DUNIAEKPRESS.COM (30/9/2020)– Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengutuk serangan Armenia ke Azerbaijan dan menyerukan solusi politik untuk penyelesaian konflik antara kedua negara.

“OKI mengutuk keras provokasi dan agresi pasukan Republik Armenia. OKI juga menyatakan solidaritas dengan Republik Azerbaijan dan menegaskan kembali resolusi yang dicapai OKI dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait konflik ini,” kata OKI dalam sebuah pernyataan.

Organisasi ini terus memantau agresi Armenia yang enargetkan beberapa titik di Azerbaijan yang “melanggar gencatan senjata dan menyebabkan korban sipil”.

“Kami menyerukan penarikan penuh dan tanpa syarat pasukan Armenia dari wilayah Azeri yang diduduki,” lanjut OKI.

Baca juga:

POLISI TANGKAP PELAKU CORET-CORET MUSHALAH

MUSHALAH JADI SASARAN AKSI VANDALISME

OKI juga mendesak dialog guna mencapai solusi politik yang didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Republik Azerbaijan.

Dalam pernyataan tersebut, Sekretariat Jenderal OKI menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban, pemerintah, dan rakyat Azerbaijan.

– Konflik Nagorno-Karabakh

Bentrokan di perbatasan meletus pada Ahad (27/9) setelah pasukan Armenia menargetkan permukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer, yang menyebabkan korban jiwa.

Parlemen Azerbaijan kemudian mengumumkan keadaan perang di beberapa kota dan wilayahnya menyusul pelanggaran perbatasan Armenia dan serangan di wilayah Nagorno-Karabakh yang diduduki.

Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Upper Karabakh, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Empat resolusi dari Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi dari Majelis Umum PBB, serta sejumlah organisasi internasional, menuntut penarikan pasukan pendudukan dari wilayah itu.

OSCE Minsk Group, yang diketuai oleh Prancis, Rusia dan AS, dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik tersebut, tetapi hingga saat ini upaya tersebut tak kunjung berhasil.

Gencatan senjata, bagaimanapun, disepakati pada 1994.