DUNIAEKSPRESS.COM (13/10/2020)– Belakangan ini sekte sesat salafi makin berlebihan dalam menyikapi kaum muslimin yang bersebrangan ijtihad dengannya. Bukan hanya merasa paling ahlus sunnah, paling firqah najiyah, namun mereka juga sangat nyinyir dengan langkah dan ijtihad kaum muslimin. Termasuk yang paling fatal adalah sikap nyinyir mereka kepada para ulama yang menggerakan umat untuk mengingatkan pemerintah dengan mengeluarkan fatwa haram demonstrasi oleh sekte ini dan sangat lancang dengan menyatakan bahwa demonstrasi adalah sunnah khawarij.

Dengan entengnya para mujtahid mereka seperti Yazid Jawwas, Zulkarnaen Sanusi, dan yang lainnnya mengharamkan demonstrasi dan menyerang orang yang membolehkannya dengan sebutan khawarij. Fatwa haram tersebut disampaikan di ruang terbuka, di mimbar-mimbar pengajian mereka, dan tak lupa menyerang para pelaku demonstrasi dengan berbagai sebutan yang menghinakan. Padahal demonstrasi adalah hak konstitusi yang dijamin kebolehannya oleh negara-negara demokrasi dalam rangka penyeimbang kebijakan negara.

Fatwa sesat mereka ini berasal dari kesalahan mereka dalam menerjemahkan demonstrasi  sebagai langkah dan bentuk pemberontakan dan upaya untuk menggoyang pemerintahan sah. Tentu penerjemahan ini salah besar, demonstrasi bukan khuruj ala sulthan -memberontakan kepada pemerintahan sah- sebagaimana yang mereka sampaikan. Ini adalah pangkal kesalahan mereka, karena mereka menerjemahkan demonstrasi dengan terjemahan para masyaikh mereka di Saudi sana. Mungkin saja di negara otoriter Saudi sana yang namanya demonstrasi dianggap upaya untuk menjatuhkan pemerintahan Saudi yang sah.

Menurut UU 9/1998 pada Pasal 9 ayat (1), “Unjuk Rasa/Demonstrasi adalah bentuk penyampaian pendapat di muka umum dapat dilaksanakan dengan: unjuk rasa atau demonstrasi; pawai; rapat umum; dan atau mimbar bebas. Nah, dari perbedaan terjemahan ini dapat dipastikan akan melahirkan hukum yang berbeda.

Baca juga:

KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 11

Salah satu ulama Saudi -dan bukan sekte salafi- Dr Syarif Hatim bin ‘Arif Al-Auni menjelaskan bahwa demonstrasi yang damai bukan pemberontakan bersenjata kepada pemerintahan sah. Karenanya tidak ada kaitannya demonstrasi dengan hukum pemberontakan seperti yang telah ditetapkan para fuqaha, karena demonstrasi bukan pemberontakan, siapapun yang memasukkan demonstrasi ke dalam pemberontakan maka ia telah masuk ke dalam kesalahan yang jelas sekali.

Lalu beliau melanjutkan penjelasannya bahwa demonstrasi adalah salah satu cara -wasilah- untuk menyampaikan pendapat di depan umum, salah satu cara merubah -taghyir-, salah satu cara untuk menekan pemerintahan untuk menerima keinginan rakyat. Jika pendapat yang disampaikan adalah pendapat yang benar, perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang lebih baik, keinginan rakyat adalah keinginan yang dibenarkan syariat maka demonstrasi halal hukumnya. Tentunya dengan syarat, demonstrasi tersebut tidak melahirkan kerusakan yang lebih besar daripada maslahat yang diinginkan. Maka demonstrasi dalam hal ini masuk ke dalam hukum wasilah (sarana) -seperti kaedah yang ditetapkan para fuqaha-, hukum sarana seperti hukum tujuan.

Selama demonstrasi adalah sarana untuk mencapai maslahat yang ingin dicapai yang pensyariatannya tidak didapati melalui nash -baik Al-Qur’an maupun Hadist- secara tegas dan jelas tertulis, sedangkan keumuman lafal Al-Qur’an maupun Hadist dan Maqashidus syariah menunjukkan kepada tujuan yang dicapai dari demonstrasi maka -dapat kita katakan para orang-orang terdahulu seperti para sahabat yang mulia telah melakukan demonstrasi seperti demonstrasi di era modren seperti yang kita lihat.

Para sahabat Nabi dahulu pernah melakukan demonstrasi dan pawai mirip dengan demonstrasi yang kita lihat hari ini. Kala itu para sahabat pawai dan keluar dari rumah-rumah mereka untuk menuntut qishash -hukuman mati- pelaku pembunuhan sahabat Ustman bin Affan. Diantara para sahabat senior yang keluar melakukan pawai dan demonstrasi adalah Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidullah dan ibunda Aisyah -semoga Allah meridhai mereka semua-. Jumlah mereka ribuan, mereka keluar pawai dari Hijaz ke Iraq, mereka keluar pawai tidak untuk melakukan pertempuran -sebagaimana yang ditetapkan ulama Ahlus Sunnah terkait protes mereka-. Mereka keluar pawai dalam jumlah ribuan tersebut tidak untuk berperang dan pertempuran, mereka melakukan hal itu untuk menyampaikan pendapat dan protes mereka -ta’birul i’tiradh- atas tindakan pemerintahan kala itu yang tidak mengqishah dengan segera -menghukum mati- pelaku pembunuhan khalifah sebelumnya Ustman bin Affan. Mereka melakukan yang demikian untuk menekan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib agar mempercepat qishah kepada orang-orang yang membunuh Ustman.

Ini adalah bentuk demonstrasi para salaful ummah -generasi terdahulu, generasi pertama umat ini, generasi yang dijamin dengan keridhaanNya- dengan segala kalimat yang disampaikan dalam pawai dan protes. Kala itu, tidak didapati pengingkarannya dari Amirul Mukmin Ali bin Abi Thalib atas perbuatan mereka -ashlul amal mereka-, para ulama juga tidak mengharamkannya, para ulama juga tidak menyifati aksi mereka dengan pemberontakan, padahal demonstrasi ini bisa berujung kepada kerusakan dan gesekan.

Kesimpulannya, sekte sesat salafi salah dalam menerjemahkan arti dari demonstrasi dengan melekatkan aksi demo dan pawai damai menyatakan pendapat di depan umum dengan pemberontakan bersenjata kepada pemerintahan; dan salah dalam membawakan dalil-dalil yang harusnya untuk kasus pemberontakan -bughat- kepada aksi damai kaum muslimin. Hal ini bisa jadi karena kebodohan mereka melihat fakta dan bisa juga karena kedengkian mereka dengan aksi umat dalam jumlah besar. [ ]

Baca juga, SAUDI TEGASKAN DUKUNG KEDAULATAN AZERBAIJAN