Kemesraan rezim Bashar asad dengan komunitas Alawi kian memudar

Duniaekspress.com. (05/09/2020). – Suriyah – Kepemimpinan dan kekuasaan Bashar Assad di Suriah tentu tak lepas dari dukungan komunitas Alawi. Namun, perkembangan terkini menimbulkan tanda-tanda kekhawatiran bahwa kemesraan Assad-Alawi akan segera berlalu.

Perang sembilan tahun yang belum tampak akhirnya telah mengubah tatanan dasar masyarakat Suriah, lebih dari 85 persen warga Suriah kini hidup dalam kemiskinan. Hal itu mungkin saja bisa dianggap oleh komunitas Alawi sebagai salah satu bentuk pengkhianatan dari Bashar Assad.

Perekonomian Suriah kini telah runtuh. Dihancurkan oleh konflik dan korupsi, nilai pound Suriah kini semakin merosot. Gaji bulanan rata-rata adalah 50.000 pound atau setara dengan $ 25. Jumlah tersebut nyaris tak cukup untuk menutupi biaya sewa dan utilitas, bahkan untuk hidup di kota-kota kecil sekalipun.

Toko roti yang disubsidi negara kini menjadi salah satu jaring pengaman terakhir yang tersisa dan dibanjiri oleh kerumunan orang yang kelaparan. Antrian di pompa bensin memanjang hingga beberapa kilometer. Pengangguran, yang diperkirakan PBB mencapai 50 persen, diperparah oleh penyalahgunaan narkoba, konsumsi alkohol, dan trauma psikologis.

Heba (bukan nama sebenarnya), seorang guru dari Latakia menyebut kondisi kehidupan Suriah bagaikan mimpi buruk. Harga daging dan sayuran nyaris tidak terjangkau. Lima butir telur dihargai hingga seribu pound, atau dua persen dari pendapatan rata-rata. Roti tawar yang dicelup dengan teh, telah menjadi makanan utama. Heba berujar, bahwa keluarga yang tidak mendapatkan kiriman donasi menghadapi risiko kelaparan.

Seperti yang dirasakan Sawsan, seorang pensiunan guru yang suaminya mantan perwira militer, menegaskan bahwa dana pensiun mereka tidak bisa mencegah mereka dari kemungkinan kelaparan. “Setelah bertahun-tahun,” katanya, “Saya perlu meminta putri saya di luar negeri untuk mengirim uang agar kami bisa makan. Itu memalukan.”

Sementara itu, pemadaman listrik yang parah dan kekurangan air telah menjadi hal yang biasa. Pemadamam listrik umumnya terjadi dalam interval 3 jam dan pemadaman air dapat berlangsung selama berhari-hari.

Sebaliknya, elit Suriah, yang tergabung dalam dinasti Assad-Makhlouf, terus memamerkan gaya hidup mewah mereka dan di saat yang sama menuntut agar warga Suriah tetap teguh dalam menghadapi  apa yang mereka klaim sebagai “konspirasi internasional”.

Kesenjangan antara si kaya dan si miskin, yang diumbar di media sosial oleh kerabat Assad, mengikuti pola lama di pemerintahan yakni mengabaikan keluhan para loyalis.

Agustus lalu, putra Rami Makhlouf, Mohammed memamerkan koleksi mobil sportnya di medsos. Tentu saja hal tersebut memicu kemarahan di komunitas Alawi. Assad menanggapinya dengan menyangkal adanya “penyimpangan” di lingkaran keluarganya dan meluncurkan kampanye “anti-korupsi”, aksi yang pada akhirnya menjadi bahan ejekan masyarakat.

Meskipun kampanye tersebut mungkin dimaksudkan untuk meredakan ketegangan, pada kenyataannya, Assad yang diperkuat oleh kemenangan militernya, telah memprioritaskan untuk membela keluarga-keluarga berpengaruh ketimbang menenangkan masyarakat dari basis-basis pendukungnya.

Keputusan Assad untuk mengabaikan keluhan komunitas Alawi tentu saja menimbulkan implikasi yang menggembirakan bagi pihak-pihak yang ingin kekuasaannya berakhir.

Pada bulan Oktober 2014, protes kecil anti-rezim meletus di Provinsi Tartous yang merupakan “rumah besar” bagi komunitas Alawi dan sebagian besar tentara Assad yang tewas berasal dari daerah tersebut.

Dalam protes tersebut, para aktivis membagikan selebaran yang mengekspresikan kemarahan terhadap Assad. “Tahta itu untukmu,” kata mereka, “dan peti mati untuk anak-anak kami.” Saat ini, slogan ini telah mewakili apa yang dirasakan komunitas Alawi sebagai sekte minoritas yang semakin hari semakin membenci pemerintah.

