan bahwa teknologi modern, kamera termal dan drone digunakan untuk mengamankan perbatasan Irak.

Baca Juga:

ILEGAL, KEAMANAN SAUDI HENTIKAN 2.050 ORANG MASUKI KOTAS SUCI

APAKAH MEMBERONTAK KEPADA DAULAH ISLAM DAN TIDAK MENEGAKKAN HUKUM ISLAM ADALAH CIRI KHAWARIJ?

Tentara Irak telah meluncurkan operasi militer terus-menerus di utara, barat dan timur negara itu terhadap sel-sel tidur Daesh. Kelompok teroris baru-baru ini melakukan serangan terhadap sasaran militer, keamanan dan sipil.

Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dinyatakan kalah total di wilayah Suriah oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang didukung koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Hal ini menandai berakhirnya kepemimpinan kelompok ekstrim itu atas wilayah-wilayah Irak dan Suriah yang dikuasai selama hampir lima tahun terakhir.

Maret 2019: SDF menyatakan wilayah Baghouz yang menjadi basis terakhir ISIS berhasil dikuasai dan mengumumkan ‘kekalahan total’ ISIS di Suriah. Bendera kuning SDF dikibarkan di gedung-gedung Baghouz sebagai buktinya.

“Pasukan Demokratik Suriah menyatakan pembersihan total atas hal yang disebut kekhalifahan dan 100 persen kekalahan teritorial ISIS,” tegas juru bicara SDF, Mustefa Bali, dalam pernyataannya.