Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 16, Jenis Qiyas

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 15

Duniaekspress.com. (24/10/2020). – Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan tentang apa yang di butuhkan oleh ulama dan penelaah, para Mujtahid, “Adakalanya dengan nash yang secara khusus didengarnya dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam atau selainnya. Dengan ini ia mendapatkan ilmu karena banyak sebab dalam periwayatan. Cara seperti ini banyak terjadi pada ulama hadist. Sebab, mereka mendapatkan pengetahuan dari nash-nash dan dari situ mereka memperoleh banyak pengetahuan secara pasti (hukum qoth’i). selain mereka adakalanya berbohong dengan nash-nash itu dan yakin dengan kebohongannya. Ia meninggalkan orang yang mengabaikan dan meragukannya.

Adakalanya pula dengan memahami nash-nash dan mengetahui makna-maknanya. Betapa banyak makna nash yang tidak diketahui dan belum faham secara pasti. Atau, nash itu dipahami sebaliknya -atau terasa aneh dengan nash itu- atau akalnya tidak mampu memahami sedangkan orang lain memahami nash itu- dan mengetahui secara pasti.

Adakalanya dengan sesuatu yang ilmunya telah disepakati (ijmak) yang berasal dari ijmak para shahabat dan lainnya.

Kemudian, adakalanya dengan qiyas qath’i. sebab, qiyas ada dua, yaitu qiyas qoth’I dan dhanni. Demikian pula, dalam qiyas (qath’i) yang pada makna aslinya adalah pasti (kuat), karena tidak ada perbedaan yang menyelisihi syari’at, atau ia lebih utama untuk menjadi sumber hukum dari aspek kekuatan dalil.

Adakalanya dengan tahqiq manath, penelitian terhadap alasan hukum (yang bersifat dhanni). Hal ini bergantung kepada pemahaman makna nash. Yaitu dengan mengetahui kapasitas manath (alasan hukum) yang tidak diragukan – dan selainnya yang masih meragukan. Misalnya, seperti memotong tangan seseorang dalam qishah- dan mengganti kerugiannya, bahwa ini lebih baik dan adil daripada keputusan lainnya- atau keputusan lain yang masih diragukan atau diyakini sebaliknya, dan contoh lainnya.” (Al-Istighastsah, I/68-69).

Itulah perkataan beliau dalam menjelaskan jenis dalil.

Sedangkan tingkatan dalil itu ada beberapa Ketika diteliti. Ia merupakan perkara-perkara yang disebutkan untuk dijadikan sandaran dan beberapa perkara yang disebutkan untuk dibandingkan. Serta beberapa perkara yang disebutkan karena ia tidak diketahui bahwa itu merupakan jenis kerusakan,” (Ash-Shafdiyah, Ibnu Taimiyah, I/287).

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 14