Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 3

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 2

Duniaekspress.com. (05/09/2020). Saya mengucapkan semoga Allah membalas Syaikh Umar Al-Hadusyi yang tidak ketinggalan untuk membantu takhrij hadist-hadist dalam dalam tulisan ini dan mengoreksinya, juga menambahkan beberapa rincian penting yang menuntut penyatuan dan penempatan. (Syaikh Abu Fadhl Umar Al-Hadusy Al-Maghribi mengatakan ; “Saudara Abu Mahmud Al-Filistini, saudara orang yang jujur dan orang yang saya cintai Al-Allamah Abu Qatadah, meminta saya untuk menambah beberapa catatan penting untuk disatukan di buku ini. Sebagai wujud saling menguatkan dan semoga saya mendapatkan bagian pahala).

Banyak koreksian atas buku Al-Jami’ fi Thalabil ilmi Asy-Syarif, karena munculnya fenomena pemikiran ekstrim (ghuluw) pada beberapa komunitas dan kelompok. Orang-orang yang berpemikiran ekstrem (ghuluw) tersebut mengandalkan buku ini (kitab Al-jami’ fi thalabil ilmi asy-syarif). Buku ini juga berperan dalam penyebaran pemikiran ekstrem (ghuluw) pada kawula muda. Yang demikian itu disebabkan para pemuda itu memiliki semangat tinggi dan masih pemula dalam mencari ilmu itu berpegang pada kitab al-jami’ fi thalabil ilmi asy-syarif. (Syaikh Abu Fadhl Al-Hadusyi Al-Maghribi mengatakan ; ‘Bahkan sangat disayangkan, buku ini telah menjadi “Mushaf” bagi setiap orang yang berpemikiran ekstrem (ghuluw) dan taqdir, dan tidak mau keluar sedikit pun dari ketetapan-ketetapannya yang buruk. Lalu ditetapkan secara general. Tidak ada yang lebih sesat daripada generalisasi total seperti ini. Mu’tazilah telah menjadi contoh. Mereka tidaklah menjadi sedemikian rupa kecuali karena kebodohan mereka terhadap Bahasa arab. Pent). Serta kaidah dan istilah umum di dalamnya yang bersifat generalisasi, lalu diterapkan dalam realitas tanpa memerhatikan perkara-perkara furu’ (cabang) dan kaidah usul fikih dalam menyimpulkan hukum.

Penyebab lainnya adalah kesalahan metodologi yang terdapat dalam buku tersebut, termasuk generalisasi (Syaikh Abu fadhl Umar Al-Hadusyi Al-Maghribi mengatakan ; “kalangan ekstrem(ghuluw) dari kelompok khawarij dan murji’ah hanya mengandalkan generalisasi, istilah global dan yang meragukan”), yang dipopulerkan oleh penulis dalam masalah-masalah yang membutuhkan perincian.

Di samping itu, penulis menyelisihi para Ulama dan memehami beberapa masalah aqidah, seperti loyalitas (wala’), berhukum dengan selain yang diturunkan Allah, serta mencampur adukannya dengan demokrasi.

Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini, bukanlah satu-satunya orang yang mengkritik buku tersebut. Banyak ulama Tauhid dan Jihad yang mengkritiknya, seperti Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisy dalam An-Nukathul Lawami’. Syaikh Abu Yahya Al-Libbi dalam Nadharat fil Ijma’ Al-Qath’I, Syaikh Athiyatullah Al-Libby dalam pertemuan terbuka dengan forum Al-Hisbah.

Syaikh Abu Muhammad Al-maqdisy mengatakan, “Buku Al-jami’ fi thalabil ilmi asy-syarif karya saudara kita Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz -semoga Allah menjaganya- termasuk buku manhajiyah yang baik. Buku yang saya rekomendasikan untuk saudara-saudaraku thalabul ilmi pemula untuk memakainya dalam kurikulum Pendidikan. Apalagi zaman kita ini miskin ulama yang mengamalkan ilmunya, bersih dan Rabbani. Kebanyakan dari mereka sekedar menghasilkan karya kajian saja dalam kegiatan mereka. Atau lebih tinggi dari itu adalah menyimpulkan pendapat yang terbaik dari apa yang dipelajari dan dibaca”.

Kami mendengar berulang-ulang dari para Syaikh sebuah ungkapan, “Siapa gurunya adalah bukunya, makai a banyak kesalahannya dan sedikit kebenarannya.” Karena itulah, seorang thalabul ilmi yang mengandalkan penela’ahan, harus banyak mendapat arahan dan peringatan, agar mengetahui skala prioritas, mana yang harus ia mulai (pelajari) diantara ribuan karya tulis dan tema. Di samping agar mewaspadai kesalahan-kesalahan yang jarang luput dari setiap kitab, setelah kitabullah yang terjaga dari kesalahan. Juga agar ia bisa tajam melihat kesalahan dan penyimpangan yang jarang sekali seseorang selamat darinya, kecuali Nabi shalallahu’alaihi wassalam yang maksum. Dengan begitu, buih dan lemak bisa dipisahkan. Debu dan tanah dapat dibedakan.

Penulis Al-Jami’ telah memberikan Nasehat, peringatan dan arahan yang baik dan banyak untuk para penuntut ilmu. Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik. (Saya menukil perkataan Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisy dalam memuji kitab Al-Jami’ dari sudut pandang amanah karena saya ingat bahwa beliau mengkritik buku ini dengan beberapa catatan). Sebagai nasehat bagi setiap penelaah kitab Al-Jami’ dan bagi setiap orang yang adil pasti mengetahui bahwa penulis kitab Al-Jami’ menepati kebenaran adalam banyak persoalan. Semua itu tidak menjadi kendala bagi kesatria yang telah menghunus pedangnya untuk menghabiskan hari-harinya demi membela agama Allah dan tegar membela kesucian-Nya. Sebab, setiap orang yang adil pasti tahu bahwa hal itu tidak akan mengurangi nilainya atau menghapus kesungguhannya. Akan tetapi, kita wajib mengingatkan hal itu sebagai bentuk nasehat untuk Agama Allah, penulis buku Al-jami’ dan pembacanya. Hal itu pula yang menjadi kewajiban dilakukan oleh penulis al-jami’ terhadap para ulama seniornya dalam meringkas kitab mereka. Saya memohon kepada Allah agar mengasihi kami dan mereka  dan menerima amal kami dan amal mereka.” (An-Nukat Al-Lawami ala kitab al jami’).

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’