Duniaekspress.com, 14 Oktober 2020. Setelah Syaikh Mujahid, Abu Abdullah al-Muhaisini mengeluarkan fatwa yang membantah para pengkafir Erdogan (baca di sini ), menyebutkan bahwa presiden Erdogan adalah seorang laki-laki muslim yang bersunguh-sungguh, dan menjadi penolong terhadap problematika kaum muslimin, bahwa tidak semua keputusan di tangannya (termasuk sebagai anggota NATO), dan beliau (syaikh) menyamakan kondisi dia dengan kondisi Raja Najasy dan keadaan Nabi Yusuf AS, tak lama kemudian Abu Muhammad al-maqdisi mengeluarkan kritikan pedas kepada beliau.

Maqdisi menuduh Syaikh Muhaisini dan pengikutnya melakukan “tanfir” (baca, membuat orang kabur) dan “mencairkan” ideologi dan pemikiran khusus jamaah-jamaah. Bahwa mereka tidak mengikari orang yang mereka cintai dan pemimpin mereka; Erdogan. Mempromosikan sekulerisme yang diperhalus. Mereka tidak mengingkari pasukan Erdogan yang masih bagian dari pasukan NATO; yang dianggap sebagai pasukan umat.

Maqdisi mencibir mereka yang menganggap Erdogan sebagai “pemimpin tercinta”. Maqdisi mengklaim bahwa dukungan mereka untuk Erdogan merupakan “dilusi ideologi,”dan tidak menyangkal bahwa pemimpin Turki ini telah mempromosikan sekularisme dan bagian dari NATO. Maqdisi menunjukkan bahwa para jihadi pro-Erdogan “tidak menyangkal” bahwa tentara Turki adalah bagian dari NATO. Menurut Maqdisi, Muhaisini dan yang lainnya telah melakukan kompromi yang tidak tepat dan menyesatkan umat.

 

JAWABAN SYAIKH AL-MUHAISINI

Syaikh mujahid dengan tegas menjawab respon al-Maqdisi tersebut. Syaikh Muhaisini berkata:

“Aku menukilkan fatwa guruku Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Abdullah Ath-Tharifi yang kuyakini sebagai orang yang paling alim di zaman ini -semoga Allah membebaskannya-. Terkait pandangan guruku tentang Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan Presiden Erdogan, aku telah menyebutkan sebelumnya bahwa inilah yang aku pegang dalam fatwa.

Aku tidak akan memperpanjang pembicaraan. Aku akan biarkan Al-Maqdisi membantah fatwa ini. Yang aku herankan darinya justru sikapnya yang memperpanjang pembicaraan untuk mempertahankan pandangannya yang disebar dan perkataan-perkataannya. Maha Suci Allah, pengkafiran apa lagi ini?

Tidak aneh memang -ala kulli hal-, orang yang menyebut dirinya dengan segala keberanian, “Saya adalah Syaikhnya orang-orang bertauhid”, akan lahir sikap keras ini darinya.

Aku tidak menuliskan huruf-huruf ini untuk membantahnya, aku tidak pernah menganggapnya seorang Syaikh yang berilmu, justru aku sedang memperhatikan orang-orang yang mengagung-agungkan Al-Maqdisi, menyebutnya sebagai seorang  “Syaikh” menipu generasi yang akan lahir dari mujahidin dan selain mereka. Tidak diragukan lagi bahwa mujahid belia dan masih awam tidak mampu membedakan mana yang hanya “Ustaz Medsos” dan mana yang Syaikh Berilmu atau Alim Ulama. Apalagi para alim ulama ketika berbicara tentang mujahidin dan membela mereka seperti pembelaan Al-Maqdisi kepada mujahidin pasti akan langsung dijebloskan ke dalam penjara.

Ya. Aku tidak menganggapnya seorang ulama. Lelaki ini tidak diketahui memiliki guru-guru yang unggul. Tidak seorangpun dari kalangan ulama di dunia Islam yang memuji dia (karena keilmuannya). Tidak diketahui darinya sebuah perjalanan dalam menuntut ilmu dan mendiskusikan fatwa. Ia hanya membaca sebuah buku, lalu mengumpulkan tulisan-tulisan darinya dan mencetaknya. Siapa saja gurunya adalah buku maka kesalahannya lebih banyak daripada kebenarannya.

Maka perhatikanlah – semoga Allah menjagamu – Imam Mãlik pernah berkata, “Tidaklah aku berfatwa kecuali hingga tujuh puluh orang bersaksi kalau aku pantas berfatwa”. (Hilyatul Auliyã’, karya Abu Nuaim Al-Ashbahãní, 1/316). Apakah kamu bisa mendapatkan ada seorang ulama yang berfatwa dengan tegas kalau Al-Maqdisi memiliki kemampuan berfatwa? Justru kamu akan mendapati tujuh puluh ulama akan berfatwa kalau Al-Maqdisi tidak memiliki kemampuan untuk berfatwa! Kemudian dia akan berkata, “Saya adalah gurunya para muwahidun (orang-orang yang bertauhid)”, lalu -bersamaan dengan itu- ia menjatuhkan para ulama dan menghinakannya sesuai seleranya.

Ya. Ketika aku katakan, “Ia bukan seorang Syaikh”, sejatinya aku tidak menyerang dia. Justru aku hanya menceritakan keadaan aslinya. Siapa saja yang mengikuti sikap serampangannya dan pendapatnya yang kontradiktif pasti akan mendapati kekacauan berfikir yang besar darinya; kekacauan berfikir yang kita hidup hari ini di dunia keilmuan. Contohnya, pada suatu hari aku menyanjung guruku Al-Allamah Ad-Dudu, maka ia langsung naik darah, emosi, lalu ia mengatakan perkataan buruk tentang Syaikh Ad-Dudu, lalu dengan semangatnya ia melakukan pembenaran atas itu. Yang anehnya, kemudian -kebalikannya- ia justru mengasihi dan menyayangi si binasa Turki Al-Binali, mufti ISIS yang telah menjelaskan tauhid dengan ghuluw dan menghancurkan medan jihad di Syam.

(Sutan Serdang)

Baca lainnya, FATWA SESAT SALAFI HARAMNYA DEMONSTRASI