Komunitas Alawi, yang pada tahun 2015 telah kehilangan sepertiga dari pasukan mereka dalam usia militer karena berjuang untuk mempertahankan kekuasaan Assad, sekarang mulai bertanya kepada diri mereka sendiri soal kesetiaan mereka terhadap rezim.

Kini dugaan bahwa negara sedang dijalankan “pencuri” mulai menjadi bahan pembicaraan dan pemikiran bersama di Facebook. Beberapa tokoh Alawi, beberapa di antaranya merupakan admin situs-situs pro Assad sering ditangkap karena mengangkat topik korupsi, terlebih ketika pernyataan mereka menjadi viral.

Tentara Suriah menuntut pembebasan sementara para veteran yang cacat, mereka secara terbuka mengecam sikap abai pemerintah. Rasa frustasi komunitas Alawi yang lama terpendam, kini mulai mencapai titik didih dan muncul di permukaan.

Di tengah carut marut tersebut, Suriah juga menghadapi bencana Covid-19 yang tidak dilaporkan secara luas. Wakil koordinator bantuan darurat PBB baru-baru ini memperingatkan Dewan Keamanan bahwa jumlah kasus sebenarnya jauh melebihi angka resmi yang dilaporkan oleh Damaskus.

Agen intelijen yang ditanam di rumah sakit sejak awal pandemi, menjadi ujung tombak rezim untuk memanipulasi fakta dengan memaksa dokter agar berbohong tentang penyebab kematian. Meskipun orang kaya berada di posisi yang lebih baik untuk bertahan hidup, infrastruktur kesehatan Suriah yang rusak membuat semua pihak menjadi tidak kebal terhadap pandemi.

Pekan lalu, PBB menghentikan sementara pertemuan yang dijadwalkan Komite Konstitusi karena empat delegasi dinyatakan positif terkena virus, tiga di antaranya berasal dari Damaskus. Selain wilayah ibu kota, wilayah Deir Ezzor, Sweida, Aleppo, dan Latakia juga terserang wabah.

Manipulasi data tersebut juga membuat komunitas Alawi marah. Gibran, seorang insinyur dari Jableh mengungkapkan kemarahannya. “Social distancing yang kurang dipatuhi menjadi kambing hitam,” katanya, “tetapi yang terpenting, rakyat kita sekarat karena ketidakpedulian pemerintah yang besar.”

Meskipun Gibran mengidentifikasi dirinya sebagai seorang loyalis, kekecewaannya terhadap rezim diwarnai dengan kenyataan bahwa kotanya yang merupakan basis Alawi yang miskin telah kehilangan banyak pemuda dalam pertempuran.

Jika melihat semua ini, narasi bahwa Assad akhirnya bisa kehilangan komunitas Alawi bukanlah hal yang mustahil. Setelah mengorbankan segalanya untuk “tanah air”, kebanyakan orang Alawi sekarang justru menemukan diri mereka bergulat dengan tingkat kerentanan dan ketidakamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern mereka.

Kontrak sosial yang menjanjikan keamanan, stabilitas, dan sekularisme komunitas, telah berulang kali dilanggar oleh para pembuatnya. Sebaliknya, rezim tersebut telah melahirkan kemiskinan, pengangguran, dan kematian.

Selain itu, konsesi Assad yang tumbuh untuk kekuatan agama -baik melalui Kementerian Awqaf atau kampanye “Syiah” Iran- mengancam cara hidup mereka yang sebagian besar bersifat temporal.

Di atas segalanya, bagaimanapun, mereka telah kehilangan orang yang mereka cintai di medan perang sementara para elit hidup di wilayah mereka sendiri yang tidak tersentuh oleh konflik.

Tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti apakah situasi di Suriah, betapapun ganasnya, akan memicu mobilisasi anti-rezim oleh komunitas Alawi. Meski begitu, status quo saat ini, seperti yang dikatakan Sawsan, “benar-benar tak dapat diterima”. Selain itu, ancaman Covid-19 yang membayangi dan kemungkinan kegagalan rezim untuk membendung virus dapat mengakibatkan korban lebih banyak untuk Alawi.

Jika kondisi terus berlanjut, komunitas Alawi dapat menyimpulkan bahwa kemungkinan “pembantaian” oleh gerilyawan sama besarnya dengan “prospek” kelaparan dan wabah penyakit di tangan rezim. Hal ini dapat menyebabkan gejolak-gejolak ketidaksukaan.

Dan rezim Suriah selalu salah langkah untuk meredam gejolak tersebut.

Judul Asli: Is Bashar al Assad at risk of losing his Alawite base?
Penerjemah: Rusydan Abdul Hadi

 

Baca juga, BASHAR ASSAD SIKSA SAMPAI MATI 14 RIBU ORANG