Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 9, tentang Muwalah

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 8

Duniaekspress.com. (29/09/2020). – Penulis kitab Al-Jami’ telah menjadikan Muwalah berada dalam satu tingkatan saja, yaitu kufur akbar. Hal ini berbeda dengan ulama salaf dan kholaf dari kalangan ulama Najd dan selainnya.

Sebelum menukil bantahan Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini, kita perlu mengetahui aqidah Al-Wala’ wal Baro’ dan urgensinya dalam musama (definisi) Iman menurut ahli sunnah wal jama’ah.

Aqidah Al-Wala’ wal Baro’ adalah tali Iman yang paling kuat. Ia menjadi sumber cinta dan benci karena Allah. Cinta kepada orang-orang yang beriman dan benci kepada orang-orang kafir dan murtad. Nabi Shalallahu’alahi wassalam bersabda : “Tali keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah”. (HR.Ath. Thabrani, dinyatakan shohih oleh Al-Albani dalam shahih al-jami’).

Al-Wala wal Baro’lah yang melindungi identitas bangsa dan membentengi dari dalam, invasi budaya dan militer. Ia juga akan membuat mereka marah kepada musuh. Dengan al-wala wal baro’ pula akan ditentukan arah jihad dan bagaimana berurusan dengan orang lain (selain muslim).

Al-Wala wal Baro’ adalah syarat Iman. Tanpanya, iman pun lenyap. Sebab, syarat ialah sesuatu yang ketiadaannya menyebabkan ketiadaan (sesuatu yang dipersyarati). Allah Subhana wata’la berfirman :

“Kalo saja mereka beriman kepada Allah, Nabi, dan apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak mengambil mereka sebagai wali (pemimpin).” (Al-Maidah: 81).

Terkait ayat ini, Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Allah menyebutkan kalimat bersyarat yang konsekuensinya, apabila terdapat syarat maka sesuatu yang dipersyarati itu juga ada. (kalimat bersyarat ini) menggunakan huruf “Law (kalua)” yang dengan syarat itu mengharuskan penafian sesuatu yang dipersyarati. Dengan demikian, hal itu menunjukan bahwa Iman yang disebutkan (dalam ayat itu) menafikan dan berlawanan dengan perbuatan mereka yang mengambil (orang-orang kafir) sebagai wali. Selain itu, keimanan dan perbuatan mengambil mereka (orang-orang kafir) sebagai wali tidak akan Bersatu dalam hati. Di samping itu, (ayat tersebut) menunjukan bahwa orang yang mengambil mereka (orang-orang kafir) sebagai wali (pemimpin) tidaklah melaksanakan Iman wajib, bagian iman kepada Allah, Nabi, dan apa yang diturunkan kepadanya.”(Al-Imani, 14).

Sulaiman Al-Asy-Syiakh mengatakan, “Dien tidak mungkin sempurna, panji jihad atau panji amar ma’ruf nahi mungkar juga tidak akan tegak kecuali dengan cinta karena Allah dan benci karena Allah, memusuhi karena Allah dan membela karena Allah. Seandainya manusia sepakat pada satu jalan dan cinta tanpa permusuhan dan kebencian, maka tidak akan ada pembeda antara kebenaran dan kebathilan, antara orang beriman dan orang kafir, antara wali Allah dan wali setan.” (Risalah Autsagu ‘ural iman, 38).

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 7