Jangan Mudah Mengkafirkan, wahai yang mengaku “jihadis” !

Duniaekspress.com. (24/08/2020). – Sering sekali para aktifis Islam dari Thiyyar Jihadis dari faksi ISIS mudah mengkafirkan kepada seorang muslim dengan alasan jatuh kepada kekafiran karena melakukan pembatalan ke Islam-an yang diklaim meruju pada tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab-nya Nawaqidul Islam (pembatalan keislaman).

Fenomena vonis Pengkafiran sesama muslim tersebut sejatinya hanyalah masalah sepele, seperti ikut nyoblos dalam pemilu karena fatwa ulama, atau menjadi ASN dan prajurit Polri-TNI, inilah kaidah yang banyak di sebut ulama sebagai metodologi Takfiri yang biasanya mereka berdebat selalu berputar masalah ini:

يكفر بذنب ويعتقدون ذنبا ما ليس بذنب

Mengakfirkan karena sebab dosa dan meyakini dosa yang sebetulnya bukan dosa

Deskripsi masalahnya biasanya seperti ini, Ketika ulama merinci sebuah persoalan status menjadi polisi dan tentara tetapi kita di tuduh tidak jelas aqidahnya dengan kaidah

من لم يكفر او شك في كفره فهو كافر

Barang siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu-ragu dengan kekafiran-nya maka dia Kafir

Atau ketika ada yang merinci boleh nya tanda tangan /sumpah kesetiaan kepada UUD 45 dan Pancasila dengan alasan siyasah dan maslahat tetapi di kafirkan juga, ini yang di sebut:

يكفر بذنب ويعتقدون ذنبا ما ليس بذنب

(mengkafirkan karena sebab dosa, dan meyakini sebuah dosa yang sebetulnya bukan dosa)

Dalam buku yang kami pernah kaji bahwasanya Imam Malik:

إمام مالك رحمه الله تعالى أنه قال:” لو احتمل المرء الكفر من تسعة وتسعين وجها، واحتمل الإيمان من وجه، لحملته على الإيمان، تحسينا للظن بالمسلم”

Imam Malik rahimahullah bahwasanya beliau berkata “Jika seseorang kemungkinan melakukan kekafiran dari 99 pintu dan kemungkinan dia beriman dari satu pintu, maka aku akan mengambil pintu keimanan sebagai bentuk husnuzhan (baik sangka) kepada seorang muslim” ( Al-Ushul Wal Asbab Wal Illaj hal. 13)

Bahkan Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’nya.

وقال ابن تيمية رحمه الله تعالى:” ومن المعلوم أن المنع من تكفير علماء المسلمين الذين تكلموا في هذا الباب؛ بل دفع التكفير عن علماء المسلمين وإن أخطئوا: هو من أحق الأغراض الشرعية؛ حتى لو فرض أن دفع التكفير عن القائل يعتقد أنه ليس بكافر حماية له، ونصرا لأخيه المسلم، لكان هذا غرضا شرعيا حسنا، وهو إذا اجتهد في ذلك فأصاب فله أجران، وإن اجتهد فيه فأخطأ فله أجر واحد ”

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: dan sudah di ketahui bahwa adanya larangan dari mengkafirkan para ulama kaum muslimin yang berkata dalam bab ini, bahkan mencegah mengkafirkan ulama kaum muslimin meskipun mereka salah, adalah termasuk tujuan syariat yang paling benar, bahkan sampai jika menahan diri dari pengkafiran mengharuskan orang yang berpendapat itu meyakini bahwa itu bukan kekafiran sebagai bentuk perlindungan baginya, dan pembelaan bagi saudaranya yang muslim maka itu adalah tujuan syariat yang baik. Yaitu jika dia berijtihad dalam hal itu dan benar maka dia dapat dua pahala dan jika dia berijtihad didalamnya lalu ia salah maka ia mendapat satu pahala ( Al-fatawa Al-Kubro 3/447 dan Majmu Fatawa 35/103).

 

Bahkan Merekapun (pengikut ISIS yang Ghuluw) tidak segan-segan menyuruh murid-muridnya untuk membunuh Ustad dan Kiyainya jika bikin bingung ummat.

يقول الغزالي رحمه الله في كتابه “فيصل التفرقة”: ينبغي الاحتراز عن التكفير ما وجد إليه سبيلا، فإن استباحة دماء المصلين المقرين بالتوحيد خطأ، والخطأ في ترك ألف كافر في الحياة أهون من الخطأ في سفك دم لمسلم واحد”

Berkata imam Ghozali di dalam kitabnya “Faisholut Taffaruqah” dawuh “Hendaknya berhati-hati dalam Takfir selama itu jalan, karena menghalakan darah orang yang sholat yang mengakui tauhid adalah salah, dan salah dalam meninggalkan seribu orang kafir untuk hidup itu lebih ringan daripada kesalahan menumpahkan darah satu orang muslim ( di kutip di Fathul Bari 12/372).

Pemahaman Takfiri di kalangan aktifis Jihadis ISIS atau semodelnya itu sudah merupakan fakta, bukan konspirasi, jadi tidak usah di tutup-tutupi apalagi di bela-bela.

begini-lah aktivis “jihadis” yang terpapar oleh faham khawarij, selalu percaya diri merasa diatas al-Haq (sebagaimana para pendahulunya kaum khawarij) memakai bawa-bawa nama Allah dalam pemahaman sesat mereka, mengajak bertakbir ketika menyembelih orang Islam, yang dihalalkan darah-nya oleh mereka adalah seorang alim, seorang muslim yang masih shalat. Tidak mau dibilang khawarij, maunya mereka dibilang jihadis. jihadis apa yang membunuh sesama muslim? (PR).

Oleh : Abu Jihad al-Indunisy

 

Baca juga, SIKAP BERLEBIHAN DALAM TAKFIR DAN BAHAYANYA BAGI HARAKAH ISLAM