DUNIAEKSPRESS.COM (25/9/2020)– Juru bicara Hamas Fawzi Barhoum mengatakan pada hari Kamis (24/9) bahwa semua faksi Palestina telah setuju untuk mengambil bagian dalam dialog nasional untuk menghadapi “Deal of  the Century”.

Lebih lanjut Fawzi Barhoum mengatakan, mereka (faksi Palestina, red) menegaskan kembali pentingnya perlawanan rakyat dan setuju untuk mengaktifkan perlawanan tersebut dalam menghadapi “kesepakatan abad ini” Amerika Serikat, rencana aneksasi Israel dan upaya lain untuk merusak perjuangan Palestina.

Baca juga:

KELOMPOK AKTIVIS SAUDI DIRIKAN PARTAI

AMBISI CAPLOK AL-AQSHA, ISRAEL PASANG BARIKADE MILITER

Sebelumnya diberitakan, Hamas dan Fatah pada Kamis (24/9) sepakat untuk menerapkan langkah-langkah praktis untuk dialog nasional yang akan dimulai sebelum 1 Oktober, Gerakan Perlawanan Islam Palestina telah mengumumkan.

Dua faksi utama Palestina sepakat untuk meletakkan pedoman untuk kesepakatan nasional berdasarkan hasil pertemuan tingkat senior antara semua faksi di Beirut awal bulan ini. Pertemuan terakhir ini terjadi antara pejabat senior Hamas dan Fatah di konsulat Palestina di Istanbul.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan Hamas, para pemimpin kedua fraksi tersebut mengatakan bahwa mereka sepakat mengumumkan visi resmi dari kesepakatan nasional tersebut dalam pertemuan Sekretaris Jenderal Fraksi Palestina di bawah perlindungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Pertemuan itu akan digelar sebelum 1 Oktober.

Menurut Al-Ghad TV, Kepala Blok Parlemen Fatah, Azzam Al-Ahmad, mengatakan bahwa Hamas dan Fatah juga telah sepakat untuk mengadakan pemilihan.

Mengapa Deal 0f the Century ditolak

Berikut poin-poin penting “Deal of the Century” yang disampaikan Trump dan Netanyahu dalam pidatonya di Gedung Putih, Selasa (28/1/2020).

Pertama, permukiman ilegal Yahudi yang didirikan di atas wilayah Tepi Barat, secara otomatis menjadi bagian dari teritorial wilayah Israel

Kedua, mendirikan “Negara Palestina Baru” yang batasan wilayahnya disesuaikan dengan poin-poin di Deal of The Century

Ketiga, menjadikan wilayah Jalur Gaza sebagai zona demiliterisasi. Sayap militer dari faksi-faksi pejuang seperti Hamas, Jihad Islam dan yang lainnya, tidak dibolehkan untuk memiliki senjata

Keempat, memberikan tenggang waktu selama 4 tahun kepada warga Palestina untuk merealisasikan kesepakatan ini

Kelima, Kota Al-Quds sepenuhnya menjadi ibukota Israel

Keenam, menghapus hak kembali para pengungsi Palestina ke tanah airnya, serta menghapus status pengungsi yang terdiaspora

Ketujuh, memberikan wilayah Al-Quds Timur kepada Palestina sebagai ibukota

Kedelapan, Amerika akan membuka kedutaannya secara resmi di “Negara Palestina” yang baru

Kesembilan, membentuk Komite Bersama untuk menyusun peta jalan damai

Kesepuluh, memberikan modal 50 milliar dollar untuk mengerjakan proyek pembangunan “Negara Palestina” baru

Kesebelas, meminta kepada Dunia Islam untuk mengakui kedaulatan negara Israel

Keduabelas, melakukan normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab

Ketigabelas, mengcapkan terimakasih terhadap dukungan negara Arab yang mendukung kesepakatan ini, terutama Uni Emirat Arab lalu Bahrain dan Oman. Dukungan secara tidak langsung juga datang dari Mesir dan Arab Saudi.