Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 7 : Poin-Poin Ekstrem

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 6

Duniaekspress.com. (22/09/2020). – Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini telah menyebutkan koreksi-koreksinya atas point-point penting dalam buku AL-Jami’ secara umum di dalam artikel : Ahlul Qiblah Wal Muta’awilun. Saya akan merinci semua koreksian beliau dalam masing-masing pembahasan untuk ditelaah.

Syaikh Abu Qatadah berkata, “Buku Syaikh, Al-Jami’ fi thalabil ilmi Asy-Syarif mengundang pembahasan yang ekstrem (menyimpang) dibanyak bagiannya. Saya akan sebutkan sebagiannya secara ringkas. Meskipun sebenarnya buku ini membutuhkan kajian yang lebih luas karena banyaknya bahasan di dalamnya.

  1. Ekstrem dalam masalah tidak ada udzur bagi penulis Ar-Risalah Al-Limaniyah dalam kesalahan memahami loyalitas (Wala’).
  2. Ekstrem dalam menyebut loyalitas (muwalah) kepada orang kafir dengan satu sebutan saja, yang tidak ada arti lain, kecuali kafir akbar.
  3. Hadist Dzatu Anwath, yang disimpulkan bahwa shahabat meminta sebuah perbuatan yang berkonsekwensi kekafiran.
  4. Tidak membedakan antara mutaba’ah dalam tasyri’ (melakukan maksyiat karena dihalalkan oleh undang-undang positif) dan si pembuat undang-undang itu sendiri.
  5. Ekstrem dalam generalisasi dalam vonis kafir bagi seluruh anggota parlemen dan peserta pemilu tanpa catatan apa-pun, yang layak diperhatikan.
  6. Mengkafirkan Daulah Utsmaniyah.
  7. Vonis kafir dan murtad kepada seseorang yang masih ada kemungkinan muslim.
  8. Mencela buku apa-pun yang ditulis dengan tema fiqih sirah.
  9. Permulaan syari’at Jihad
  10. Ekstrem dalam penamaan beberapa kelompok Islam yang bekerja untuk Islam bahwa mereka tidak mengikuti Nabi Shalallahu’alaihi wassalam.
  11. Ekstrem dalam menamai pihak yang menyelisihinya dalam beberapa hak pribadi sebagai munafiq dan sesat.
  12. Memvonis orang yang menyelisihinya dalam beberapa hak pribadi bahwa mereka berhak diperangi, seperti orang-orang murtadz.

Saya mengurutkan koreksian ini berdasarkan urutan tersebut untuk membantu tujuan penelitian ini, yaitu menyingkap pemikiran ekstrem dalam masalah takfir. Saya memulainya dengan al-Wala wal baro’. Karena hal ini merupakan persoalan mendasar dalam iman. Wala wal Baro’ adalah perkara paling pokok dalam dien, pilar iman dan talinya yang paling kuat.

Selain itu, ada celah kekeliruan yang sama antara kelompok Murji’ah dan kelompok ekstrem. Mereka memiliki penyimpangan pemahaman dalam wujud ifrath dan tafrith. Murji’ah telah menjadikan ummat taat kepada para Thogut dan dijajah oleh mereka. Wala wal baro’ telah hilang dari mereka karena hawa nafsu mereka. Sedangkan orang-orang yang ekstrem terlalu melebar dalam vonis kafir dan menumpahkan darah.

Kemudian hadist Dzatu Anwath, yang dipakai oleh kelompok ekstrem untuk menggenaralisir vonis syirik bagi orang yang tidak melakukan kesyirikan. Menurut mereka, sekedar tasyabuh dengan orang musyirik langsung divonis serupa dengan kesyirikan, lalu dikafirkan.

Permasalahan selanjutnya adalah pembuat undang-undang positif dan perbedaan antara orang yang ikut melakukan maksyiat disebabkan oleh undang-undang positif dan orang yang terlibat langsung di dalam pembuatan undang-undang itu. Kerancuan dalam hal ini menjadi sebab dalam takfir ekstrem terhadap masyarakat muslim secara luas.

Kemudian, pengkafiran terhadap orang yang ikut melakukan maksyiat disebabkan oleh undang-undang positif diikuti dengan vonis kafir bagi anggota parlemen dan peserta pemilu karena ada kaitan antara  keduanya.

Penulisan ini kemudian dilanjutkan dengan menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan vonis kafir, sampai pada semua kritisnya. Setelah semua koreksian dipaparkan, saya akan mendiskusikannya dan mengumpulkan semua perkataan Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini dalam menjelaskannya.

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 5