DUNIAEKSPRESS.COM (28/10/2020)– Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron memprovokasi umat Islam dan membandingkannya dengan teroris terkait pernyataan soal kartun Nabi Muhammad SAW.

Kadyrov mengecam Macron terkait pernyataannya soal guru di Prancis yang dibunuh karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada para muridnya justru memicu ekstrimisme. Saat upacara pemakaman guru bernama Samuel Paty itu, Macron mengatakan negaranya tak akan menyerah dengan kartun.

“Presiden Prancis mulai terlihat seperti teroris. Dengan mendukung provokasi, dia secara diam-diam menyerukan kepada umat Islam untuk melakukan kejahatan,” kata pria 44 tahun itu, dalam pernyataan di Telegram, seperti dikutip dari AFP, Selasa (27/10/2020).

Baca juga:

DENMARAK AKAN KRIMINALISASI DANA ASING UNTUK MASJID

Kadyrov menegaskan, sikap Macron itu menyinggung hampir dua miliar muslim seluruh dunia seraya menyebut kebijakan semacam itu dapat menimbulkan konsekuensi yang tragis.

“Jangan sampai terlambat, Macron, hentikan provokasi dan serangan Anda terhadap keimanan. Jika tidak, Anda akan tercatat dalam sejarah sebagai presiden yang telah mengambil keputusan gila. Anda bisa dengan mudah menyebut diri sebagai pemimpin dan arsitek terorisme di negara Anda,” kata Kadyrov.

Guru bahasa Prancis Samuel Paty dibunuh pada awal bulan ini oleh Abdullakh Anzorov, seorang remaja 18 tahun kelahiran Moskow, Rusia, namun berasal dri Chechnya. Dia kemudian pindah ke Prancis bersama orangtuanya.

Kadyrov menegaskan, Anzorov tidak memiliki hubungan dengan Chechnya.[inews]