Gerilyawan Mujahidin Terus menyerang, sekalipun Penjajah AS mengajak damai

Dunaekspress.com. (20/9/2020). – Pakistan – Serangan gerilyawan Mujahidin Taliban dan apiliasinya terhadap pasukan keamanan di Pakistan barat laut dilaporkan kian meningkat sebagai konsekuensi Pakistan memposisikan diri sebagai sekutu AS dan Nato dalam memerangi Mujahidin Taliban di perbatasan dengan pakistan.

Selama ini, wilayah perbatasan etnis Pashtun itu memang telah lama menjadi tempat para Mujahidin militan yang melarikan diri dari invasi penjajahan  Amerika Serikat (AS) ke Afghanistan pada 2001. Namun, pada 2014, militer Pakistan berhasil “membersihkan” wilayah tersebut. Akibatnya, sebagian besar kelompok Mujahidin Taliban yang militan ini bergeser ke wilayah Afghanistan.

Bahkan dilaporkan, Mujahidin Taliban Pakistan, Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) Juli lalu membangun aliansi dengan sekitar enam faksi kecil militan lainnya. “Kemampuan kelompok dan kekuatan militer mereka meningkat. Begitu juga daya jangkau mereka,” kata Mansur Khan Mahsud, Direktur Eksekutif FATA  Research Center, sebuah lembaga penelitian politik independen di Islamabad Pakistan.

Selama September ini, serangan dari Mujahidin terjadi hampir setiap hari. Mulai dari perangkap bom pinggir jalan, serangan penembak jitu, hingga penyergapan dan pembunuhan antek-antek kaum penjajah yang bekerja sama dengan pasukan pemerintah boneka buatan AS.

Menurut penghitungan angka resmi kantor berita Inggris, Reuters, sejak Maret lalu, kelompok militan telah menewaskan sedikitnya 40 tentara Pakistan sebagai kaki tangan sekutu AS dalam menjajah kaum Muslimin di Afghanistan dan sekitarnya.

Sementara menurut Pusat Penelitian FATA, antara Januari dan Juli, setidaknya 109 orang tewas dalam 67 serangan. Ini meningkat dua kali lipat dibanding jumlah pada 2019.

Wakil Direktur Program Asia Selatan Stimson Center yang berkantor di Washington, Elizabeth Threlkeld mengaku mengkhawatirkan hal ini. “Menguatnya kembali Mujahidin TTP mengkhawatirkan. Karena aktivitasnya sendiri, juga hubungannya dengan kelompok seperti Al-Qaidah. Ini bisa kembali memberikan dukungan signifikan kepada kelompok teror internasional jika terus mendapatkan kembali kekuatannya,” kata mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang pernah bertugas di Pakistan ini.

Saat dikonfirmasi Reuters, militer Pakistan tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari maraknya kekerasan yang belakangan terjadi. Namun melalui akun Twitter-nya, Juru Bicara militer Pakistan menyatakan, serangan-serangan itu bertujuan menggagalkan proses perdamaian antara Mujahidin Taliban Afghanistan dengan pemerintahnya serta AS.

Soalnya, Februari lalu, Mujahidin Taliban Afghanistan dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan, hingga pasukan AS ditarik dari Afghanistan. Mujahidin Taliban Afghanistan pun menyanggupi persyaratannya, yakni tidak akan menampung militan lain.

Sedangkan Mujahidin TTP pekan ini mengeluarkan pernyataan, “Perang kami melawan Pakistan terus berlanjut. Anda akan terus melihat serangan terjadi setiap hari.” (AB).

Sumber : Media Cyber

 

Baca juga, SETELAH MULLAH FAZLULLAH TEWAS, INILAH PEMIMPIN BARU TALIBAN PAKISTAN