DUNIAEKSPRESS.COM (22/10/2020)– Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, meminta otoritas daerah agar menugaskan polisi untuk menjaga masjid di Kota Bordeaux dan Beziers yang terletak di wilayah barat daya negara itu. Permintaan tersebut menyusul adanya ancaman atau tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim setempat.

“Tindakan (ancaman) semacam itu tidak dapat diterima di tanah Republik (Prancis),” ungkap Darmanin lewat akun Twitter-nya, Rabu (21/10/2020), dikutip Reuters.

Radio France Bleu melalui situsnya pada Selasa (20/10) malam mengabarkan, pimpinan Masjid ar-Rahma di Kota Bezier menyampaikan laporan kepada polisi menyusul sejumlah pesan kebencian di Facebook yang ditujukan kepada masjid itu. Ancaman tersebut di antaranya berupa seruan untuk membakar masjid.

Baca juga:

ERDOGAN SEBUT TERORISME ANCAMAN DUNIA ISLAM DARI DALAM

ULAMA DAN PEMIMPIN MUSLIM FILIPINA KECAM RENCANA PEMANTAUAN SEKOLAH-SEKOLAH ISLAM

Ancaman itu muncul hanya beberapa hari setelah remaja Chechnya memenggal seorang guru sejarah Prancis karena memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad di kelas di salah satu sekolah menengah di barat laut Prancis.

France Bleu menampilkan sebuah pesan Islamofobia di Facebook yang kini telah dihapus yang mendesak agar penghormatan diberikan kepada guru korban pemenggalan dengan cara membakar masjid di Beziers.

Perdana Menteri Jean Castex pada Selasa kemarin mengatakan kepada parlemen bahwa Prancis membutuhkan undang-undang yang melarang membahayakan nyawa orang lain melalui jaringan media sosial.

Insiden masjid dibakar atau menjadi sasaran vandalisme bukan hal yang asing di Eropa. Aksi Islamofobia pun makin marak di benua itu, yang sebagian di antaranya dibungkus dengan dalih kebebasan berekspresi.

Sebuah masjid di Kota Itzehoe, Schleswig-Holstein, Jerman, dibakar orang tak dikenal, Kamis (15/10/2020) pekan lalu. Takmir masjid menyatakan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Kepolisian Jerman mencatat, setidaknya ada 188 insiden Islamofobia sepanjang paruh pertama 2020. Data itu seperti diungkap oleh Kementerian Dalam Negeri Jerman pada awal Oktober ini.

Sedikitnya 15 masjid diserang dan puluhan Muslim mengalami kekerasan secara fisik ataupun verbal di jalanan maupun di tempat umum di Jerman. Sementara, sembilan orang lainnya mengalami luka akibat serangan dengan motif yang sama.

Sementara, di negara-negara Skandinavia (Denmark, Swedia, dan Norwegia), aksi pembakaran dan perobekan Alquran menjadi begitu marak dalam beberapa bulan terakhir.