Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 11, masalah loyalitas yang tidak dijadikan satu tingkatan saja 

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 10

Duniaekspress.com. (13/10/2020). – Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Pujian, celaan, cinta, benci, loyalitas, dan permusuhan terjadi dengan segala sesuatu yang Allah turunkan otoritas-Nya diturunkan oleh Allah. Otoritas-Nya adalah kitab-Nya.

Siapa yang beriman, ia wajib diberikan loyalitas dari kelompok mana pun. Siapa yang kafir, ia wajib dimusuhi dari kelompok mana pun. Siapa yang memiliki keimanan dan kejahatan, ia berhak mendapatkan loyalitas sesuai imannya dan juga kebencian sesuai kejahatannya. Ia tidak keluar dari iman secara keseluruhan hanya karena dosa dan maksyiat, seperti keyakinan khawarij dan mu’tazilah.

Para Nabi, shidiqin, syuhada’, dan orang-orang sholeh tidak ditempatkan dalam suatu kedudukan Bersama orang-orang fasik dalam masalah iman, agama, kecintaan, kebencian, perwalian, dan permusuhan.

Allah berfirman : “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya. Tetapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut Kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya secara adil, dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”(QS. Al-Hujurat : 9).

Allah tetap menjadikan mereka sebagai saudara meskipun ada peperangan dan Tindakan melampau batas. (Majmu’ al-fatawa, XXVIII/228-229).

Ibnu Taimiyyah menambahkan, “Karena itulah, salaf tetap memberikan loyalitas satu sama lain dengan loyalitas agama meskipun (mereka) saling perang. Mereka tidak memusuhi seperti memusuhi orang kafir. Sebagian menerima kesaksian Sebagian yang lainnya. Saling mengambil ilmu, saling mewarisi dan menikahi, dan saling bermuamalah layaknya kaum muslimin Sebagian dengan Sebagian yang lainnya. Meskipun diantara mereka terjadi peperangan, saling melaknat, dan lain sebagainya .”(Majmu al-fatawa, III/285).

Adapun Al-wala wal Baro’ di dalam hati adalah kecintaan hati kepada orang yang beriman, yang wajib sempurna, tidak menerima pengurangan. Demikian pula permusuhan hati kepada orang kafir, wajib sempurna, tidak menerima pengurangan.

Ibnu Taimiyyah mengatakan “Cinta dan benci dalam hati, mau dan enggannya, maka harus sempurna dan kuat. Tidak boleh kurang kecuali dengan berkurangnya iman. Adapun perbuatan lahir maka ini sesuai kemampuan. Kapan kemauan dan keengganan hati menjadi sempurna dan seorang hamba membuktikannya dalam perbuatan sekuat tenaganya, maka ia akan mendapatkan pahala pelaku yang sempurna.” (Syadzarat Al-Bilatain, I/354 dan Al-Amr Al-Ma’ruf karya Ibnu Taimiyyah).

 

Al-wala wal Baro’ memiliki Batasan dan tingkatan. Apabila Wala’ kurang dari Batasan yang telah ditentukan, maka ini adalah tafrith. Dan apabila melewati batas yang telah ditentukan maka itu adalah ifrath dan ghuluw yang tercela. Beberapa fenomena ghuluw dalam al-wala’ wal baro’ di kehidupan modern diantaranya adalah ghuluw dalam memaknai jama’ah, fanatik kepada jama’ah, menjadikan jama’ah sumber kebenaran, ghuluw kepada pemimpin, dan ghuluw dalam berlepas diri dari kelompok muslim.” (Ghuluw fi Ad-Dien, 194-250. Dinukil dari maktabah syamilah).

Syaikh Abu Qatadah berkata, “Tentang penjelasan macam-macam tingkatan al-wala’ wal baro’ dan pendapat ahli ilmu, maka berikut pendapat-pendapat mereka :

Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang tingkatan muwalah, bahwasannya ia bukan hanya satu tingkatan, “Cabang-cabang keimanan itu berkorelasi dengan kekuatan dan tidak berkorelasi dengan kelemahan. Apabila tashdiq (pembenaran), pengetahuan dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya Shalallahu’alaihi wassalam di dalam hati kuat, maka kebencian kepada musuh-musuh Allah pun kuat. Allah berfirman : “Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyirik itu menjadi penolong-penolong.” (QS. Al-Maidah :81).

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang dating daripada-Nya. (QS. Al-Mujadilah : 22).

Kecintaan seseorang kepada mereka (musuh-musuh Allah) adakalanya muncul karena hubungan kekerabatan atau kepentingan, maka (kencintaan) semacam ini menjadi dosa yang mengurangi keimanan. Namun tidak menyebabkannya kafir, seperti yang terjadi pada Hathib bin Abi Balta’ah, Ketika ia menulis surat kepada orang-orang musyik untuk mengabarkan beberapa rahasia Nabi shalallahu’alaihi wassalam dan Allah menurunkan ayat tentang ini, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mengambil musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali yang kalian memberikan kecintaan kepada mereka.” (Majmu Al-fatawa VII/522/523).

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 9