Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 10

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 9

Duniaekspress.com. (04/10/2020). – Abdul Latif bin Abdurrahman mengatakan, “Dasar Muwalah (berloyalitas) adalah cinta dan dasar permusuhan adalah benci. Dari keduanya berkembanglah amal-amal hati dan anggota badan yang masuk kedalam hakikat muwalah dan permusuhan, seperti menolong, bersikap lembut, simpati, memerangi, menjauhi dan semacamnya.” (Ad-Durar As-Saniyah, 11/57).

Muwalah (wala’) yang sempurna hanya diberikan kepada orang beriman, meskipun diantara mereka terjadi perselisihan dan saling memerangi, Allah berfirman : “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah : 55-56).

Allah juga berfirman : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, Sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi Sebagian yang lainnya.” (QS. At-Taubah : 71).

“Dan kalo ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalo yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lainnya, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut Kembali pada perintah Allah. Kalua dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan. Dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencitai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Hujurat:9).

Sedangkan baro’ah (permusuhan) sejatinya diterapkan kepada orang-orang kafir dan murtad. Iman dan perawalian kepada orang kafir tidak akan berkumpul menjadi satu di dalam hati. Sebab, muwalah (berloaylitas) kepada orang kafir itu menampikan keimanan. Muwalah yang dimaksud di sini adalah mendukung dan membela mereka, dalam arti muwalah mutlak yang bermakna tawali (mengangkat pemimpin). Allah ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), Sebagian mereka adalah pemimpin bagi Sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah : 51).

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan Dia masukan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan Rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung,” (Al-Mujadilah : 22).

“Hai orang-orang yang beriman, ‘janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah : 23-24).

Siapa yang mencampurkan keimanan dengan bid’ah atau amal shaleh dengan keburukan yang lainnya, maka muwalah (wala’) yang wajib diberikan ialah sebatas keimanan dan amal shalehnya. Di samping itu, baro’ah (berlepas darinya) juga diberikan sebatas bid’ah dan amal buruknya. Contohnya, Abdullah bin Himar, salah seorang sahabat Rasulallah yang suka meminum khamer. Lalu ia dibawa menghadap Rasulallah, lalu ada seseorang yang melaknatnya dan mengatakan, “sudah berapa kali engkau dibawa menghadap ke sini?” Maka Nabi Shalallahu’alaihi wassalam mengatakan, “Janganlah engkau melaknatnya karena ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari).

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 8