DUNIAEKSPRESS.COM (16/10/2020)– Otoritas yang dipimpin Kurdi membebaskan ratusan pejuang ISIS (ISIL) yang dipenjara di Suriah utara sebagai bagian dari amnesti umum di wilayah yang dikendalikan oleh milisi yang didukung Amerika Serikat.

A man suspected of having collaborated with ISIL is greeted by family members upon his release from the Kurdish-run Alaya prison in the northeastern Syrian city of Qamishli [Delil Souleiman/AFP]

Amina Omar, kepala Dewan Demokratik Suriah, mengatakan kepada wartawan konferensi pers di kota Qamishli bahwa anggota ISIS yang dibebaskan “tidak memiliki darah di tangan mereka” dan semuanya telah menyesal bergabung dengan ISIS di beberapa titik.

“Mereka adalah orang-orang yang bisa berubah,” kata Omar sesaat sebelum orang-orang itu dibebaskan.

Baca juga:

FILIPINA AKAN ADILI WNI DENGAN UU TERORISME BARU

AKTIVIS MUSLIM PRANCIS DITANGKAP DAN DIPUKULI

Dewan Demokratik Suriah mengatakan 631 tahanan dibebaskan pada hari Kamis (15/10), sementara 253 lainnya akan dipotong setengah masa hukumannya.

Omar menambahkan semua yang dibebaskan adalah warga Suriah yang telah menjalani setidaknya setengah dari hukuman penjara mereka.

Pembebasan itu terjadi setelah negoisasi berulang kali dari suku-suku Arab yang mendominasi sebagian besar wilayah yang dikelola oleh Kurdi, termasuk daerah dekat perbatasan Irak tempat ISIS melakukan aksi terakhir berdarah pada 2019.

Koresponden kantor berita AFP di luar fasilitas penahanan Alaya di pinggiran Qamishli melihat puluhan tahanan meninggalkan tempat itu dan berkumpul kembali dengan kerabat yang datang menemui mereka.

“Saudara laki-laki saya telah dipenjara selama delapan bulan karena perdagangan perempuan di kamp Al-Hol,” kata Ahmad al-Hussein, mengacu pada fasilitas penahanan terbesar di wilayah tersebut.

Otoritas Kurdi saat ini mengoperasikan lebih dari dua lusin penjara yang tersebar di timur laut Suriah, menampung sekitar 10.000 pejuang ISIS.

Di antara para tahanan ada sekitar 2.000 orang asing yang negara asalnya menolak untuk memulangkan mereka, termasuk sekitar 800 orang Eropa.[al jazeera]