Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 12, berfatwa masalah pengkafiran

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 11

Duniaekspress.com. (14/10/2020). – Adapun kekafiran dalam muwalah adalah muwalah secara mutlak. Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Siapa yang berwala’ kepada yang mati dan yang hidup dari mereka (orang kafir) dengan kecintaan, pengagungan, dan kesepakatan maka ia bagian dari mereka. …Allah mencintai pemisahan yang buruk dari yang baik dan kebathilan dari kebenaran. Sehingga diketahui bahwa mereka adalah orang-orang munafiq atau ada kenifakkan pada diri mereka meskipun mereka muslimin. Apabila keberadaan orang tersebut sebagai muslim secara lahir, tidak menutup kemungkinan ia munafiq secara batin.” (Majmu’, 28/201-202).

Ibnu Qayyim mengatakan tentang pembagian Muwalah, ‘Ahlu sunnah sepakat bahwa dalam diri seseorang bisa saja memiliki wala’ kepada Allah dan permusuhan dari dua sisi yang berbeda.’(Madarijus salikin, I/281).

Ibnu Taimiyyah menganggap tasyabuh dengan orang kafir termsauk muwalah. Setelah menyebutkan hadist Ibnu Umar yang marfu’, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka,” Ibnu Taimiyyah berkata, “Kondisi paling ringan, hadist ini mengharuskan pengharaman ber-tasyabuh dengan orang kafir, meskipun eksplisitnya mengharuskan (hukum) kufur bagi orang yang bertasyabuh dengan mereka (orang-orang kafir), sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya, ‘siapa yang berwala’ kepada mereka diantara kalian maka ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah :51). Hal ini selaras dengan Riwayat yang akan kami sebutkan dari Abdullah bin Umar, bahwa ia berkata, ‘Siapa yang membangun suatu bangunan di tanah orang-orang musyirik lalu membuat perayaan hari raya mereka dan menyerupai mereka hingga meninggal dunia maka dia akan dikumpulkan Bersama mereka pada hari kiamat’ (sunan Al-Baihaqi, IX/243).

Keterangan ini mengandung arti tasyabuh mutlak. Ia (tasyabuh mutlak) mengakibatkan kekafiran, mengharuskan pengharaman bagian-bagiannya, dan kadang mengandung arti bahwa pelakunya termasuk dari mereka (orang kafir) sekedar tingkat tasyabuh-nya. Apabila (tingkat) tasyabuh-nya kufur, maksyiat atau syiar mereka, maka hukumnya seperti itu,’ (Iqtidha as-shirathal mustaqim, 237-238).

Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman Alu Syekh mengatakan, “Kalian tahu bahwa definisi muwalah yang terjadi pada masyarakat itu bermacam-macam. Ada yang menyebabkan murtad, dengan hilangnya keislaman secara keseluruhan, dan ada pula yang di bawah itu, yang masuk dalam katagori dosa besar dan perkara haram.” (Rasa’il wal masa’il an-najdiyah, III/38).

Syaikh Abu Qatadah telah menasehati para pemuda yang mengandalkan buku-buku Tauhid seperti Fathul Majid, Al-Iman karya Ibnu Taimiyyah, atau Al-Jami’ fi thalabil ‘ilmi Asya-syarif, agar tidak sembrono menjatuhkan hukum terhadap suatu realitas dan berfatwa sembarangan dalam masalah-masalah baru. Masalah ini telah meluas.

Beberapa aktifis -Semoga Allah mengampuni mereka- telah berfatwa tentang kehalalan darah, kemaluan (istri orang lain), dan beberapa masalah lain, yang seandainya perkara itu ditunjukan kepada Umar r.a. ia pasti mengumpulkan ahli Badar (untuk memutuskan hukumnya).

Ingatlah wahai saudara, gegabah dalam berfatwa dapat mengantarkan ke neraka, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam bersabda : “Orang-orang yang paling gegabah berfatwa diantara kalian adalah orang yang paling gegabah masuk neraka.” (HR. Ad-Darimi secara mursal dan dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al-Albani).

Ibnu Qayyim mengatakan tentang hadist yang mulia ini, “Ibnu Hani bertanya kepada Abu Abdullah, maksudnya Imam Ahmad, tentang orang yang dimaksud dalam hadist ‘Orang yang paling gegabah diantara kalian adalah orang yang paling gegabah masuk neraka.’ Abu Abdullah menjawab, ‘Berfatwa dengan sesuatu yang tidak ia dengar.’ Perawi berkata, ‘saya bertanya lagi kepadanya tentang orang yang berfatwa dengan fatwa yang ia mengetahuinya.’ Abu Abdullah menjawab, ‘dosanya dipikul oleh orang yang berfatwa.’

Syaikh Abu Qatadah menambahkan, “Para pemuda itu, -Semoga Allah memberikan petunjuk kepada saya dan mereka- mengira bahwa mengetahui Tauhid saja sudah cukup untuk berfatwa dalam semua perkara dan realitas baru. Mereka hanya memahami bahwa wala’ kepada Allah adalah keimanan, sedangkan wala’ kepada orang kafir adalah kekafiran. Karena itu, siapa yang berbuat sesuatu yang mengandung wala’ kepada Allah dan kaum beriman maka itulah iman. Sedangkan siapa yang berbuat sesuatu yang mengandung wala’ kepada orang kafir maka itulah kekafiran. Ini adalah kaidah yang benar. Tidak diragukan! Tidak ada yang menentangnya kecuali menentang Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, fatwa tidak cukup hanya dengan kaidah umum.

Berbicara dalam kasus-kasus baru tidak cukup hanya dengan kaidah-kaidah umum saja. Sahnun bin Sa’id rahimahullah berkata, ‘Orang yang paling gegabah berfatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya. Ia hanya menguasai satu bab ilmu saja, namun sudah mengira seluruh kebenaran ada padanya.’

Namun, berangkat dari kebodohan mereka tentang kitab-kitab fiqih, tidak membacanya, dan sedikitnya telaah dalam masalah fiqih, karena kebanyakan yang dibaca hanyalah buku-buku tauhid seperti Fathul Majid karya Abdurrahman Ali Syekh, kitab Al-Iman karya Ibnu Taimiyyah, dan buku-buku masa kini seperti kitab Al-Jami’ fi thalabil ‘ilmi asy-syarif karya Abdul Qadir bin Abdul Aziz dan semacamnya, maka mereka tidak melihat iman kecuali dalam satu tingkatan saja, meskipun mereka juga mengatakan bahwa iman bertambah dan berkurang.

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 9