DUNIAEKSPRESS.COM (16/10/2020)– Polisi anti huru hara Prancis telah menangkap aktivis muslim dari organisasi amal Muslim BarakaCity, Idriss Sihamedi setelah menggerebek rumahnya.

Menurut BarakaCity, Sihamedi dipukuli dengan kejam, diborgol dengan paksa dan dihina. Istrinya tidak diperbolehkan memakai hijab selama kejadian tersebut, dan anak-anak mereka diancam serta disuruh tetap mengangkat tangan.

“Idriss dipukuli habis-habisan oleh petugas polisi yang menempelkan kepalanya ke ubin ketika dia tidak melawan dan bekerja sama,” sebut BarakaCity dikutip dari laman 5pillarsuk, pada Kamis (15/10).

Baca juga:

PULUHAN TAHANAN PALESTINA LAKUKAN AKSI MOGOK MAKAN

DUBES PALESTINA SEBUT UEA DAN BAHRAIN LEBIH ISRAEL DARI ISRAEL

Penggerebekan itu terjadi setelah Sihamedi mendapat banyak kecaman dari pihak di Prancis. Ini termasuk Menteri Dalam Negeri, Gerald Darmanin karena oposisi vokal terhadap seorang pelaku Islamophobia, yang bekerja untuk Charlie Hebdo.

Simahedi juga disebut mencoba mengatur penentangan terhadap undang-undang separatisme baru Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Menurut para kritikus, ini menargetkan Islam dan Muslim.

Sihamedi ditangkap atas tuduhan pelecehan di Twitter setelah dia mengungkapkan informasi pribadi tentang mantan jurnalis, Zineb El Rhazoui, yang mengajukan keluhan terhadapnya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin baru-baru ini juga menuduh Idriss Sihamedi mendukung terorisme sebelum menghapus tweetnya.

Beberapa pekan lalu, Macron mengumumkan undang-undang yang melarang separatisme agama. Ini bertujuan untuk membebaskan Islam di Prancis dari pengaruh asing. Presiden Prancis menguraikan langkah-langkah baru untuk membela Republik dan nilai-nilainya serta memastikannya menghormati janjinya tentang persamaan dan emansipasi.

Langkah-langkah untuk memerangi Islamisme radikal dan terorisme termasuk memberi pejabat lokal kekuatan hukum ekstra untuk memerangi ekstremisme sambil menginvestasikan uang untuk pendidikan (terutama budaya dan peradaban Islam), dan menangani masalah sosial lainnya termasuk perumahan, serta kemiskinan.

Aktivis Prancis terkemuka, Marwan Muhammad mengatakan di Twitter bahwa Macron sedang bermain api. “Dengan menggunakan metode yang memalukan dan tidak proporsional ini, Anda menciptakan situasi Eksplosif yang tidak dapat Anda kendalikan lagi. Untuk menabur ketakutan, penghinaan dan ketidakpercayaan, apa yang Anda coba provokasi? Kerusuhan? Perang sipil?,” kata dia.

Sementara itu, Direktur CAGE, Moazzam Begg juga menuntut pembebasan Sihamedi. “Penargetan salah satu badan amal Muslim terbesar di negara itu, BarakaCity dan presidennya Idriss Sihamedi, yang merupakan pendukung vokal untuk hak-hak Muslim, mengirimkan pesan yang jelas bahwa negara sedang memburu Islam dan Muslim secara terbuka. Dengan tidak adanya tuduhan yang berarti, kami menuntut pembebasannya segera,” kata dia.

“BarakaCity dan Sihamedi menikmati dukungan spektrum luas dari komunitas Muslim di Prancis. Popularitas Macron sedang merosot dan dia sekarang menjadi calo sayap kanan untuk menunjukkan kepercayaan Islamofobiknya untuk pemilihan presiden mendatang. Macron ingin melampaui Marine Le Pen dalam retorika dan kebijakan anti-Muslimnya. Akibatnya Muslim menjadi target utama di altar ambisi politiknya,” lanjutnya. [rep]