Koreksi atas kitab Al-Jami’ bagian 17, Tentang Lafal Syar’iyah

Baca sebelumnya, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 16

Duniaekspress.com. (30/10/2020)

Kaidah Tingkatan-tingkatan lafal Syar’iyah dan masuknya ke dalam tingkatan hukum

Lafal-lafal Syari’yah itu memiliki banyak tingkatan. Kepastian lafal tidak selalu berarti kepastian hakikatnya secara sempurna, dan ketidakpastiannya juga tidak lantas berarti menafikan hakikatnya. Pasalnya lafal-lafal tersebut bertingkat-tingkat. Bisa saja hukum terhadap sesuatu berlaku meskipun beberapa tingkatan atau bagian lafalnya tidak ada, tetapi hakikatnya ada. Sebaliknya, bisa saja hukum terhadap sesuatu tidak ada meskipun beberapa tingkatan atau bagian lafalnya ada, tetapi hakikatnya tidak ada. Karena itu, penerapan hukum-hukum al-Qur’an secara final tidaklah selalu sama dengan lafal-lafal yang hakikatnya tidak bisa dipastikan.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kesamaan dalam nama tidak mesti berarti sama dalam makna.” (Fathul Bari, Syarh hadits Al-Madan Jabbar III/265).

Syaikh Abu Qatadah berkata, “Perhatikanlah baik-baik persoalan ini. Sebab, anda akan memerlukannya dalam Sebagian besar permasalahan ilmu. Dan tidak ada yang memerhatikan urgensi kata-kata ini kecuali orang yang mendalami ilmu dan memerhatikannya..”

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “siapa pun yang membaca buku kami hendaknya mengetahui bahwa manfaat buku-buku ini bukan hanya dalam satu ilmu saja, melainkan dalam semua ilmu. Manfaatnya pada kitab Allah ta’ala dan hadits-hadits Nabi-Nya shalallahu’alaihi wassalam dalam berfatwa tentang halal dan haram, wajib dan mubah merupakan manfaat yang terbesar. Inti dari semua itu adalah pada pemahaman terhadap nama-nama yang disebutkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu’alaihi wassalam dan makna-makna yang dikandungnya, yang padanya terletak hukum-hukum dan nama-nama yang dikeluarkan darinya. Ia dibagi di bawah hukum-hukum yang sesuai dengan itu lafal-lafal yang berbeda-beda ungkapannya dan makna-maknanya sesuai.

Orang yang berilmu hendaknya mengetahui bahwa siapa yang tidak paham ketentuan ini maka ia jauh dari pemahaman tentang Robbnya dan tentang Nabi shalallahu’alaihi wassalam. Ia tidak boleh berfatwa untuk menengahi dua orang (berseteru) karena ia bodoh tentang batas-batas kalam dan kaitanya antara satu dengan yang lainnya, mendahulukan pendahuluan-pendahuluan, menghasilkan produk-produk yang didasari bukti dan dipercaya selamanya dan berbeda dari pendahulu-pendahulu yang kadang dipercaya dan kadang dusta, dan tidak semestinya dipakai dasar beribadah.” (Rasail Ibnu Hazm, Taqrib Haddil Manthiq, 102).

InsyaAllah bersambung …

 

Baca juga, KOREKSI ATAS KITAB AL-JAMI’ bagian 15