Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 15, Sambungan Tentang Dzatu Anwath

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 14

Duniaekspress.com. (21/10/2020). – Kaum musyirikin meyakini bahwa tempat tersebut (pohon dzatu anwath) bisa mendatangkan berkah tersendiri. Atau mereka telah membuat kedustaan terhadap Allah, sehingga kaum Muslimin dilarang melakukan perbuatan tersebut.

Akan tetapi, mengapa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengatakan kepada mereka, kalian telah mengatakan seperti perkataan Bani Israil, ‘Buatkanlah untuk kami tuhan seperti mereka memiliki tuhan-tuhan?’ Jawabanya, ini semua termasuk dalam masalah, menyebutkan sesuatu karena ada akibat yang akan Kembali kepadanya, atau sebagiannya, (sebagaimana disebutkan dalam mukadimah kedua), yaitu sabda Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada seseorang yang berkata kepada beliau, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’. Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam menjawab, ‘apakah engkau akan menjadikan aku sebagai tandingan Allah?’ (Hadist ini memiliki banyak matan yang berbeda-beda. Diriwayatkan oleh Ahmad di beberapa tempat di musnad-nya, Ibnu Majah di sunan-nya, Al-Bukhari di Adabu Mufrod, Ath-Thahawi di Al-Musykil, Al-Baihaqi di As-Sunan Al-Kubra dan masih banyak lagi).

Orang-orang yang bodoh akan menyimpulkan bahwa ini syirik akbar berdasarkan sabda Rasulallah shalallahu’alaihi wassalam dalam menafsirkan syirik, “Engkau membuat tandingan untuk Allah padahal Dia telah menciptakanmu.” Demikian pula firman Allah, “Apakah engkau tidak melihat orang-orang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan?”

Orang yang bodoh akan berpendapat bahwa semua orang yang mengikuti hawa nafsunya dalam amalan apa pun yang menyelisihi syari’at, seperti mencuri dan berzina, maka ia adalah musyirik karena ia telah mengambil nafsunya sebagai tuhan. Ini adalah pendapat yang keliru dan memalukan di dalam agama Allah.

Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini. Perkataan Syaikh Ibnu Baz, yang kemudian diikuti oleh penulis Al-Jami’ Thalbul ilmi asy-syarif, dan kemudian pula Abu Basyir Ath-thurthusi dalam Qowa’id fi At-Takfir (62), beliau keliru dalam memahami realitas. Saya tidak pernah melihat seorang pun ulama salaf yang mengatakan seperti mereka itu. Mereka tidaklah berhak menyelisihi pendapat ulama masa lalu dalam memahami hadist ini. (kitab ju’natu Ath-Thayibbin).

 

Kaidah penjelasan makna dalil dan tingkatannya :

Banyak anak-anak muda religius meminta dalil dalam persoalan syari’ah. Ini adalah fenomena yang sehat, baik, dan agung. Sebab, hal ini menandakan adanya semangat ilmiyah yang akan mengurangi kebiasaan taklid yang tercela, dan tidak ada keraguan bahwa setiap orang berakal pasti akan menyerukan bahwa suatu perkataan tidak bisa diterima kecuali dengan dalil. Namun Sebagian pemula keliru dalam menyikapi permasalahan ini, dari dua aspek ;

Pertama ; Tidak mengetahui tingkatan dalil dan teknis memasukan sebuah peristiwa kedalam dalil. Karena tidak menguasai ilmu ushul- dan ini adalah penyakit lama seperti diingatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih dan juga di Syarh Ashhabul hadist, Ibnu Qutaibah dalam Muqadimah Mukhtalif Al-Haditts, Ar-Ramharmazi dalam Al-Muhadits Al-Fashil baina Ar-Rawi wal Wa’I, demikian pula Abu Sulaiman Al-Khathabi dalam Ma’alim As-Sunan (I/75) dan Ibnu Jauzi dan selain mereka. Ibnu Al-Madini mengatakan, “Mendalami makna-makna hadits adalah separuh ilmu. Mengetahui parawi hadits (rijal) adalah separuh yang lainnya.” (Al-jami’ karya Al-Khathib, II/211)- anak-anak muda itu mengira bahwa semua masalah hanya memiliki satu tingkatan saja dalam penjelasan hukum syar’inya. Untuk mengetahui kekeliruan mereka, maka harus ada pengetahuan mereka tentang jenis-jenis dalil, demikian tingkatan dalil.

Makna dalil

Secara Bahasa dalil adalah sesuatu yang dipakai sebagai petunjuk. Ia bermakna (hal) yang menunjukan sesuatu dan menyingkapnya. Hal ini juga berlaku bagi penunjuk itu sendiri yang dijadikan sebagai dalil.

Menurut istilah, dalil adalah apa saja yang dapat dipergunakan untuk sampai kepada pemikiran yang benar terhadap sesuatu yang dibutuhkan yang bersifat ber-nash.

Ibnu Taimiyyah dalam Ahammiyatu ‘Ilmi Al-Ushul wal Ma’rifah Al Adillah mengatakan, “Ilmu ada dua hal : Periwayatan yang terpercaya dan atau penelitian yang terverifikasi. Selain kedua hal itu maka hanyalah igauan dan jiplakan saja.”

Ibnu Taimiyyah juga berkata, “Jenis suatu dalil tidaklah bisa disebut benar sebelum bisa membedakan manakah yang ditunjukan dan manakah yang tidak ditunjukkan. Tidak ada pula tingkatan-tingkatan dalil sebelum di dahulukan manakah yang lebih kuat (rajih) dari yang kurang kuat (marjuh) Ketika dua dalil saling bertentangan. Karena itu, tujuan ushul fiqih adalah mengetahui dalil-dalil syar’I, jenis dalil, dan tingkatan-tingkatannya.

Ada ungkapan, hal yang merusak manusia adalah separuh ahli kalam, separuh ahli fiqih, separuh ahli nahwu, separuh dokter (baca, tidak jelas keilmuannya). Ini merusak agama. Ini merusak negara. Ini merusak pembicaraan. Ini merusak badan. Apalagi bila orang seperti ini berbicara jauh dalam masalah yang belum pernah dibahas oleh ulama. Dan dalam ulasannya ia tidak menukil dari siapa pun, dan bukan persoalan yang diperselisihkan diantara ulama lalu ia memilih salah satu dari dua pendapat. Dan seterusnya.” (Al-Istighatsah Al-Kubra atau Ar-Radd ala Kubra, I/628-629).

 

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 13