Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 14, Sambungan Tentang Dzatu Anwath

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 13

Duniaekspress.com. (18/10/2020). – Berikut ini saya tampilkan untuk anda perkataan para ulama masa lalu dalam memahami hadist tersebut :

Asy-Syathibi berkata, “Menjadikan pohon Dzatu Anwath (untuk menggantungkan senjata) diserupakan dengan menjadikan sesembahan selain Allah, tetapi bukan berarti itu sama. Karenanya, hal tersebut tidak mesti dianggap sama dengan keterangan yang ada selama tidak ditetapkan sama persis dari semua aspeknya.” (Al-I’tisham, II/246).

Perhatikanlah kalimat Imam Asy-Syathibi, “Tidak mesti dianggap sama dengan keterangan yang ada selama tidak ditetapkan sama persis dari semua aspeknya.” (Abu Fadhl Umar Al-Hadusyi Al-Maghribi mengatakan, “Dinaskah Al-I’tisham, II/752).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Tauhid, setelah menyebutkan hadist tadi dan menyebutkan kebaikan perkara tersebut, beliau menyebutkan kebaikan berikut, “Kesebelas, bahwa syirik ada akbar dan Asghar karena mereka tidak murtad dengan itu.”

Beliau menempatkan permintaan mereka (meminta diadakan dzatu anwath) dalam kufur Asghar, seperti yang tampak dengan jelas. Di poin ke empat belas, beliau merumuskan sebab penghalang termasuk perkara preventif (saddu dzara’i) anda bisa merujuknya untuk melihat lebih lanjut. (Abu fadhl Umar Al-Hudusyi Al-Maghribi mengatakan, “seperti yang disebutkan dalam Al-I-tisham, II/246).

Ibnu Taimiyyah berkata, “Ketika orang-orang musyirik memiliki pohon untuk menggantungkan senjata-senjata mereka dan mereka namai dzatu Anwath, Sebagian orang pun berkata, ‘Wahai Rasulallah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath seperti mereka memiliki dzatu Anwath’. Maka beliau mejawab, ‘Allahu Akbar! Kalian telah mengatakan seperti perkataan kaum Musa kepada Musa, ‘Buatkanlah kami tuhan seperti mereka memiliki tuhan-tuhan’. Itu adalah kebiasaan. Sungguh, kalian akan mengikuti, kebiasaan orang sebelum kalian.”

Ibnu Taimiyyah melanjutkan, “Nabi Shalallahu’alaihi wassalam, mengingatkan sekedar tasyabbuh (menyerupai) mereka dengan orang kafir dalam mengambil pohon yang dikelilingi untuk menggantungkan senjata mereka. Bagaimana dengan tasyabbuh dengan orang musyirik yang lebih buruk dari ada atau (yang diserupai) itu merupakan perbuatan syirik itu sendiri? Maka,siapa yang mengunjungi tempat yang disucikan untuk mengharap kebaikan darinya, sedangkan syari’at Islam tidak menyukai itu (baca ; Tidak ada anjurannya), maka itu merupakan bagian dari kemungkaran, yang Sebagian lebih keras larangannya dari pada yang lainnya, baik tempat yang disucikan itu berupa pohon, saluran air, gunung, maupun goa. Baik itu tujuannya untuk shalat, berdo’a, membaca wirid kepada Allah di tempat itu, maupun menyembelih di tempat itu. Dalam bentuk pengkhususan tempat itu dengan ibadah yang tidak ada dalam syari’at tentang pengkhususannya, baik secara definitive maupun pengkhususan secara umum.” (Iqtidha Sirathal Mustaqim, II/644).

Abu Qatadah Al-Filistini mengatakan, “Perhatikanlah kalimat dari Imam dari yang memahami hal itu dengan benar. Beliau mengetahui kerusakan orang yang tidak melihat perkara apa pun kecuali hukumnya sama. Beliau mengetahui penyimpangan orang yang menghukumi orang-orang yang suka berziarah ke kuburan dengan satu vonis saja, serta kerusakan orang yang melihat permintaan Shahabat itu tidak lain kecuali kafir berdasarkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi wassalam yang menggunakan ayat ‘Buatkanlah untuk kami tuhan seperti mereka memiliki tuhan banyak.’

Perkataan Syaikh Imam Ibnu Taimiyyah jelas para Shahabat tidak meminta hal tersebut dengan maksud kesyirikan dan kekafiran. Mereka hanya tasyabbuh dengan orang musyirik.  Bila ada pertanyaan, lantas bagaimana dengan status tasyabbuh ini? Jawabannya, ketahuilah bahwa Allah menjadikan berkah di beberapa tempat di bumi ini. Umar bin khatab r.a. telah meminta kepada Rasulullah shalallahu’aliahi wassalam agar meminta kepada Rabbnya agar mengambil maqam Ibrahim a.s. sebagai tempat sholat. Permintaan Umar di kabulkan, seperti hadist yang di riwayatkan Al-Buhkari, sabda Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dari Anas r.a. Umar berkata : “Jalan pikiranku sesuai kehendak Tuhanku dalam tiga perkara. Aku katakan  kepada Rasulullah  shalallahu’alaihi wassalam, bagaimana jika anda ambil Sebagian makam Ibrahim Sebagian tempat sholat?’ Maka Turunlah ayat, ‘Dan jadikanlah Sebagian makam Ibrahim sebagai tempat sholat.’ (QS.Al-Baqoroh : 125).

Siapa yang meminta kepada Allah untuk menjadikan suatu tempat menjadi berkah karena suatu amal, maka itu tidak berarti telah meminta dalam makna syirik. Para shahabat itu meminta Dzatu Anwath, yakni suatu tempat untuk menggantungkan senjata mereka agar mendapatkan berkah. Permintaan tersebut tidaklah menyerupai kaum musyirik seperti yang tampak dalam hadist. Demikian yang difahami oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syathibi.

InsyaAllah Bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 12