Radikalis diantara good looking dan bad looking

 Duniaekspress.com. (08/09/2020). – Dunia Maya – Hangatnya pembahasan mengenai radikalis yang mengaitkan antara kata good looking dan bad looking menjadi tren topik pembahasan warta di dunia pemberitaan. Setelah kata ini terlontar oleh Menteri agama Fachrul Razi pada suatu acara peluncuran sebuah aplikasi ASN no radikal yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Untuk Sebagian orang ungkapan ini bisa mengandung multi tafsir, dan tidak menutup kemungkinan hal ini dijadikan isu yang menarik untuk diolah sebagai blunder oleh lawan-lawan politiknya.

Sebenarnya menag sendiri telah menjelaskan pada suatu kesempatan bahwa sumber munculnya kaum Radikalis itu adalah ketidak adilan, yang di praktekan dan dipertontonkan yang menimpa seseorang, atau masyarakat suatu bangsa, bukan berasal dari ajaran suatu agama tertentu, karena semua agama pada dasarnya mengajarkan tentang kebaikan dan kebenaran.

Namun apapun pandangan dan presepsi orang terhadap radikalis, serta apapun latar belakangnya, seseorang akan bisa memandang Radikal itu menjadi good looking (Nampak baik) dan radikal itu menjadi bad looking (Nampak buruk), hal ini akan dipengaruhi oleh di posisi mana dia berdiri dalam memandang persoalan ini. Bisa saja para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dahulu di cap kaum Radikal bad looking dimata para Penjajah Kompeni Belanda berserta antek-anteknya, dan akan menjadi berbeda Ketika yang memandangnya pada posisi anak-anak bangsa yang merindukan kemerdekaan bangsanya kala itu, Para pejuang kemerdekaan tersebut dipandang sebagai kaum Radikalis good looking di mata mereka. Hal ini menampakkan kepada siapa saja tunjuk hidung mereka berfaham radikalis itu akan sangat subyektif, yang mana penilaian ini sangat dipengaruhi di posisi mana si penunjuk itu berada.

Terlepas masalah pro dan kontra dalam persoalan munculnya kaum yang disebut Radikalis, alangkah baiknya membedah akar persoalan radikal ini dari pengertian dan sejarah perkebangannya di Indonesia.

Secara etimologi, radikal berasal dari kata latin, radix/radici, yang berarti “akar”. Dalam politik, istilah “radikal” mengacu pada individu, gerakan atau partai yang memperjuangkan perubahan sosial atau sistim politik secara mendasar atau keseluruhan.

Istilah “radikal”muncul di panggung politik kira-kira abad ke-18 di Eropa dan ke-19 di Amerika Serikat.

Istilah “radikal” sangat terhormat dalam sejarah Indonesia. Orang Belanda yang menjadi pengeritik pedas kolonialisme Belanda, seperti Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dan Ernest Douwes Dekker, sering disebut “radikal”.

Dalam pergerakan, radikal menjadi cap bagi gerakan yang tidak berkompromi dengan kolonialisme. Sebutan lainnya adalah non-koperasi. Gerakan radikal alias non-koperasi adalah antitesa dari gerakan moderat yang cenderung kompromis dan mengemis kebaikan pada penguasa colonial Penjajah.

 

Tokoh-tokoh kunci pergerakan nasional, seperti Tjipto Mangungkusumo, Ernest Douwes Dekker, dan Suwardi Suryaningrat, juga digolongkan sebagai nasionalis-radikal.

Indische Partij, partai yang didirikan oleh Tjipto, Suwardi dan Douwes Dekker, diilhami oleh semangat nasionalisme-radikal, yang tidak lagi terperangkap pada kesempitan cara pandang etnis maupun agama. Mereka juga keluar dari jebakan pengkotak-kotakan pribumi dan non-pribumi. Mereka memperjuangkan sebuah nation Hindia yang merdeka dan demokratis, dimana semua suku bangsa dan ras memilik hak yang sama di dalamnya.

Cap radikal juga melekat pada tokoh-tokoh di barisan kiri (komunis), seperti Mas Marco Kartodikromo, Semaun, Haji Misbach, Tan Malaka, Darsono, Ali Archam, Musso, Alimin dan lain-lain.

Jadi, seperti dikatakan Soe Hok Gie dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, “kaum radikal itu berasal dari segala golongan.”Bisa kaum nasionalis, agamis, apalagi komunis.

