Koreksi Atas Kitab Al-Jami’ bagian 8 : Tanggapan yang Ghuluw Terhadap Kitab Risalah Al-Limaniyah

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 7

Duniaekspress.com. (26/09/2020). – Kitab Risalah Al-Limaniyah adalah tulisan Syaikh Thala’at Fuad Qasim alias Abu Thalal Al-Qasimi di penjara Liman Thurah. Dinisbatkan ke tempat pemenjaraan beliau. Dalam tulisan ini Syaikh Abu Thalal menganggap loyalitas kepada thogut hukumnya satu saja, yaitu tidak membuat pelakunya kafir. Berdasarkan ini maka semua pendukung penguasa yang menolak berhukum dengan syari’at tidak dikafirkan, tetapi hanya dihukumi maksyiat, bukan kafir. Jama’ah Islamiyah mesir telah mengeluarkan pernyataan ini dan menjadi salah satu sebab pergeserannya.

Syaikh Abu Thala’at menganggap loyalitas apa saja hukumnya sama, tidak mengkafirkan pelakunya, kecuali seseorang menghalalkan loyalitas tersebut. Ini adalah keyakinan Murji’ah tulen dan menganggap enteng persoalan wala’. Saya (Syaikh Abu qatadah) melihat Sayid Imam tidaklah salah Ketika menyebut Jama’ah Islamiyah telah menjadi Murji’ah. Akan tetapi, Sayid Imam menanggapi Tindakan tafrith (meremehkan) dan irja’ (dari jama’ah Islamiyah mesir) dengan statemen kebalikan yang berlebihan dan ghuluw serta menjadikan persoalan muwalah (berloyalitas kepada thogut) ke dalam satu tingkatan saja, mukafirah (menyebabkan kafir).

Di kitab Al-Jami’ halaman 518/591-595/655, Sayid Imam membantah (Risalah Al-Limaniyah). Garis besar perkataannya, ia menganggap bahwa semua orang yang mendukung para penguasa murtad dan menolong mereka untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin, dengan perkataan atau perbuatan maka ia telah kafir dalam hukum yang nyata. Dan orang yang hanya mendukung atau terlibat langsung, hukumnya sama dalam hal ini. Bila tidak demikian, tentu kami hanya mengkafirkan tentara para penguasa yang terlibat langsung yang memerangi kaum Muslimin saja.”

Syaikh Abu Qatadah mengatakan, “Penulis Al-Jami’ hanya tahu muwalah (berloyalitas kepada thogut) dalam satu makna saja. Yaitu kafir yang berlawanan dengan iman dengan segala aspeknya. Ini adalah kesalahan. Saya (Syaikh Abu Qatadah) telah membuat pasal bantahan kepada penulis Al-Jami’ di tempatnya, yang akan menjelaskan kepada semua thalibul ilmi bahwa ia telah jatuh kepada lubang yang telah dimasuki oleh penulis buku Al-Muwalah, milik jama’ah Islamiyah Mesir. Keduanya menganggap Muwalah hanya bermakna satu dan satu tingkatan saja.

Penulis buku Al-Muwalah menjadikan semua bentuk muwalah (berloyalitas kepada thogut) sebagai kafir Asghar, yang seseorang tidak dikafirkan karenanya kecuali dengan adanya penghalalan atau yang semakna dengan itu. Di sisi lain, penulis Al-Jami’ telah menjadikan semua Muwalah termasuk kufur Akbar. Oleh karena itu, ia mengkafirkan semua mata-mata secara mutlak, tanpa melihat bagaimana kondisinya.”

Dengan demikian keduanya menggunakan kisah Hathib r.a. sebagai dalil, namun keliru dalam menyimpulkan (dalil). Wala’ (kepada thogut) menurutnya, di kitab Al-Jami’ berada dalam satu tingkatan saja, yaitu kufur akbar.” (Kitab Ju’natul Muthayyibin).

InsyaAllah Bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 6