Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 13

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 12

Duniaekspress.com. (16/10/2020). – Mereka juga memandang bahwa kekafiran hanya satu tingkatan saja dalam hukum, meskipun mereka juga mengatakan bahwa kekafiran itu banyak tingkatannya. Namun begitu, Ketika melihat suatu perbuatan wala’ kepada selain Allah, mereka langsung menyebutnya kekafiran. Kemudian mereka menghukumi pelakunya dengan murtad dan kafir, tanpa memandang tingkatan perbuatan tersebut menurut agama Allah. Buku-buku Tauhid yang berbicara tentang Wala’ wal baro’ tidak merinci persoalan ini karena rinciannya terdapat di buku-buku ahli fiqih.”

Ibnu Qayyim berkata dalam Al-Kafiyah Asy-Syafiyah dalam menjelaskan bahaya generalisasi dan meninggalkan perincian yang merupakan jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari ahli sunnah dan para pengikut mereka ;

“Hendaknya engkau merinci dan memisah-misahkan karena generalisasi dan hitungan global itu bukan penjelasan, Tindakan seperti itu telah merusak dan merendahkan akal dan pikiran setiap zaman.”

Perincian adalah hal yang menyempurnakan penjelasan kebenaran dengan cara yang benar. Seperti firman Allah : “Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat (Al-qur’an) supaya jelas jalan orang-orang yang shaleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (Al-An’am : 55). (Abu Fadhl Umar Al-Hudusyi Al-maghiribi mengatakan, “Pengetahuan tentang jalan orang-orang yang jahat tergantung pada pengetahuan tentang jalan orang-orang yang beriman, karena sesuatu itu dikenali dari kebalikannya, seperti juga pengetahuan tentang hakikat dan esensinya. Karena itulah ada ungkapan ; ‘kebalikan sesuatu menampakkan kebalikan kebalikannya, dan dengan kebalikannya itu segala sesuatu menjadi jelas.’ Al-Allamah Muhammad bin Ismail Al-Amir Al-Ashan’ani rahimahullah dalam potongan syair yang Panjang mengatakan, ‘orang yang taklid dan orang yang mencontoh itu dua hal yang kontras sesuatu itu bisa diketahui dari kebalikannya’. Ju’natul Muthayyibin.

Hadits Dzatu Anwath

Penulis kitab Al- Jami  (halaman 360) mengatakan, “Maka dengan permintaan mereka ini saja, itu adalah kesyirikan (maksudnya permintaan para sahabat r.a) dengan dalil sabda Nabi Shalallahu’alaihi wassalam, demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, ‘Buatkanlah Tuhan untuk kami’. Ini adalah syirik.”

Syaikh Ibnu Baz juga mengatakan seperti ini dalam komentar fathul Majid, dan tidak sepakat dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang berpendapat bahwa permintaan mereka ini perbuatan maksyiat, bukan kekafiran. Syaikh Ibnu Baz berkata, “Permintaan mereka bukanlah syirik ashgar.” (catatan kaki Fathul Majid 141).

Syaikh Abu qatadah mengatakan, “Perkataan ini (bin baz dan al jami) termasuk ungkapan yang paling rusak yang keluar dari ahli ilmu. Ini adalah kebodohan terhadap keadaan Shahabat r.a. bila mereka dikatakan telah meminta kepada Rasulullah  shalallahu’alaihi wassalam, agar kafir atau meminta suatu kekafiran. Kalau saja mereka memperhatikan sedikit saja, niscaya tahu bahwa jika ini kesyirikan, Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam pasti meminta mereka agar bertaubat. Kemudian, perkataan mereka ini (yang berpendapat bahwa itu kesyirikan) tidak ada contoh ulama sebelumnya yang berpendapat demikian. Bahkan perkataan ahli ilmu dalam menafsirkan hadits ini bersebrangan dengan pendapat tersebut.

Hadits Dzatu Anwath ; Abu Waqid Al-Laitsy berkata, “Dahulu kami berangkat Bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam ke Hunain. Saat itu kami belum lama meninggalkan kekafiran (baru masuk Islam). Ketika itu orang-orang musyirik memiliki sebuah pohon sidrah (bidara) yang mereka jadikan tempat beriktikaf dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dinamakan Dzatu Anwath. Ketika kami melewati pohon tersebut, kami katakan, “Wahai rasulallah, buatkanlah Dzatu Anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath”. Rasulallah shalallahu’alaihi wassalam menjawab, “Allahu Akbar! Kalian telah mengatakan, demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan’. Musa berkata, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh’. (Al-A-raaf : 138). Sungguh, kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” HR. Imam At-Tarmidzi di dalam sunan dan Shahihnya, dan Imam Ahmad di dalam Musnadnya, serta selain keduanya.

 

Kesalahan orang yang mengatakan bahwa permintaan sahabat itu menyebabkan kekafiran adalah karena memerhatikan dua kaidah yang telah disebutkan di penelitian ini.” (Penelitian yang dimaksud adalah kitab Ju’natul Muthayyibin. Mukadimah pertama adalah penjelasan makna dalil dan tingkatannya. Mukadimah kedua adalah tingkatan lafal-lafal syar’i dan masuknya kedalam tingkatan hukum. Saya telah menukil penjelasan syaikh tentang dua kaidah ini di akhir koreksinya atas masalah Dzatu Anwath).

Berikut ini kami sajikan untuk anda bagaimana cara mereka sampai kepada pemahaman yang sakit ini. Mereka berpendapat : “Dzatu Anwath ini berhala. Meminta berkah kepada berhala adalah syirik. Dengan demikian, siapa yang meminta berkah kepada Dzatu Anwath maka dia syirik. Setelah itu, mereka memuliakan Shahabat dan memberikan uzur karena hadits itu berkaitan dengan orang-orang yang baru saja meninggalkan kekafiran (baru masuk Islam).”

Ini adalah kesalahan yang nyata meskipun diucapkan oleh orang yang dihormati, berikut ini penjelasannya :

Di dalam sunan Ibnu Majah, Rasulullah  shalallahu’alaihi wassalam bersabda : “Peminum Khamer itu seperti penyembah berhala.” (sanadnya Hasan). (Abu Fadhl Umar Al-Hudusyi Al-Maghiribi mengatakan, “Hadist ini Hasan karena banyaknya jalur periwayatannya. Di keluarkan oleh Ibnu Majah di sunannya, no 3375 kitab minuman, bab peminum khamer. Hadist ini dinyatakan Hasan oleh Al-Albani dalam Shahih sunan Ibnu Majah, II/241/nomer 2720/3375).

Apakah dengan hadits ini dapat disimpulkan bahwa peminum khamer itu musyirik ? Jawabannya tidak, sebab, perserupaan itu tidak mengharuskan penyamaan yang berimplikasi hukum yang sama dengan sesuatu yang diserupai, musyabbah bih. Untuk memahami perkataan ini, silahkan lihat kaidah kedua di Al-Muqadimat.

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 11