Sukarno, tokoh terkemuka pergerakan nasional, malah menganjurkan radikalisme. Dalam risalahnya di tahun 1933, Mencapai Indonesia Merdeka, dia menjelaskan pengertian radikal dengan sangat tepat.

“Radikalisme, – teram­bil dari perkataan radix, yang artinya a k a r -, radikalisme haruslah azas machtsvorming Marhaen: berjoang tidak setengah-setengahan tawar-menawar tetapi terjun sampai ke akar-akarnya kesengitan antitese, tidak setengah-setengahan hanya mencari “untung ini hari” sahaja tapi mau menjebol stelsel kapitalisme-imperialisme sampai ke akar-akarnya, tidak setengah-setengahan mau mengadakan pero­bahan-perobahan yang kecil-kecil sahaja tapi mau mendirikan masyarakat baru samasekali di atas akar-akar yang baru, – berjoang habis-­habisan tenaga membongkar pergaulan hidup sekarang ini sampai keakar-akarnya untuk mendirikan pergaulan hidup baru di atas akar-akar yang baru,” tulis Sukarno.

Bagi Sukarno, perjuangan kaum marhaen haruslah bernyawakan radikalisme, berazaskan radikalisme, agar tidak tergelincir pada reformisme dan kompromi yang merugikan masa depan perjuangan kaum marhaen. Disamping bersenjatakan machtvorming dan massa-aksi.

Karena itu, Sukarno menganjurkan partainya, Partai Nasional Indonesia (PNI), menjadi partai radikal.

“…maka partai sendiri lebih dulu harus partai yang bewust, partai yang sedar, partai yang radikal. Hanya partai yang bewust dan sedar dan radikal bisa membikin massa menjadi bewust dan sedar dan radikal. Hanya partai yang demikian itu bisa menjadi pelopor yang sejati di dalam pergerakan massa, dan membawa massa itu dengan selekas-lekasnya kepada kemenangan dan keunggulan,” tulisnya.

Jadi, agak aneh jika ada partai yang mengaku pewaris ajaran Sukarno ikut-ikut mengutuki radikalisme. Partai itu bukan hanya buta sejarah, tetapi kurang membaca tulisan-tulisan Sukarno. Atau jangan-jangan lembar-lembar tulisan Sukarno sudah jadi pembungkus kacang?

Tidak bisa dimungkiri, Indonesia merdeka sebagian besar karena pengorbanan kaum radikal. Mereka yang dibunuh, dibui/penjara, dan dibuang.

Tidak bisa dimungkiri, radikal berjasa besar bagi umat manusia, mulai dari gerakan penghapusan perbudakan, gerakan anti-kolonialisme, gerakan feminis, gerakan buruh, perjuangan petani, gerakan lingkungan, dan lain-lain.

Tidak bisa dimungkiri juga, bahwa orang-orang yang disebut radikal di masa lalu adalah pejuang-pejuang besar kemanusiaan, yang menghendaki perubahan sosial secara mendasar untuk tegaknya keadilan sosial. Semua revolusi besar dunia, yang mengubah wajah dunia menjadi lebih baik, adalah buah tangan kaum radikal.

Radikalis akan bernilai good looking dan radikalis berwajah bad looking akan sangat dipengaruhi dalam cara anda memandang dalam persoalan ini, kaum Radikalis good looking sebagai pejuang dan pahlawan bagi siapa saja yang mendukung dan menyertainya, tentang apa yang di perjuangkannya. Dan sangat jauh berbeda antara Radikalis dengan ektremis, karena makna dari kata ekstremis merupakan suatu yang diluar batas atau dengan kata lain berlebih-lebihan, maka suatu yang berlebih-lebihan itu sangat di larang dalam beragama, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إ“Jauhkanlah diri kalian dari ekstrem/ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”
(HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majah (no. 3029), Ibnu Khu-zaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma. Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

Dan apabila yang di maksud oleh Menag Fachrul Razi dengan isu radikalisme tersebut  untuk menangkal suatu bahaya ekstemisme(ghuluw) dari suatu Gerakan apapun namannya dan siapa pun yang membawanya, maka sudah selayaknya kaum muslimin mengamalkan hadist tersebut diatas.

Radikalis good looking yes,  ektremis not.

Penulis : Aktifis Pejuang Bravo-5 Pdg

Sumber : Bravo Publishing

 

Baca juga, BEGINI LHO MAKSUD MENAG FACHRUL RAZI BICARA RADIKALISME LEWAT ANAK GOOD LOOKING